Yogyakarta – Humas BRIN. Loka Pemantauan Tapak dan Lingkungan (LPTL) – Loka Jepara, yang terletak di Desa Ujung Watu, Kabupaten Jepara, merupakan lokasi yang berfungsi sebagai penunjang kegiatan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir).

“Loka Jepara masih kami manfaatkan sebagai tempat percobaan aplikasi iptek nuklir bidang pemuliaan tanaman, laboratorium lingkungan berbasis nuklir, juga tempat penangkaran benih padi berbasis nuklir,” kata Direktur Poltek Nuklir, Zainal Arief, saat meninjau LPTL – Loka Jepara, Selasa (15/3) lalu.

Dalam menunjang kegiatan Poltek Nuklir, lokasi ini digunakan sebagai laboratorium lingkungan, maupun Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM). Hal ini untuk mewujudkan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi.

Lebih lanjut, Zainal berharap, Poltek Nuklir dapat memanfaatkan Loka Jepara ini semaksimal mungkin untuk kegiatan mahasiswa tiga program studi, baik secara akademik, maupun non akademik.

“Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan, baik sebagai sarana pendidikan, pelatihan, penelitian, maupun diseminasi iptek nuklir,” ungkapnya.

Kepala PPPM Poltek Nuklir, Ismail menambahkan, selama ini, hasil panen penangkaran padi di Loka Jepara sebagian dimanfaatkan sebagai benih dalam pelaksanaan kerja sama kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Sebagian lainnya untuk stok benih di penanaman periode selanjutnya.

“Sebagai contoh, hasil panen tahun sebelumnya sebagian digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat tani di Desa Pakis, Kendal, yang telah panen raya pada bulan Oktober 2021 lalu,” tambahnya.

Sebagai laboratorium lingkungan berbasis nuklir, tutur Ismail, Poltek Nuklir telah melakukan uji coba penanaman padi hasil riset BRIN. Beberapa diantaranya yaitu varietas Mugibat, Mustajab, Bestari, Mira-1 dan Sidenuk.

Pegawai BRIN di Loka Jepara, Dwijo Murdyanto, menyampaikan, varietas-varietas padi tersebut ditanam pada area seluas 1.12 hektar. Dwijo merinci masing-masing luasan area, yaitu padi Mugibat 0.25 hektar, Mustajab 0.25 hektar, Bestari 0.25 hektar, Mira-1 0.25 hektar, serta Sidenuk 0.12 hektar. Semuanya ditanam pada bulan Desember 2021.

“Harapannya, panen kali ini bisa mencapai hasil 5 hingga 6 ton,” ungkapnya optimis.

Sementara Pegawai BRIN di Loka Jepara lainnya, Sarmin Priyo Wardoyo, menyampaikan, bahwa di Jepara ada kearifan lokal yang disebut dengan Embun Upas, dimana masyarakat enggan menanam padi pada bulan Mei dan Desember.

“Kami mencoba menanam padi hasil riset BRIN ini di bulan tersebut, ternyata hasilnya bagus, banyak warga bertanya dan ingin mencoba,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sarmin menjelaskan masing-masing varietas padi yang ditanam. Mugibat, kataya, adalah singkatan dari Mutasi Unggul Iradiasi BATAN.

“Varietas ini merupakan hasil mutasi dari varietas Cimelati yang dilepas BP Padi Departemen Pertanian pada tahun 2003,” tambah Sarmin.

Menurutnya, Mugibat mempunyai rasa pulen, tahan wereng, potong leher dan hawar daun.

Sedangkan varietas Mustajab, lanjut Sarmin, merupakan hasil pemuliaan tanaman dari padi varietas lokal, yaitu varietas Jembar dengan menggunakan teknik mutasi radiasi.

Teknik mutasi radiasi, jelas Sarmin, dilakukan dengan penyinaran radiasi gamma cobalt 60 sebesar 0,2 kilo Grey, untuk memperbaiki sifat padi menjadi varietas yang diinginkan. Kelebihan padi Mustajab, yaitu batang kokoh, daun bendera tegak, tanamannya kompak, mutu beras dan tahan terhadap beberapa hama dan penyakit.

Sementara itu, Varietas padi Bestari, menurut Sarmin, bersifat bandel karena tahan terhadap hama wereng dan penyakit hawar daun. “Sementara induknya sangat peka dengan masa tanam 115 hingga 120 hari,” tegasnya.


Kemudian varietas padi Inpari Sidenuk, dikembangkan dari varian Diah Suci, yang diradiasi sinar gamma dengan dosis 0,2 kGy dari cobalt 60, yang dilepas pada tahun 2011.

“Umurnya yang pendek hanya 103 hari, produktivitasnya yang tinggi, serta cukup tahan hama dan penyakit merupakan keunggulan dari padi ini,” jelas Sarmin.

Menurutnya, saat dimasak nasinya menjadi pulen, rasanya enak, menjadikan varian ini banyak digemari masyarakat.

Lain halnya dengan padi Mira 1 yang dilepas tahun 2006. Padi ini dikembangkan dari varian Cisantana

yang juga diradiasi gamma dari Co-60 dengan dosis 0,2 kGy. Umur tanamnya tidak jauh berbeda dari padi Inpari Sidenuk yaitu 110 hari.

“Padi ini memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap hama, sehingga di pasaran harga benihnya sedikit lebih mahal dibanding Inpari Sidenuk,” terang Sarmin. (tek, mn/ ed: tnt)

Sebarkan