Jakarta – Humas BRIN. Direktorat Perumusan Kebijakan Riset dan Inovasi (PKRTI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kerjasama dengan Science and Technology Policy Institute (STEPI)-Korea melalui Program K-Innovation Partnership Program. Kerjasama tersebut dalam rangka memperkuat tata kelola dan kebijakan riset BRIN sebagai lembaga yang baru terbentuk sesuai dengan Perpres No 78/2021.

“BRIN menghadapi babak baru dan perlu menata tata kelola organisasi yang baru. Transformasi ini mungkin tidak mudah, tetapi kami berharap ini untuk kebaikan yang lebih besar,” ungkap Sekretaris Utama BRIN Nur Tri Aries Suestiningtyas saat memberikan sambutan dalam Kick Off Meeting of The 2022 K-Innovation Partnership Program, Kamis (7/4).

Dijelaskan Nur, program kerjasama K-Innovation Partnership ini meliputi tiga fokus area yaitu Peran BRIN dalam Green Growth Policy; Mengembangkan Sumber Daya Manusia Iptek di Indonesia, dan Memperbaiki Manajemen BRIN untuk Riset & Inovasi yang Berorientasi Misi.

“Saya berharap dalam kerjasama bersama ini akan lebih banyak menghasilkan rekomendasi kebijakan di bidang Iptek-Inovasi untuk Indonesia di masa depan. Serta ditindaklanjuti dengan peta jalan penerapan Tata Kelola Organisasi Riset dan Inovasi di Indonesia, sehingga kinerja BRIN dapat ditingkatkan dan ekonomi serta daya saing negara kita dapat ditingkatkan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Nur menyebutkan proyek penelitian yang tidak terkoordinasi dan pengeluaran anggaran yang tidak efisien untuk penelitian telah menjadi permasalahan lama di Indonesia. Sejumlah besar anggaran telah dihabiskan untuk berbagai proyek penelitian, tetapi hasilnya belum terlihat perkembangan yang signifikan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

“Untuk mengatasi masalah ini, kami merasa perlu untuk meninjau dan mengatur tata kelola kebijakan riset dan inovasi Indonesia, termasuk mekanisme koordinasi, kerangka kelembagaan, dan sistem keuangan dan investasi litbang,” sebutnya.

Dijelaskan Nur, kemitraan antara BRIN dan STEPI-Korea telah berjalan sejak tahun 2014 melalui kerjasama dengan LIPI dan juga Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Nur berharap hubungan yang baik ini, dapat menjadi kunci dalam melewati periode penting transformasi kelembagaan BRIN di Indonesia.

Plt Direktur Perumusan Kebijakan Riset Teknologi dan Inovasi BRIN Dudi Hidayat mengatakan struktur baru BRIN mulai diimplementasikan per 1 September 2021. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan implementasi pengintegrasian lembaga riset dan teknologi di Indonesia.

Menurut Dudi, BRIN diamanatkan untuk mengatasi critical mass sumber daya penelitian yang sangat rendah di Indonesia. Tak hanya itu, kehadirian BRIN juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan kompetensi penelitian, serta menarik talenta muda dalam penelitian untuk berkontribusi di Indonesia.

“BRIN diharapkan menjadi solusi untuk critical mass yang rendah, dengan menciptakan hub kolaborasi bagi pemangku kepentingan baik lokal maupun global,” ungkapnya.

BRIN juga mendukung keterlibatan dan kolaborasi global, mempercepat transfer pengetahuan dan keterampilan melalui kolaborasi penelitian. Hal ini memungkinkan pemerintah sebagai fasilitator dan enabler bagi pelaku usaha lokal untuk melakukan pengembangan produk berbasis R&D dengan investasi yang sangat rendah.

Maka dari itu, BRIN membangun open platform baik SDM, Anggaran, Infrastruktur, dan Jaringan yang dapat diakses baik untuk insititusi swasta, maupun perguruan tinggi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan ekosistem riset dan inovasi di Indonesia.

Kegiatan tersebut diikuti pula oleh Chief Director of Division of Global Innovation Strategy Research STEPI Dr Hwanil Park, Project Manager Research Fellow STEPI Dr Jong-seon Kim. Pertemuan itu dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi dari pakar dan akademisi dari BRIN dan STEPI-Korea. (jml)

Sebarkan