Bandung – Deru debur ombak yang menenangkan, hembusan angin pesisir yang membuai, hingga semburat mentari senja yang menghanyutkan. Ada banyak hal yang membuat orang jatuh cinta kepada laut. Tidak terkecuali bagi Dwi Listyo Rahayu (64). Peneliti Utama bidang Taksonomi ini, betah menghabiskan waktu sore harinya sekedar menikmati matahari terbenam dari luar jendela tempat ia bekerja. Ruangan kerjanya tepat menghadap ke arah laut. Laut jugalah yang sampai saat ini memupuk rasa cintanya terhadap penelitian di bidang biologi kelautan. “Air laut lagi surut nih, saya udah bawa sepatu,” tuturnya. Biasanya ia akan jalan-jalan di pinggir pantai sembari sesekali mengorek batu atau pasir untuk mendapatkan spesimen yang nanti diteliti.

Sedari kecil Dwi Listyo Rahayu akrab dengan laut. Beranjak kuliah di IPB Jurusan Perikanan pun berhubungan dengan laut karena praktikum-praktikumnya seringkali di laut. “Semakinlah saya suka laut,” katanya terkekeh. Selepas skripsi, ia sejatinya ingin langsung melanjutkan studi magisternya di tempat yang sama tetapi gagal. Kegagalan yang justru membawanya kelak melanjutkan studi di Paris hingga jenjang Doktoral. Urung studi S2 di IPB, ia melamar dan diterima menjadi staf peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI pada Tahun 1982. Karir penelitiannya terus menanjak dari mulai Ajun Peneliti Muda hingga sekarang sebagai Profesor Riset. “Jadi saya masuk ke Pusat Penelitian Oseanografi minta ditempatkan di Ambon,” kenangnya.

Pilihannya untuk berkarir sebagai peneliti LIPI mempertemukannya dengan senior sekaligus mentor risetnya saat itu, Dr. Kasim Moosa. Dari beliaulah, dirinya mengaku mengenal, belajar, dan tertarik dengan dunia taksonomi khususnya morfologi. Minatnya terhadap riset taksonomi kian membuncah ketika ia ikut serta dalam Ekspedisi Snellius II pada Tahun 1984. Ekspedisi tersebut mengangkat 5 tema penelitian: geologi dan geofisika, terumbu karang, vetilasi lubuk laut dalam, sistem pelagis, dan dampak sungai terhadap lingkungan laut. Pada ekspedisi inilah ia banyak berkenalan dengan para taksonom senior dari berbagai belahan dunia. “Setiap hari yang diomongin kan taksonomi terus aja. Morfologi semuanya. Lama-lama loh kok menarik sekali. Okelah saya niatkan mau mengerjakan ini,” ungkapnya.

Selepas Ekspedisi Snellius II, Bu Yoyo melanjutkan studi S2 dan S3 di Université Pierre & Marie Curie, Paris VI. Paris, Perancis melalui beasiswa Overseas Fellowship Program (OFP) yang dicetuskan oleh Presiden Indonesia ketiga BJ Habibie. Paris menjadi tujuannya karena pada saat itu Natural Museum of Natural History Paris adalah salah satu pusat studi krustasea terbaik. “Saya ingin mengerjakan krustasea dan  yang banyak orang krustasea itu di Paris,” tuturnya. Kendati demikian, ia justru ditawari untuk meneliti kelomang. Pilihan yang kemudian membawa dirinya sebagai satu-satunya taksonom kelomang di Indonesia dan satu diantara tiga taksonom kelomang di dunia.

Kelomang dan kepiting memiliki peranan penting dalam ekosistem kita. Kelomang memakan semuanya; mulai dari makroalga, kerang, sampai potongan hewan yang mati. Bu Yoyo mengistilahkannya sebagai hewan pembersih. Kepiting mengonversi nutrient dan mempertinggi mineralisasi, serta meningkatkan distribusi oksigen dalam tanah. Hingga saat ini Bu Yoyo sudah berhasil mendeskripsikan 4 genus dan 74 spesies baru kelomang dan 6 genus serta 76 spesies baru kepiting. Ia memperkirakan Indonesia memiliki kurang lebih 200-300 spesies kelomang.

Profesor Riset yang biasa disapa Yoyo ini juga aktif terlibat dalam penulisan artikel ilmiah. Total ada 89 artikel ilmiah yang telah dipublikasikan. Ia meneliti kelomang dari berbagai perairan pesisir di Indonesia sejak 1988. Terlibat dalam inventarisasi biota laut perairan Maluku Utara, Maluku Tenggara, Timor Timur, Kalimantan (Pulau Derawan dan sekitarnya), Bali dan Lombok dari Tahun 1993-1998. Pernah pula meneliti kelomang di perairan Selat Malaka, Johor dan Singapura. Risetnya mengenai keanekaragaman jenis krustasea di perairan Lombok serta, penelitian kelomang dari Filipina masih berlanjut sejak 2004 hingga sekarang.

