Jakarta – Humas BRIN. Majelis Pengukuhan Profesor Riset (MPPR) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Bambang Subiyanto dengan Sekretaris Prof. Dr. Gadis Sri Haryani mengukuhkan 4 profesor riset di lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan berlangsung pada Kamis, 23 Desember 2021 di Auditorium Utama BRIN, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Pusat, disaksikan juga secara daring melalui media zoom dan kanal youtube BRIN Indonesia.

Salah satu sosok yang dikukuhkan yaitu Dr. M. Rokhis Khomarudin, S.Si., M. Si, selaku periset bidang teknologi penginderaan jauh dan geomatika. Di dalam naskah orasinya, pria kelahiran Pekalongan ini menyampaikan tema “Iptek Penginderaan Jauh untuk Meningkatkan Kualitas Deteksi Permasalahan Lingkungan dalam Mendukung Mitigasi Bencana di Indonesia”. Naskah tersebut baginya adalah proklamasi dirinya terkait dengan kegiatan riset yang selama ini telah dilakukan dan yang akan dikembangkan di masa mendatang.

Judul tersebut merupakan refleksi kegiatan riset yang selama ini telah ia lakukan. Ia punya alasan sendiri mengapa dirinya sangat fokus pada permasalahan-permasalahan lingkungan yang menyebabkan bencana di Indonesia sering terjadi. Indonesia berada di daerah bencana baik dari sisi hidrometeorologi dan geologi. Nah, iptek penginderaan jauh menjadi salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mendeteksi permasalahan tersebut sehingga dapat dideteksi lebih dini untuk mitigasi bencana. “Dalam naskah orasi juga disampaikan bahwa simulasi perubahan lingkungan dapat mensimulasikan potensi bencana di masa depan. Maka, antisipasi dan mitigasi bencana sejak dini dapat dilakukan,” ungkapnya.

Awal ketertarikannya pada bidang penginderaan jauh, bahwa bencana yang sering terjadi di Indonesia menjadi sumber kekayaan pengetahuan bagi kita, peneliti-peneliti asing banyak yang mempelajarinya. Maka baginya perlu mempelajari lebih lanjut guna optimalisasi mitigasi bencana di Indonesia untuk dimanfaatkan masyarakat. Baginya, penginderaan jauh memiliki data historis yang sangat baik sehingga dapat dikaji bagaimana permasalahan lingkungan dari tahun ke tahun. “Kita bisa menganalisis fenomena perubahannya, dampaknya terhadap bencana, hal ini yang menarik,” paparnya.

Berbagai peristiwa bencana di Indonesia memikat ketertarikan beberapa ilmuwan dunia sehingga berbondong – bondong mengkaji dan mempelajarinya. Salah satunya, Rokhis memberi contoh, Ilmuwan Jerman yang tergabung dalam Proyek German Indonesia Tsunami Early Warning System (GITEWS) yang mempelajari tsunami dan letusan Gunung Krakatau. Ini tantangan bagi Indonesia untuk melakukan mitigasi bencana di wilayahnya sendiri. Apalagi didukung dengan lajunya perkembangan teknologi penginderaan jauh yang semakin meningkat pesat dan menantang.

Sejalan dengan pernyataan Presiden Jokowi di berbagai kesempatan forum, Indonesia berada pada Ring of Fire sehingga memerlukan infrastruktur yang kuat untuk membangun mitigasi bencana. Teknologi penginderaan jauh menjadi salah satu solusi yang ditawarkan dengan keunggulannya memiliki data historis yang baik, mencakup area luas, pengulangan pengambilan data di lokasi yang sama secara kontinu, serta memberikan informasi lahan secara cepat.

Rokhis yang telah menghasilkan 92 karya tulis ilmiah (KTI) ini mengawali karir peneliti dengan melakukan riset terkait pemanfaatan penginderaan jauh untuk permasalahan lingkungan dan mitigasi bencana. Konsistensinya terhadap riset – riset bidang penginderaan jauh telah dicurahkan sepenuhnya dalam kontribusinya pada program mitigasi bencana banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan, gunung api, serta tsunami. Upayakan dilakukan dengan membentuk Tim Tanggap Darurat Bencana di Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN (sekarang bernama Pusat Riset Aplikasi Penginderaan Jauh). Dalam upaya penanggulangan bencana Covid-19, ia yang saat itu sebagai Kepala Pusat, bersama timnya berperan serta dalam pembangunan portal LAPAN Hub Covid-19. Portal ini menampilkan tingkat risiko penularan Covid-19 berbasiskan data penginderaan jauh.

Penginderaan jauh, permasalahan lingkungan, dan mitigasi bencana menjadi tiga kata kunci di dalam orasi ilmiah dalam pengukuhan gelar profesornya. Rokhis berprinsip, deteksi permasalahan lingkungan bisa dimanfaatkan untuk mengetahui akar permasalahan bencana, sehingga bisa dibuat simulasi guna mitigasi bencana di masa mendatang. Upaya tersebut sekaligus untuk melakukan pemetaan potensi jumlah korban, penyebab, serta potensi akibat di masa mendatang.

Pesatnya perkembangan teknologi pengindraan jauh memberikan peluang besar untuk melakukan deteksi permasalahan lingkungan. Contohnya penggunaan teknologi satelit yang canggih sangat cepat kemajuannya. Dimulai dari memotret permukaan bumi, pemantauan rupa bumi secara kontinu, menangkap objek secara detail sehingga bisa mengidentifikasi berbagai karakteristik objek di permukaan bumi, sampai dengan data tersebut bisa digunakan untuk melakukan analisis suatu kajian.

