Tanjung Bintang – Humas BRIN. Pertama kalinya Indonesia didaulat menjadi tuan rumah Presidensi G20. Tema Presidensi G20 Indonesia, ‘Recover Together, Recover Stronger’, mewakili semangat pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan. Itu juga yang menjadi komitmen utama kepemimpinan Indonesia di G20.

Tiga fokus yang digadang dalam perhelatan internasional tersebut, arsitektur kesehatan, transformasi ekonomi digital, dan transisi energi. Salah satu produk yang mencerminkan transisi energi adalah kendaraan listrik.

Indonesia ikut menyongsong tren kendaraan listrik ini dengan mempromosikan mobil hemat energi dan mempercepat produksi baterai kendaraan listrik. Pemerintah telah mengeluarkan regulasi dalam Perpres No. 55 Tahun 2019 tanggal 12 Agustus 2019 yaitu tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Peraturan tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyukseskan program pemerintah, terutama dalam penyediaan bahan baku baterai berbasis nikel.

Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, situs web Kementerian Perindustrian menyebutkan target jumlah mobil listrik di Indonesia mencapai 400.000 unit pada tahun 2025, lalu meningkat menjadi 5,7 juta unit pada tahun 2035.

Mobil listrik diklaim sebagai mobil yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar minyak seperti bensin. Alasannya, mobil tenaga listrik tidak menyumbang polusi dan emisi yang dapat merusak lingkungan. Mobil listrik tidak mengeluarkan polutan pembentuk asap dan gas rumah kaca ke atmosfer bumi.

Diperkirakan ada 3.269.671 unit kendaraan listrik di pasar kendaraan listrik global pada tahun 2019 dan jumlahnya akan mencapai 26.951.318 unit pada tahun 2030. Makin tingginya permintaan kendaraan listrik, secara otomatis akan membuat industri kendaraan listrik menjadi salah satu yang paling populer. Dalam waktu yang relatif singkat, beberapa negara maju seperti Inggris dan Perancis akan sepenuhnya melarang kendaraan berbahan bakar gas pada 2040. Sedangkan Norwegia dan India mentargetkan setiap kendaraan yang dioperasikan di negara masing-masing berupa kendaraan listrik pada tahun 2025 dan 2030.

Nikel untuk Baterai Kendaran Listrik

Potensi pertumbuhan kendaraan listrik memberikan peluang bagi sektor pertambangan nikel, sebab baterai lithium kendaraan listrik yang mengandung nikel akan mampu menahan daya lebih banyak untuk jarak perjalanan yang lebih jauh. Saat ini, nikel menjadi salah satu topik perbincangan hangat di seluruh dunia.

Sebagai salah satu komponen penting dalam produksi baterai kendaraan listrik, nikel menjadi pendorong perubahan dalam pemanfaatan energi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa baterai lithium dengan persentase nikel yang lebih besar memiliki kelebihan dalam hal daya simpan energi yang lebih besar.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memegang peranan penting dalam industri nikel dunia, baik dalam hal besarnya sumberdaya maupun kapasitas produksi. Berdasarkan data Kementerian ESDM, sumberdaya nikel dalam bentuk bijih nikel laterit di Indonesia diperoleh dari penambangan di Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Soroako (Sulawesi Selatan), Morowali (Sulawesi Tengah), Pakal, Konawe (Sulawesi Tenggara), Tanjung Buli (Maluku Utara) dll.

Balai Penelitian Teknologi Mineral BRIN mempunyai visi menciptakan teknologi pengolahan dan pemurnian mineral yang berbasis sumber daya mineral Indonesia. Teknologi yang dimaksud adalah yang rendah investasi, ramah lingkungan, zero waste process dan tepat diaplikasikan untuk mineral Indonesia. Teknologi ini ditargetkan mendukung hilirisasi mineral dan batubara. Selain itu, membantu penyediaan bahan material maju yang semakin banyak dibutuhkan untuk berbagai sektor dan program prioritas nasional, salah satunya Program Kendaraan Listrik.

“Untuk memproduksi baterai berbahan dasar nikel diperlukan senyawa dari nikel seperti nikel sulfat, nikel klorida, nikel oksalat, dan nikel oksida. Senyawa tersebut diperoleh dari proses ekstraksi nikel dari bijih nikel laterit yang cadangannya melimpah di Indonesia”, terang Widi Astuti, peneliti sekaligus Plt. Kepala Kantor Balai Penelitian Teknologi Mineral BRIN.

Lebih lanjut Widi menerangkan bahwa penelitian ekstraksi nikel dari bijih nikel laterit yang berasal dari pertambangan di wilayah Sulawesi dan Halmahera telah dilakukan oleh Balai Penelitian Teknologi Mineral BRIN. “Ekstraksi menggunakan metode hidrometalurgi dan menghasilkan produk senyawa campuran nikel dan cobalt dengan kadar nikel di atas 70%.” jelasnya.

“Produk campuran nikel dan cobalt ini sudah memenuhi standar ekspor yang ditetapkan oleh Kementerian BUMN. Tetapi untuk digunakan sebagai prekursor bahan baku katoda baterai kendaraan listrik, masih perlu dilakukan proses ekstraksi dan pemurnian lebih lanjut untuk produk campuran senyawa nikel dan cobalt ini”, jelasnya.

Pendanaan penelitian yang dilakukan didapatkan dari Program Insinas Kemenristek/BRIN pada tahun 2020-2021. Penelitian akan dilanjutkan pada tahun 2022 dalam rangka memperoleh produk nikel dengan kemurnian tinggi (>95%) yang dapat digunakan sebagai prekursor katoda baterai kendaraan listrik.

“Dari penelitian yang telah dilakukan, menariknya adalah, diperolehnya satu metode pengolahan dan ekstraksi nikel dari bijih nikel laterit Indonesia. Metode ini sederhana dan ramah lingkungan, serta sangat mudah diaplikasikan di industri pertambangan lokal skala kecil dan menengah”, terangnya. “Ini merupakan metode baru dengan kebaruan yang tinggi dan sudah didaftarkan patennya. Diharapkan, metode ini bisa segera dialihteknologikan kepada industri pertambangan lokal.  Tujuannya, memberikan kontribusi pada program hilirisasi mineral dan batubara yang dicanangkan oleh Pemerintah,” pungkasnya. (wa, flv, drs)

Sebarkan