SIARAN PERS

BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL

NO: 034/SP/HM/BKPUK/IV/2022

Sebagai salah satu rangkaian pendukung perhelatan Presidensi G20 Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menyelenggarakan Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG) sebagai side event untuk meningkatkan, mengintensifkan, serta memperkuat kolaborasi riset dan inovasi dengan berbagi sarana, prasarana, dan pendanaan di antara negara-negara anggota G20. 1st RIIG yang secara spesifik akan membahas tentang Biodiversity Utilization to Support Green and Blue Economy akan digelar pada Rabu, 13 April 2022, di Jakarta.

Jakarta – 12 April 2022. Terdapat dua prioritas agenda utama dalam RIIG yang akan diselenggarakan BRIN. Pertama, meningkatkan kolaborasi riset dan inovasi melalui sharing fasilitasi, infrastruktur dan pendanaan. Kedua, penggunaan biodiversitas untuk mendukung Green & Blue Economy. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyampaikan, latar belakang mengenai pemilihan dua prioritas tema pada RIIG, yaitu adanya keinginan untuk membentuk open platform yang bisa menjadi bridging antar anggota G20 sekaligus mencapai pemahaman bersama yang dapat mewujudkan tujuan bermanfaat pada dunia riset dan inovasi.

“Pada G20 kali ini, RIIG akan difokuskan pada kesadaran dan membuat kesepakatan bagaimana kita berkolaborasi memanfaatkan biodiversitas berbasis pada kolaborasi riset, sharing infrastruktur, dan pendanaan secara sederajat,” kata Handoko.

Menurutnya, berdasarkan pengalaman pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir tiga tahun belakangan ini, kolaborasi riset biodiversitas dan pemanfaatannya memegang peranan yang sangat penting. “Kenyataannya, selama ini biodiversitas masih dikelola sendiri oleh masing-masing pihak,” ungkapnya.

“Kehadiran BRIN dengan sumber daya yang ada mampu merepresentasikan Indonesia dalam pemanfaatan biodiversitas secara sederajat dengan negara lain,” tambah Handoko.

Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN sekaligus Co-Chair RIIG, Ocky Karna Radjasa dalam kesempatan terpisah mengatakan, keanekaragaman hayati (biodiversitas) merupakan isu yang sangat penting. Disebutkannya, beberapa pemerintahan di dunia sendiri telah mengadopsi mix digital green & blue economy.

“Maka dari itu, pemanfaatan biodiversitas untuk mendukung green & blue economy juga perlu dikaitkan dengan pendekatan platformdigital agar memaksimalkan hasil yang dicapai,” terangnya. “Selain itu diperlukan pula capacity building untuk meningkatkan kemampuan peneliti sehingga bisa mewujudkan adanya Research Station yang mengarah pada Research Framework Knowledge Sharing and Technology Transfer,” sambungnya.

Oleh karena itu, Ocky menegaskan bahwa dibutuhkan suatu kerangka kerja untuk berkolaborasi diantara negara-negara G20. “Hal ini penting karena ada circle yang harus dikoordinasikan. Ketika bicara mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, kita harus memikirkan bagaimana kita menjaganya bukan hanya untuk masa depan, tapi untuk planet kita. Karena itu, kita butuh pendekatan green & blue economy,” imbuhnya.  

Selain kedua agenda prioritas tersebut, dengan mempertimbangkan tanggapan, masukan, dan kepentingan, pada pertemuan sebelumnya (RIIG preliminary meeting), negara-negara anggota G20 mengusulkan beberapa poin untuk dibahas dalam rangkaian RIIG berikutnya pada tahun 2022.

Pertama, mengusulkan kerangka kerja yang spesifik, praktis, dan layak untuk berbagi fasilitas, pendanaan, data, dan infrastruktur antar negara G20, dengan mempertimbangkan isu keamanan data. Indonesia dalam hal ini akan memberikan konsep open platform yang lebih rinci untuk dibahas dalam pertemuan RIIG berikutnya. Kedua, mengidentifikasi keterlibatan saat ini dalam bidang ilmu kelautan, apakah proposal RIIG mengikat kolaborasi tersebut atau justru dapat mengisi celah yang belum dipenuhi oleh kolaborasi yang sudah ada. Ketiga, mempertajam fokus pada energi terbarukan dan menawarkan upaya yang lebih terarah pada sumber energi terbarukan tertentu.

Sebarkan