Jakarta, Humas BRIN – Kajian astronomi diyakini dapat menjadi jalan tengah dalam menyatukan perbedaan kriteria penentuan awal bulan ramadan. Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Thomas Djamaludin menyebutkan BRIN mengusulkan kepada umat islam satu metode dengan kriteria yang nantinya diharapkan menjadi titik temu, yaitu krieteria yang didasarkan pada kajian astronomi dengan data-data ilmiah.

“Ini menjadi kontribusi BRIN sebagai lembaga riset untuk memberikan solusi penyatuan umat dengan memberikan kriteria dan pemahaman apa sesungguhnya yang terjadi dalam pengamatan dan perhitungan hilal,” ucapnya saat melakukan wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta nasional, Senin (28/3).

Dijelaskan Thomas, keterlibatan lembaga riset dalam penentuan awal ramadan ini sebenarnya dimulai secara formal sejak 1996. Pada waktu itu, lanjut Thomas, setelah terjadi beberapa kali perbedaan. Sekretaris Menristek pada waktu itu menulis surat kepada Menteri Agama bahwa di lingkungan Kemenristek terdapat Lapan yang juga melakukan kajian antariksa, salah satunya astronomi untuk penentuan awal bulan. Maka sejak saat itu, Lapan dilibatkan dalam tim kerja atau musyawarah kerja hisab rukyat untuk memberikan solusi.

“Waktu itu saya sebagai peneliti ahli utama astronomi ditugasi oleh pimpinan Lapan pada waktu itu untuk mewakili Lapan dalam musyawarah hisab rukyat di Kemenag. Tahun 2010 saya kemudian mengusulkan ada kriteria baru untuk usulan penyatuan kriteria dan sejak itu saya terus aktif, salah satunya mengusulkan dan memimpin pakar astronomi menghasilkan naskah akademik untuk usulan kriteria baru. Saat ini, Lapan telah diintegrasikan ke BRIN, sehingga BRIN sebagai badan yang melakukan riset keantariksaan khususnya astronomi ini yang kemudian terlibat memberikan solusi,” beber Thomas.

Di sisi lain, Thomas juga menyebutkan selama ini masalah perbedaan awal ramadhan hanya dipandang dari sisi hukum atau aspek fikih saja. Sehingga apabila ditinjau dari aspek fikih masing-masing mazhab akan memperkuat dalilnya, maka yang terjadi semakin lama semakin jauh perbedaannya.

“Astronomi ini dilibatkan untuk melihat sisi lain bahwa perbedaan itu bukan karena perbedaan hisab dan rukyat, bukan karena perbedaan pengamatan dan perhitungan tapi lebih pada perbedaan kriteria. Dan, kriteria ini dapat diperoleh dari kajian-kajian astronomi sehingga astronomi berperan untuk memberikan jalan tengah dalam memberikan solusi untuk penyatuan paham hisab dan paham rukyat termasuk nanti akan menghasilkan satu sistem kalender yang mempersatukan umat,” ungkap Thomas mengusulkan.

Sementara itu, untuk awal ramadan tahun ini, Thomas menyebutkan ada potensi perbedaan. Hal ini karena Muhammadiyah sudah mengumumkan dalam maklumatnya awal ramadan jatuh pada tanggal 2 April 2022, karena posisi bulan sudah diatas ufuk.

Sedangkan, Pemerintah akan melakukan rukyat pada 1 April 2022, pada saat itu posisi bulan di indonesia itu secara umum kurang dari 2 derajat. Jadi dengan menggunakan kriteria yang lama, kriteria tinggi bulan 2 derajat ini memang ada potensi berbeda dengan yang sudah diumumkan  dalam maklumat muhammadiyah. “Sehingga sejak awal ini sudah ada prakiraan akan ada perbedaan dalam keputusan sidang istbath nanti dengan muhammadiyah,” sebutnya.

Dari sisi astronomi, Thomas menjelaskan pada saat 1 april elongasi atau jarak bulan dan matahari hanya sekitar 3 derajat. Kemudian ketinggiannya juga kurang dari 3 derajat. Makna ketinggian ini bahwa hilal yang sangat tipis itu akan terganggu oleh cahaya safak atau senja sehingga tidak mungkin ada rukyat secara global.

Berdasarkan kesepakatan menteri agama dari Malaysia, Indonesian, Brunei dan Singapura (negara Mabims) tanggal 28 Desember 2021 menyatakan bahwa bersepakat menggunakan kriteria baru penentual awal bulan hijriah yaitu tinggi minimal 3 derajat, elongasi jarak bulan matahari 6,4 derajat.

Sehingga dengan dua para meter ini elongasi yang menunjukan bahwa hilal itu sangat tipis dan redup, kemudian tingginya masih kurang dari 3 derajat artinya cahaya safaknya masih cukup kuat. Sehingha ini tidak akan mungkin ada hasil rukyat, kalaupun ada yang melaporkan itu akan ditolak. Dengan demikian, kata Thomas, bisa diperkirakan pada saat sidang isbath nanti itu akan memutuskan awal ramadhan jatuh pada tanggal 3 April 2022. Nah ini yang menjadi potensi perbedaan karena muhammadiyah sudah mengumumkan di maklumatnya tanggal 2 April 2022. (jml)

Sebarkan