Tatkala ditanya bagaimana perasaannya ketika menemukan atau mendeskripsikan spesies baru? Ia terpekur sesaat. Pandangannya seakan jauh menerabas memoar ketika ia berhasil melakukannya. “Awalnya kalau saya menemukan satu saja spesies baru saya akan sangat bahagia,” ujarnya menahan haru. Namun, ketika temuan kedua, ketiga, keempat, dst. terungkap. Dirinya hanya bisa membatin kepada Yang Maha Kuasa bahwa tugasnya sebagai peneliti belum tuntas “Kamu itu belum selesai terusin! Begitu loh kayaknya,” tuturnya berkaca-kaca. Pada akhirnya ketekunan meriset kelomang membuatnya diundang oleh berbagai pihak.

Ia pun tercatat menjadi peneliti tamu di berbagai laboratorium di berbagai museum sejarah alam seperti (Lee Kong Chian Natural History Museum-NUS); Jepang (National Science Museum, Tokyo; Natural History Museum and Institute, Chiba); Perancis (Museum National d’Histoire Naturelle, Paris); dan Amerika Serikat (National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC). Terlibat dalam berbagai ekspedisi internasional seperti “KUMEJIMA” di Okinawa, Jepang, CMBS (Comprehensive Marine Biodiversity Survey) di Singapura, 2012-dan 2013, dan SJADES (South Java Deep Sea) (Indonesia, Singapore) 2018.

Ekspedisi SJADES adalah momentum sejarah karena pertama kalinya sebuah riset eksplorasi laut dalam dipimpin oleh peneliti dari Singapura Prof. Peter Ng dan Indonesia Prof. Dwi Listyo Rahayu. Pencapaian tersebut seakan mengabulkan impian dia sebelumnya “Kami bermimpi kapan ekspedisi dilakukan di daerah kita Southeast Asia dengan leading orang Indonesia atau orang Singapore,” kenangnya. Tidak hanya ekspedisi, dirinya juga berpartisipasi pada berbagai gelaran ilmiah seperti workshop dan seminar serta menjadi editor untuk majalah/prosiding.

Jika ada satu prakarsa yang belum terwujud itu adalah memiliki penerus riset yang selama ini ia geluti. Dwi Listyo Rahayu memandang bahwa tidak banyak periset muda saat ini di Indonesia yang berminat terhadap taksonomi morfologi. Mungkin karena pekerjaannya yang menuntut Si Peneliti menghabiskan banyak waktu di belakang meja; mengamati spesimen melalui mikroskop. “Barangkali saya terlalu galak mereka pada kabur gak mau,” kelakarnya berseloroh. Menurutnya, saat ini orang cenderung melakukan taksonomi molekuler. Meskipun ia sama sekali tidak keberatan dengan taksonomi molekuler tapi ia tidak ingin taknonomi morfologi ditinggalkan sama sekali. “Betul-betul kalau ada yang mau dari Indonesia yang betul-betul menekuni; saya akan serahkan semuanya,” ujarnya penuh harap.

Dirinya yakin kekayaan alam Indonesia masih melimpah dan banyak yang belum tersentuh. Selama 15 tahun terakhir setiap kali air laut surut ia akan turun mengorek bebatuan dan mengungkai pasir. Jika ada sesuatu yang menarik akan ia bawa, teliti dan terkadang menemukan spesies baru. Ia mengaku menemukan beberapa spesies baru di Lombok Utara dan Lombok Tengah, belum termasuk Lombok Timur. Terkadang kecintaannya terhadap riset kelomang dan kepiting justru membuatnya stres. Rasa sukacita yang membuncah ketika menemukan spesimen untuk diteliti membuatnya ingin segera mengerjakan hingga rampung dengan cepat. “Begitu saya tidur di kepala saya itu kaki-kaki kelomang dan kepiting jalan-jalan,” katanya sembari tertawa.

Penggemar novel detektif yang pernah bercita-cita menjadi pengacara ini sudah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya di bidang riset. Diantaranya Satyalancana Karya Satya 10, 20 dan 30 tahun, Satyalancana Wira Karya, serta anugerah LIPI Sarwono Award XIX. Pemberian LIPI Sarwono Award bertujuan untuk memberikan pengakuan kepada tokoh, ilmuwan serta pakar di Indonesia yang mengabdikan diri dan pemikirannya dalam memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia. “Saya kaget gak yangka karena ternyata memang dilihat juga ilmu dasar ini dan saya bersyukur alhamdulilah dihargai apa yang dikerjakan,” pungkasnya. (as/ ed: drs)

sumber : http://lipi.go.id/berita/Prof-Dwi-Listyo-Rahayu-Periset-Penyuka-Novel-dan-Pecinta-Laut/22483