Jakarta – Humas BRIN. Hari Kartini diperingati pada tanggal 21 April setiap tahunnya. Perjuangan Raden Ajeng Kartini memberikan kesempatan kepada perempuan Indonesia untuk dapat berperan aktif dalam setiap sendi kehidupan, salah satunya di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).  

Periset Ahli Utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eniya Listiani Dewi menilai, perempuan perlu lebih didorong untuk berkarir di bidang STEM, dengan mendapat dukungan dari lingkungan dan keluarga.

“Perlu adanya pemahaman pihak laki-laki untuk men-support wanita, kami istilahkan male-champion, yang dengan pemikiran terbuka, sehingga membuka jalan bagi perempuan untuk dapat berkarir di berbagai bidang,” ungkap Eniya, dalam wawancara dengan salah satu TV digital, di Jakarta, Selasa (19/04).

Dirinya menyayangkan masih sedikit perempuan yang berkarir di bidang STEM. Diketahui, 55 persen lulusan sarjana di seluruh Indonesia adalah perempuan, namun yang terjun ke dunia kerja hanya 38 persen saja.

“Kalau khusus di BRIN, jumlah pegawai perempuan 35 persen, yang berkarir di STEM sendiri mungkin sekitar 25 persen,” tutur Eniya.

Karena itu, Eniya mendorong perempuan dapat diberikan kesempatan sebagai pemegang keputusan, khususnya dalam kebijakan riset dan inovasi, serta dorongan pendidikan melalui pemberian beasiswa.

“Kemudian di dalam kelompok–kelompok riset di BRIN saat ini, kita perlu dorong perempuan menjadi leader dari kelompok riset itu, sehingga bisa menimbulkan suatu role model,” tambahnya.

Periset yang bergelut dalam penelitian sel bahan bakar (fuel cell) ini berbagi tips perlunya fokus dan konsistensi dalam menekuni suatu bidang. Dirinya mengaku tertarik dengan bidang STEM sejak kecil. Dorongan dari keluarga menjadi faktor utama, terutama sosok ibu yang berpesan bahwa perempuan harus mandiri.

“Gaung bahwa Indonesia punya banyak potensi energi baru terbarukan di tahun 80-an ketika saya kecil, menurut saya itu menarik. Jadi memang ada passion di bidang itu, serta nasihat dari kolega bahwa kita harus profesional yang juga mendorong saya konsisten di bidang energi,” tuturnya.

Peraih Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) tahun 2018 ini bergelut dalam penelitian teknologi fuel cell dengan konsep mirip baterai (energy storage). Teknologi ini mengubah gas hidrogen dan oksigen dari udara secara elektrokimia menjadi listrik. Selain tanpa proses pembakaran, limbah yang dihasilkan pun berupa air yang bahkan dapat langsung diminum, sehingga teknologi ini dinilai ramah lingkungan.

Pemerintah telah mematok target penggunaan energi baru terbarukan sebesar 23 persen di 2025. Namun hingga 2021, target tersebut baru tercapai 13,7 persen. Sementara itu, Indonesia menargetkan capaian karbon netral (Net Zero Emission/ NZE) di 2060. Menurut Eniya, konsep pemakaian teknologi hidrogen adalah jawaban penurunan emisi.

“Dalam skenario NZE ini, diketahui pemanfaatan hidrogen, juga menggunakan fuel cell dan elektrolisa, adalah sebesar 328 megawatt pada 2031, 5 tahun berikutnya bertambah menjadi 332 megawatt di 2036. Kemudian naik 27 kali lipat sebesar 9 gigawatt di 2041, dan naik kembali 6 kali lipat sebanyak 52 gigawatt di 2051. Kita harapkan hidrogen biru dan hijau dapat diproduksi di indonesia, ” pungkasnya (tnt).

Sebarkan