Cibinong – Puncak acara peringatan Hari Ulang Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang ke-54 tahun 2021 kembali menghadirkan penghargaan LIPI Sarwono Award XIX, yang sempat absen tahun lalu. 
 
Untuk LIPI Sarwono Award XIX kali ini, penghargaan diberikan kepada seseorang yang tak hanya mencintai namun tekun dan konsisten bergelut dengan biodiversitas dan keanekaragaman hayati Indonesia, saat belum banyak yang menyadari manfaatnya tak hanya untuk kemakmuran bangsa, namun lebih luas demi keutuhan planet bumi yang kita huni.
 
Adalah Endang Sukara, Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama bidang kajian Mikrobiologi dan Biodiversitas di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Lahir di Tasikmalaya tanggal 9 September 1952, Endang mendapatkan gelar sarjana di Universitas Nasional Jakarta Indonesia dan mendapatkan gelar doktornya di University of Queensland Brisbane Australia.

Separuh hidup Endang telah didedikasikan sepenuhnya untuk meneliti dan mengkaji biodiversitas di Indonesia. Ketertarikannya terhadap penelitian dan biodiversitas pertama kali muncul ketika masih kuliah di tingkat dua. Saat itu ia menjadi counterpart pertama dari Indonesia untuk peneliti asing.
 
“Saya punya keyakinan, bahwa keanekaragaman hayati itu memang harus diteliti. Karena kalau tidak diteliti, kita tidak akan dapat mengetahui apa manfaatnya untuk manusia, bukan hanya di Indonesia tapi juga umat manusia di seluruh dunia. Setelah dilakukan penelitian, baru muncul nilai manfaat keanekaragaman hayati ini,” ungkap mantan Wakil Kepala LIPI tahun 2010-2012 ini.
 
Selain aktif sebagai peneliti biodiversitas, Endang aktif sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, salah satunya sebagai Visiting Professor at Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH)  Kyoto University Jepang pada 2013 – 2014. Serta sebagai Visiting Professor at American University for Sovereign Nation on Environmental Ethics hingga kini.

Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentu mempunyai tantangan dalam konteks pemberdayaannya, yang juga menjadi tantangan bagi seorang peneliti seperti Endang. “Tantangan besar yang kita hadapi sehubungan dengan kekayaan alam sumber daya hayati itu, pastinya kita masih sangat jauh dari cukup, untuk bisa membaca keanekaragaman hayati itu sampai genetika molekulernya, sampai kepada metabolit-metabolit yang dihasilkannya. Karena tanpa kita mengetahui  genetik material yang ada di dalamnya dan metabolit-metabolit yang dihasilkan oleh makhluk hidup, kita tidak akan bisa mendapat manfaat yang baik,” jelas Endang.
 
Sudah banyak peranan dan kontribusi yang dilakukan Endang, salah satunya adalah mengenalkan keragaman alam Indonesia dan menjadikannya sebagai basis pengambilan kebijakan strategis pembangunan nasional. Tentunya tetap berlandaskan pada budaya luhur bangsa.

Ketertarikannya pada mikrobiologi terkait dengan taksonomi mikroba, penyaringan, pengembangan proses mikroba, fermentasi, desain bioreaktor, enzimologi misalnya konversi pati menjadi protein dan enzim menggunakan Rhizopus oligosporus dalam fermentasi cair. Produksi gula fermentasi dari singkong dan pemanfaatannya sebagai bahan baku untuk produksi biomassa bakteri pengikat nitrogen dengan sistem fermentasi pressure cooker. Produksi biomassa mikroba untuk starter nata de coco dalam bentuk pasta; eksplorasi mikroba endofit, fungi dan actinomycetes untuk membangun koleksi kultur mikroba dan pemanfaatan kultur tersebut dalam bioprospecting. Serta mencari kemungkinan pemanfaatan sumber daya mikroba asal Indonesia untuk pangan (pertanian), kesehatan, energi dan lingkungan.
 
Selain itu, Endang juga mempromosikan konsep baru mengelola ekosistem lanskap melalui The Man and Biosphere Program of UNESCO (Konsep Cagar Biosfer) – menyelaraskan konservasi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan: mempromosikan Cagar Biosfer di Indonesia, mendirikan Cagar Biosfer baru – Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu di Provinsi Riau Indonesia untuk melestarikan ekosistem hutan rawa gambut besar Sumatera (disetujui oleh Pertemuan Antar Dewan Koordinasi MAB UNESCO di Jeju Korea Selatan pada tahun 2009), dan mengawasi pembentukan Cagar Biosfer Wakatobi (disetujui oleh Pertemuan Antar Dewan Koordinasi MAB UNESCO di Paris 2012).
 
Pria yang memiliki hobi berorganisasi ini pun telah memiliki banyak pengalaman dan turut serta menjadi sosok penting dalam berbagai lembaga, maupun organisasi-organisasi ilmiah, seperti menjadi Head of The Selection Committee for Women Fellowship L-Oreal UNESCO Program tahun 2004 hingga saat ini. Aktif menghadiri lebih dari 100 pertemuan ilmiah nasional dan internasional (simposium, seminar, lokakarya, rapat koordinasi, rapat monitoring dan evaluasi) bertindak sebagai anggota Steering Committee, Organizing Committee, Keynote Speaker, Presenter atau Narasumber.

Tak heran hingga kini, Endang telah mengoleksi 15 publikasi internasional sejak tahun 1986-2020 dan 26 publikasi nasional sejak tahun 1977-2018. 16 buku telah ditulis Endang sejak tahun 1981-2017, dan 2 paten diperoleh pada tahun 1987 dan 2003.

Sejalan dengan karirnya yang terus berjalan, penghargaan dan apresiasi atas dedikasinya yang tinggi pada ilmu pengetahuan tidaklah sedikit. Salah satunya adalah menjadi International Alumnus of The Year dari University of Queensland Australia pada tahun 2014 atas kiprahnya dalam kajian biodiversitas dan konservasi  di Indonesia.
 
“Jadi kekayaan alam hayati Indonesia itu luar biasa, asal ilmu pengetahuan masuk ke dalamnya. Cari tahu apa manfaat yang kita bisa peroleh. Keanekaragaman hayati sangat diperlukan untuk penyelenggaraan pembangunan berkelanjutan dan masa depan Indonesia. Oleh karena itu harus dikonservasi dan dilakukan studi mendalam, serta dicari manfaatnya agar kita mendapat keuntungan dari pemanfaatan tanpa merusak alam lingkungan, “ tutur Endang.
 
Melalui ragam penelitian biodiversitas, pria ramah yang telah dikaruniai satu putra dan satu putri ini, terus berperan aktif dan bergerak memajukan pembangunan nasional. Endang tidak henti-hentinya mengembangkan dan menggali potensi kekayaan alam dan hayati Indonesia. Agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas. (is/sl).

sumber : http://lipi.go.id/berita/Prof-Endang-Sukara-Peneliti-Mikrobiologi-yang-Dianugerahi-LIPI-Sarwono-Award-2021/22482