(Jakarta, 28/10/2021). Indonesia adalah negara agraria kepulauan dengan penduduk yang besar dan kebutuhan pangan yang juga besar. Faktanya, produk pangan mempunyai sifat mudah busuk dan cepat rusak, sehingga banyak terbuang sebelum sampai pada konsumen atau negara tujuan ekspor. Hal ini disebabkan infrastruktur dan transportasi antar pulau yang belum maju.

“Iradiator gamma dapat menjadi solusi dalam sterilisasi dan pengawetan makanan, obat-obatan, serta produk medis,” ungkap Plt. Kepala Pusat Perekayasaan Perangkat Nuklir, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kristedjo Kurnianto, pada Webinar Pemanfaatan Nuklir untuk Pembangunan Indonesia, Kamis (28/10).

Ia menjelaskan, teknik iradiasi untuk proses sterilisasi dan pengawetan memiliki keunggulan sinar gamma berdaya tembus tinggi, sehingga dapat mencapai titik target terdalam pada produk, proses sederhana pada temperatur kamar, sehingga bentuk dan warna produk tidak berubah, dan tidak meninggalkan radiasi, serta tidak memakai bahan kimia seperti metode konvensional lainnya.

“Proses iradiasi terbukti aman karena sudah dimanfaatkan di berbagai negara lebih dari 50 tahun,” tambahnya.

Saat ini lanjut Kristedjo, baru ada 2 iradiator gamma komersial di Indonesia, yakni 1 iradiator gamma milik swasta yang berlokasi di Bekasi, dan 1 iradiator gamma milik pemerintah yang dikelola oleh ORTN – BRIN, berlokasi di Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan.

Sebagai perbandingan, menurut dokumen 19th International Meeting on Radiation Processing (IMRP19) tahun 2019, negara Cina memiliki 130, India 20, Jepang 10, Malaysia 6, dan Vietnam 3 iradiator gamma.

Pembangunan iradiator, jelas Kristedjo, harus didahului studi kelayakan yang matang dan menyeluruh agar berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi nuklir dengan menggunakan sumber radioaktif juga membutuhkan komitmen jangka panjang.

“Sangat disayangkan kalau produk ikan kita, misalnya, malah diiradiasi di Vietnam sebelum sampai ke Eropa. Idealnya memang iradiator gamma ini dibangun di dekat sumber-sumber produksi produk atau di dekat pelabuhan sehingga lebih ekonomis,” tambahnya.

Senada dengan Kristedjo, Plt. Kepala Pusat Riset dan Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir, ORTN – BRIN, Dhandhang Purwadi mengatakan, komoditas ekspor Indonesia sering ditolak oleh negara tujuan karena tidak sesuai persyaratan terkait kandungan mikroba patogen. Selain itu, saat ini Presiden Joko Widodo mendorong pengembangan food estate di lahan kosong potensial dengan kepadatan penduduk yang rendah, seperti di Papua dan Kalimantan, yang tentu membutuhkan kualitas benih dan pascapanen yang baik.

“Pengawetan bahan pangan dan sterilisasi alat kesehatan menggunakan radiasi tanpa bahan kimia berbahaya merupakan solusi yang tepat,” tutur Dhandhang.

Lebih detail Dhandhang memaparkan, ORTN (sebelumnya bernama BATAN) pernah melakukan survei pasar, yang hasilnya terdapat potensi pasar mencapai lebih dari 131 ribu meter kubik per tahun, hanya di 4 wilayah, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

“Iradiator Gamma Merah Putih di Tangsel baru menangani hanya 10 persennya saja, sekitar 10 ribu meter kubik per tahun. Itu artinya, masih ada 90 persen yang belum tertangani dan cepat membusuk,” paparnya.

Ia mengatakan, tantangannya saat ini adalah meyakinkan berbagai pihak dan sosialisasi ke masyarakat terkait teknologi iradiasi. “Beberapa daerah sebenarnya sudah menyatakan ketertarikannya untuk membangun, seperti Buleleng dengan potensi hasil rempahnya, dan Padang dengan rendangnya. Hanya saja membutuhkan komitmen kuat dan meyakinkan investor lokal akan manfaat iradiator ini untuk meningkatkan daya saing ekspor,” pungkasnya.

Webinar yang bertajuk Potensi Iradiator dalam Peningkatan Kualitas Bahan Pangan untuk Mendorong Daya Saing Ekspor, diselenggarakan oleh Woman in Nuclear (WIN) of Indonesia. President WIN of Indonesia, Tri Murni Soedyartomo, mengatakan, webinar ini bisa menjadi sarana diskusi dan sosialisasi terkait pemanfaatan iradiator gamma.

“Melalui webinar ini, kita mendapatkan informasi  bahwa iradiator gamma dapat membantu negara agar hasil pertanian, perikanan, buah-buahan, hingga alat kesehatan memiliki daya saing berkualitas untuk diekspor,” katanya. (tnt)