Jakarta – Direktorat Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi (PKRTI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfasilitasi upaya advokasi dan diseminasi dari setiap tim penyusun policy brief untuk lebih menyebarluaskan gagasan-gagasan ilmiah agar dapat dipertimbangkan sebagai masukan di dalam suatu pengambilan kebijakan. Untuk itu, Direktorat PKRTI-BRIN menyelenggarakan kegiatan advokasi dan diseminasi policy brief secara virtual dengan tema “Pengambilan Kebijakan Cerdas Berbasis Bukti Berkualitas”, Kamis (23/12/2021).

Plt Direktur Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi BRIN, Dudi Hidayat menyebutkan policy brief merupakan bentuk publikasi efektif guna mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian
kepada stakeholders atau para pemangku kepentingan di dalam proses pembuatan kebijakan publik. Masukan dari panelis dan juga publik perlu menjadi perhatian bagi setiap tim penyusun policy brief untuk perbaikan dan kesesuaian atas rekomendasi kebijakan yang disampaikan di dalam policy brief tersebut.

“Policy brief ini sebagai media komunikasi bagi para akademisi baik yang berprofesi sebagai dosen, peneliti, maupun analis kebijakan untuk menginformasikan berbagai hasil penelitian atau kajian ilmiah yang menurut pandangan mereka dinilai sebagai penyedia solusi untuk masalah-masalah publik yang ada,” jelas Dudi.

Menurutnya, persoalan-persoalan publik yang ada tidak hanya bisa diselesaikan secara politis saja di antara stakeholders ataupun pihak-pihak lain yang terlibat. Namun juga dapat diselesaikan lebih baik secara ilmiah atau dengan mengedepankan suatu bukti. Karena itu proses pembuatan kebijakan yang melalui tahapan meminta pertimbangan akademisi dan melalui policy brief disebut juga sebagai pembuatan kebijakan berbasis bukti.

Dalam kegiatan ini sendiri, terdapat 7 policy brief yang disampaikan kepada para steakholder diantaranya, BRIN, KLHK, KemenESDM, LPDP dan lainnya yang hadir melalui virtual zoom. Adapun 7 policy brief yang disampaikan mengenai 1) Pojok UMKM: Mempersiapkan pelaku usaha yang inovatif dan berdaya saing; 2) Strategi penguatan tata kelola dan jejaring alih teknologi entitas litbangjirap; 3) Membangun Kolaborasi dan Sinergi Antar Pelaku Iptek dan Inovasi Dalam Rangka Percepatan Pengembangan Vaksin Merah Putih; 4) Urgensi Penyusunan Agenda Prioritas Riset di Indonesia yang berkelanjutan; 5) Metode life cycle assesment untuk pemilihan biomassa sebagai pengganti batu bara pada proses co-firing; 6) Mengubah peta jalan produksi bahan bakar bioetanol berbasis tebu di Indonesia; dan 7) Prioritas Riset Bioenergi di Indonesia untuk mendukung 23% EBT.

Plt Pemanfaatan Riset dan Inovasi, Mego Pinandito yang juga hadir secara khusus untuk menyampaikan tanggapan terkait dengan pengembangan vaksin merah putih. Dia mengapresiasi atas rekomendasi yang disampaikan oleh tim penyusun rekomendasi. “Ini masukan luar biasa dari tim perumusan kebijakan. Mudah mudahan apa yang menjadi rekomendasi, ke depan kita implementasikan tidak hanya untuk BRIN tapi Kementerian/Lembaga lainnya juga steakholder. Kami juga harapkan rekomendasi bersifat nasional, sehingga sifatnya lebih luas,” terangnya.

Dalam hal ini, BRIN akan mendukung riset, dan pengembangannya juga perlu dukungan dari industri. Mego juga berharap ke depan vaksin merah putih diharapkan bisa menjadi komplementer jenis vaksin yang sudah ada sebelumnya.

Menurut Mego, dengan adanya pandemi covid-19, periset bersama dengan tim dan infrastruktur menjadi tahu bahwa belum ada yang pernah melakukan riset vaksin dari nol. Sehingga kita perlu membenahi berbagai hal mulai dari Sumber Daya Manusia, Infrastruktur dan juga lainnya. Ini menjadi tantangan kita dalam berkolaborasi.

Dikatakan Mego, BRIN pada tahun ini juga memperkenalkan Program baru Pusat Kolaborasi Riset, ini juga sudah dijalankan sebelumnya melalui pusat unggulan iptek. “Kami ingin hasil yang sudah diperoleh tim juga merekomendasikan apa yang harus dilakukan ke depan terkait dengan vaksin dan juga regulasi yang diperlukan. Sehingga rekomendasi ini juga bisa disampaikan ke kementerian/lembaga terkait, tidak hanya untuk BRIN,” harapnya. (jml)

Sebarkan