Yogyakarta – Humas BRIN. Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (Poltek Nuklir – BRIN) yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (STTN – BATAN) baru diresmikan pada Oktober 2021. Perubahan status tersebut membawa tanggung jawab besar bagi Poltek Nuklir untuk mencetak SDM nuklir Indonesia yang handal. Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Direktur Poltek Nuklir, Muhtadan dalam forum sosialisasi Poltek Nuklir bagi guru SMA/SMK se-wilayah Yogyakarta pada Sabtu, (11/12).

Lebih lanjut Muhtadan menjelaskan, dengan adanya dinamika ini, Poltek Nuklir memiliki beberapa manfaat dan kelebihan. “Selain menjadi bagian dari lembaga riset terbesar di Indonesia, Poltek Nuklir dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki BRIN, berkolaborasi dengan berbagai SDM, dan periset di BRIN,” terangnya. Ia menambahkan, ke depan BRIN akan memberikan kesempatan studi lanjut yang lebih besar bagi mahasiswa Poltek Nuklir serta dapat bergabung dengan periset BRIN melalui berbagai skema. Kesempatan tersebut juga terbuka bagi Perguruan Tinggi lain.

Sementara itu Plt. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Edy Giri Rachman Putra menyampaikan, pemerintah Indonesia mencanangkan tahun 2045 menuju Indonesia emas, Indonesia maju. “Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dirumuskan beberapa kebijakan yang terkait dengan penguatan pembangunan Indonesia ke depan, salah satunya adalah penguatan SDM,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kebijakan Presiden Joko Widodo adalah pemetaan talenta-talenta sejak dini di bidang seni, budaya, olah raga, termasuk talenta periset. “BRIN memiliki tanggung jawab menjaring talenta-talenta muda periset secara nasional,” tegasnya.

Edy Giri juga menekankan bahwa BRIN memiliki beberapa kebijakan untuk Poltek Nuklir. “Sekolah vokasi ini diharapkan menjadi pusat pendidikan teknologi nuklir di Indonesia, peningkatan status akreditasi B menjadi A, penambahan kapasitas menjadi 1000 mahasiswa, menambah jumlah prodi mengikuti perubahan/kebutuhan zaman, menyelenggarakan pendidikan S2 dan S3 terapan, serta penguatan global engagement dengan pendidikan tinggi dan institusi riset sejenis di Luar Negeri,” paparnya.

“BRIN membebaskan biaya kuliah untuk seluruh mahasiswa Poltek Nuklir mulai tahun 2022, sehingga diharapkan mahasiswa akan lebih terlibat diseluruh kegiatan penyelenggaraan ketenaganukliran di kampus nuklir Yogyakarta dan kampus lainnya, termasuk kewajiban menjadi Research Assistant dalam kegiatan riset dan inovasi di BRIN maupun mitra BRIN,” jelas Edy.

Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Poltek Nuklir Adi Abimanyu menyebutkan, hingga saat ini Poltek Nuklir telah menghasilkan 1.300 orang alumni, 53% lulusan tersebut terserap di bidang industri. “Melalui skema Nuclear Teaching Laboratory & Industry 2020-2024, Poltek Nuklir sudah menyiapkan revitalisasi kurikulum dalam delapan area yaitu keselamatan radiasi dan nuklir, reaktor (Kartini), pengolahan mineral radioaktif, irradiator/akselerator, teknologi analisis nuklir, instrumentasi nuklir medis, dan non-destructive testing,” ungkap Abim. Ia berharap, ke depan lulusan Poltek Nuklir memiliki keahlian bukan hanya sebagai operator, tetapi mampu menjadi technologist, dan inspektor.

Ajang penjaringan talenta periset nuklir ini disambut baik oleh para pendidik. Lasmi, Guru SMA N 1 Wonosari memberi kesempatan pada Poltek Nuklir untuk dapat memberikan sosialisasi program pendidikan ketenaganukliran langsung ke sekolahnya. (Tek/Ed: Mn)

Sebarkan