Jakarta, Humas BRINAjang G20 dimanfaatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat kolaborasi riset dan inovasi. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyampaikan, ajang G20 akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kolaborasi riset dengan negara-negara anggota G20.

“Negara-negara anggota G20 merupakan negara maju dalam sains dan teknologi. Itu sebabnya kita ingin memanfaatkan dan mendorong untuk mempercepat riset dan inovasi di negara kita,” ungkapnya saat diwawancari Pro 3 RRI dalam program Indonesia Menyapa, Rabu (2/3).

Menurut Handoko, riset bersifat universal dan global, sehingga tetap membutuhkan banyak pihak untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi riset di Indonesia. Maka dari itu, BRIN menyiapkan pertemuan Research and Inovation Initiative Gathering (RIIG). “Ini merupakan pertemuan inisiatif seperti yang dilakukan di Italy pada tahun lalu, sebagai ajang meningkatkan riset dan inovasi,” ungkapnya.

Dijelaskan Handoko, dalam melakukan kolaborasi riset dengan negara-negara G20. BRIN akan fokus pada dua hal. Pertama, meningkatkan kolaborasi riset melalui resources sharing baik infrastruktur dan anggaran. Ke dua, fokus memperkuat kolaborasi riset yang memanfaatkan riset biodiversitas baik darat maupun laut.

“Kita punya modal besar di situ (biodiversitas). Saya yakin ini akan menarik bagi negara-negara G20 dan ini juga sebagai upaya kita memanfaatkan potensi kekayaan alam untuk memakmurkan negara kita. Apabila kita tidak manfaatkan, percuma hanya potensi saja,” bebernya.

Terlebih, fokus pembahasan dalam G20 adalah perubahan iklim, pandemi, dan perbaikan ekonomi. Sehingga dari sisi riset pihaknya menilai, biodiversitas dapat mendorong perbaikan perubahan iklim. Misalnya, ia menyebutkan, terumbu karang dan bakau sangat berpengaruh dalam menyerap CO2. Menurutnya, hal ini penting utuk dieksplorasi lebih jauh dan akan menguntungkan bagi Indonesia.

Diakui Handoko, dari aspek riset, Indonesia masih jauh di bawah mereka (negara-negara anggota G20). Itu sebabnya pihaknya menawarkan pada pertemuan G20 kolaborasi riset yang berbasis biodiversitas. ‘Hal ini karena masih banyak kekayaan hayati yang belum tereksplorasi. Untuk melakukan riset tersebut membutuhkan sumber daya yang besar, dan tidak bisa dilakukan sendirian,” ulasnya.

“Saya yakin juga negara-negara G20 memiliki kepentingan yang sama. Hal ini yang kita rajut untuk meningkatkan kompetisi riset di Indonesia. Itulah upaya kami juga dalam mempercepat dan meminimalkan gap riset dengan negara-negara maju. Melalui riset bersama kita bisa belajar, sehingga kompetensi dan kapasitas kita akan jauh lebih baik,” ujarnya,

Dalam kerja sama ini, Handoko menekankan keseteraan sebagai basis kolaborasi yang akan terus dijaga. Apalagi dengan adanya BRIN, pihaknya semakin percaya diri, karena memiliki sumber daya riset yang telah terintegrasi.

Menurut Handoko, permasalahan anggaran riset bukan dinilai dari cukup atau tidak, yang terpenting bisa mengoptimalkan anggaran tersebut. Lebih penting lagi, SDM dan infrastruktur yang perlu diperkuat, salah satuya dengan melakukan kolaborasi yang jauh lebih maju.

“Dengan kolaborasi bersama kita berbagi resource dan berbagi resiko. Dengan kolaborasi bersama kapasitas kita juga akan lebih besar untuk dapat mempercepat dan mengeksplorasi riset berbasis keanakaragaman hayati di Indonesia,” pungkasnya. (jml)

Sebarkan