Jakarta, Humas BRIN – Perubahan apapun yang terjadi terkadang dipandang menjadi sesuatu yang sangat sulit dan tidak nyaman, tidak terkecuali dengan perubahan yang terjadi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang saat ini sedang mengintegrasikan seluruh lembaga penelitian di Indonesia. Hal ini disampaikan salah satu anggota Dewan Pengarah BRIN, Marsudi Wahyu Kisworo pada tayangan perdana BRIN Insight Every Friday (BRIEF), Jumat (05/11).

Menurutnya tidak ada proses perubahan di dunia ini yang nyaman, apapun bentuknya. “Apapun perubahan itu perlu energi, perlu kekuatan, karena tidak ada perubahan pada sistem apapun secara sukarela, maka sebagai manusia kita harus berubah bukan karena dipaksa namun karena diri sendiri,” kata Wahyu.

Ia menambahkan bahwa perubahan itu menjadi salah satu ciri hidupnya sebuah sistem, dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan adalah sesuatu yang harus dihadapi, dengan perubahan akan terjadi sebuah peningkatan atau pertumbuhan, serta perubahan selalu mendatangkan ujian atau tantangan.

Guru Besar Bidang Informasi Teknologi (IT) itu menjelaskan soal etos kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) BRIN yang saat ini sedang menjalani perubahan. Wahyu mengatakan bahwa ASN harus BerAKHLAK. “Sesuai dengan anjuran pemerintah bahwa setiap ASN harus mempunyai etos kerja BerAKHLAK yakni amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pelayanan,” tambahnya.

Dengan menerapkan etos kerja BerAKHLAK ini, setiap ASN akan mampu menjalani perubahan dengan nyaman. Harapannya dengan menerapkan etos kerja BerAKHLAK, para ASN dapat memberikan layanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Wahyu menerangkan, terkait etos kerja amanah, setiap ASN harus memegang teguh amanah yang diberikan pemerintah atau organisasi. Amanah, baik berupa jabatan atau pangkat harus dijalankan dengan ikhlas demi kemajuan organisasi secara khusus dan negara pada umumnya.

Sebagai ASN juga harus selalu meningkatkan kompetensinya untuk menunjang kinerja organisasi. “Dalam kompetensi ada hard skill dan soft skill, berkompeten ditandai dengan kemampuan communication skill, organization skill, leadership, logic, effort, group skill, dan ethics,” lanjutnya.

Etos kerja ASN lainnya adalah harmonis, menurut Wahyu, setiap ASN harus mampu menerima perbedaan yang terjadi, karena dengan adanya perbedaan itulah organisasi menjadi lebih dinamis. Kondisi harmonis di sebuah organisasi akan dapat dirasakan oleh setiap ASN apabila semua elemen mampu menjadikan setiap perbedaan sebagai pemicu untuk memajukan organisasi.

Seorang ASN juga harus memiliki etos kerja yang loyal kepada organisasinya. Wahyu mengajak, setiap ASN harus mau berkorban demi perbaikan kinerja organisasi.

Selain itu, lanjut Wahyu, setiap ASN harus mampu beradaptasi dengan adanya perubahan yang terjadi di dalam organisasinya. Ketika organisasi berubah, maka yang harus dilakukan adalah setiap elemen harus mengubah mindset atau mengubah pola pikir dalam menghadapi setiap perubahan.

“Ketika mindset kita sudah memahami esensi dari sebuah perubahan, maka kita akan menikmati setiap perubahan yang terjadi,” jelasnya.

Agar etos kerja BerAKHLAK ini berjalan dengan baik, maka setiap ASN harus mempunyai kemampuan kolaboratif. Dikatakan Wahyu, agar setiap ASN memiliki etos kerja kolaboratif, maka sejak dini harus bersedia untuk bersinergi dengan yang lain untuk mendapatkan solusi dari setiap permasalahan di organisasi. (Pur)