Sebagai contoh, untuk melakukan riset wilayah rentan banjir, para periset di bidang penginderaan jauh membangun metode zonasi daerah bahaya dan kerentanan bencana. Maka dilakukan deteksi karakteristik lingkungan suatu wilayah, seperti curah hujan, topografi, penggunaan lahan, serta kedekatan dengan sungai dan pola aliran. Rokhis menjelaskan, riset ini telah diterapkan untuk analisis kerentanan banjir di Semarang, Cilacap, dan seluruh Jawa. Metode ini juga dilakukan untuk deteksi zona bahaya dan kerentanan kebakaran lahan/ hutan, analisis zona bahaya gunung api, terutama topografi dan bentuk lahan, serta simulasi model tsunami.

Riset tersebut juga dapat dikembangkan ke arah analisis kesehatan lingkungan terhadap bencana. Menurut Rokhis, analisis kesehatan daerah aliran sungai (DAS), kesehatan pantai, dan kesehatan kawasan konservasi perlu terus dikembangkan dengan memanfaatkan hasil riset yang telah ada.

Namun begitu, pengembangan riset perubahan lingkungan suatu wilayah tidak hanya terbatas pada tahap deteksi, tetapi juga dimanfaatkan untuk analisis dan simulasi perubahan. Selanjutnya digunakan untuk membuat zonasi daerah bahaya dan kerentanan bencana di masa mendatang. Untuk itu, berbagai metode digunakan dengan membuat simulasi penurunan muka tanah, memperkirakan luasan genangan rob, serta memperkirakan potensi kekeringan.

Rokhis juga membuat gabungan analisis kesehatan lingkungan dan simulasi perubahan yang dapat digunakan untuk estimasi potensi kejadian bencana di masa mendatang. Pada perkembangannya, tidak hanya untuk banjir dan kekeringan, tetapi juga untuk tsunami, kebakaran lahan/ hutan, dan gunung api. Bahkan, kemungkinannya dapat menjawab isu terkait Jakarta tenggelam di masa mendatang.

Iptek penginderaan jauh juga memiliki kemampuan untuk deteksi parameter geobiofisik seperti curah hujan, suhu permukaan, suhu udara, dan indeks vegetasi yang dapat digunakan untuk peringatan dini suatu bencana. Hal ini dikenal dengan pendugaan parameter curah hujan. Sebab, curah hujan merupakan parameter yang penting dalam peringatan dini bencana banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran lahan/ hutan. Parameter lainnya yaitu karakteristik suhu permukaan yang bisa digunakan untuk peringatan dini kebakaran lahan/ hutan.

Demikian luasnya manfaat teknologi penginderaan jauh. Namun untuk mengaplikasikannya, Rokhis mengatakan, setiap bencana memiliki parameter peringatan dini yang berbeda. Tetapi yang penting adalah tingkat akurasi dari parameter tersebut karena mempengaruhi akurasi peringatan dini yang dibuat.

Pada hasil-hasil riset yang telah dilakukan, timnya melakukan overlay terhadap hasil deteksi daerah terdampak dengan data penggunaan lahan. Hal itu untuk mengetahui luasan penggunaan lahan yang rusak akibat bencana yang terjadi. Tujuannya untuk melakukan rehabilitasi dan perhitungan kerugian. Sedangkan untuk kebutuhan mitigasi bencana perlu pengembangan lebih lanjut, karena perlu menentukan faktor yang berpengaruh untuk zona bahaya, kerentanan, dan juga kesehatan ekosistem.

Agar lebih menyempurnakan pemanfaatan hasil riset, Rokhis bersama timnya mengembangkan platform informasi kebakaran lahan/ hutan dan kebencanaan dengan menggunakan google earth hingga pengembangan sistem berbasis android. Sistem aplikasi tersebut diberi nama Sipandora (Sistem Pemantauan Bumi Berbasis Android). Selain itu, ia mengembangkan platform digital service untuk kebencanaan. Dua sistem yang dibangun ini telah diberikan hak kekayaan intelektual (HaKI) dalam bentuk hak cipta. Platform ini terintegrasi dengan sistem yang dikembangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Pertanian.

Sebagaimana arahan Kepala BRIN, Dr. Laksana Tri handoko, perlunya percepatan dan perbaikan ekosistem riset di Indonesia, Rokhis menyertakan dukungan dengan terus melakukan penelitian mengenai simulasi perubahan lingkungan untuk mitigasi bencana dengan teknologi penginderaan jauh. Kegiatan riset ini ditunjang dengan pemanfaatan teknologi machine learning, artificial intelligence, dan internet of things. Adapun yang menjadi fokus utama penelitian yaitu wilayah Pantura Jawa, namun juga tetap memperhatikan wilayah – wilayah lainnya.Meskipun tidak ada kendala yang berarti karena penginderaan jauh sudah dikenal masyarakat luas, ia masih mengalami kesulitan untuk perolehan data resolusi tinggi dan sangat tinggi, yang saat ini masih berbayar. Salah satu cara mengatasinya yaitu Indonesia memiliki satelit sendiri yang dapat memantau permukaan bumi secara kontinu dengan resolusi spasial tinggi. Namun, dalam pembangunannya perlu perencanaan yang baik. Kemampuan ini akan dimiliki dengan teamwork yang solid dan menjaring seluas – luasnya jejaring kerja sama dengan berbagai pihak. (Humas BRIN – Andriani Agustina)

Sebarkan