Jakarta – Humas BRIN. Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terus berkomitmen untuk memperkuat proteksi dan keselamatan radiasi global. Komitmen ini antara lain diwujudkan melalui partisipasi aktif BRIN dalam kepakaran dan kontribusi data riset atau informasi saintifik terkait dampak radiasi, yang diperlukan oleh Komite Saintifik PBB untuk Efek Radiasi Atomik (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation/UNSCEAR) dalam penyusunan berbagai kajian.

Peneliti Ahli Muda, Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, selaku Perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR, Nur Rahmah Hidayati, mengatakan, sidang tahunan UNSCEAR ke-69, yang digelar pada 9 hingga 13 Mei 2022, di Gedung PBB, Wina, Austria, berfokus pada pembahasan beberapa topik terkait dampak radiasi, yang menjadi target program kerja tahun 2020 – 2024.

“Indonesia juga terlibat dalam penyusunan dokumen-dokumen saintifik UNSCEAR yang dirangkum dalam publikasi ‘Effects of Ionizing Radiation’, sebagai laporan hasil kerja UNSCEAR kepada Sidang Umum PBB,” jelas Nur Rahmah, saat dihubungi Humas BRIN melalui pesan singkat, Rabu (11/05).

Publikasi yang diterbitkan secara periodik ini, jelas Nur Rahmah, menyampaikan data ilmiah terkait dampak radiasi atomik, yang menjadi referensi penting bagi upaya peningkatan standar proteksi radiasi global.

“Publikasi ini juga menjadi referensi utama International Commission on Radiological Protection (ICRP), yaitu organisasi ilmiah internasional yang bekerja dalam bidang proteksi dan keselamatan radiasi, untuk menyusun rekomendasi terkait pelaksanaan proteksi dan keselamatan radiasi, dalam aplikasi radiasi di berbagai bidang kehidupan manusia,” tambahnya.

Lebih rinci, Nur Rahmah membeberkan, pada sidang UNSCEAR tahun ini, Indonesia berkontribusi dalam mengirimkan data-data public radiation exposure melalui UNSCEAR Global Survey, memberikan masukan terkait dokumen Second Primary Cancer After Radiotherapy, dan memberikan tambahan dokumen atau referensi dari peneliti Indonesia untuk dipertimbangkan dalam dokumen terkait paparan radiasi yang diterima masyarakat dan pekerja dari berbagai jenis sumber radiasi di lingkungan.

Kontribusi Indonesia dalam kepakaran dan data riset terkait dampak radiasi, menurut Nur Rahmah, sangat penting dalam memperkuat referensi proteksi radiasi global. Keanggotaan ini juga memberikan manfaat bagi Indonesia dalam meningkatkan kualitas standar proteksi dan keselamatan radiasi nasional, berdasarkan pertukaran informasi dan kepakaran bersama negara anggota UNSCEAR lainnya.

“Keanggotaan ini perlu terus dipertahankan, diantaranya melalui partisipasi aktif dan keterlibatan pakar Indonesia dalam berbagai kegiatan dan program yang dilakukan oleh UNSCEAR,” pungkasnya.

Pembahasan dampak radiasi pada sidang tahunan UNSCEAR kali ini mencakup 3 topik, yaitu paparan radiasi yang diterima masyarakat dan pekerja dari berbagai jenis sumber radiasi di lingkungan dan tempat kerja, baik di industri, kesehatan, dan lainnya; paparan akibat kecelakaan radiasi; dan paparan akibat pemakaian radiasi untuk keperluan medis; dan data lainnya yang spesifik.

Dalam plenary session pembukaan sidang, Sekretaris UNSCEAR, Borislava Batandjieva-Metcalf, menyampaikan, tujuan sidang tahunan tersebut membahas resolusi Sidang Umum PBB A/RES/76/75, dengan diskusi teknis Komite dalam 3 topik utama terkait dampak radiasi, pembahasan status dokumen saintifik Komite, serta pembahasan program kerja Komite periode 2025-2029. Sidang ini ditargetkan menghasilkan dokumen laporan untuk disampaikan pada Sidang Umum PBB pada akhir tahun 2022.

Pertemuan ini dipimpin oleh Jin Cheng, delegasi dari Kanada, selaku Chair, dan dihadiri oleh delegasi negara anggota yang terdiri dari National Representative dan penasihat teknis, Kelompok Ahli, dan perwakilan 11 organisasi internasional, yaitu UNEP, IAEA, IARC, ILO, WHO, EU, ICRP, ICRU, NEA, IMO, dan CTBTO.

UNSCEAR adalah organisasi internasional yang dibentuk oleh Sidang Umum PBB, saat pelaksanaan sidang ke-10, pada tanggal 3 Desember 1955. Indonesia menjadi negara anggota UNSCEAR sejak tahun 1973, setelah keanggotaannya disetujui dalam sidang umum PBB, melalui Resolusi  Sidang Umum PBB no 3154 C (XXVIII), pada tanggal 14 Desember 1973. Hingga tahun 2022, UNSCEAR beranggotakan 31 negara anggota (tnt).

Sebarkan