SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 133/SP/HM/BKPUK/IX/2021

Sejak 2011, Pusat Riset Kewilayahan- BRIN telah secara intensif melakukan kajian Jepang yang secara khusus mengangkat permasalahan konkrit politik dan sosio-kultural Jepang-Indonesia. Dalam rangka memperingati 10 tahun perjalanan kajian Jepang tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kewilayahan,  menyelenggarakan Seminar Internasional “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reorientation (Kajian Jepang di Indonesia: Krisis dan Reorientasi)” untuk secara reflektif dan kritis mengupas perkembangan riset sosial-humaniora Jepang di Indonesia dan ranah Internasional. Seminar akan diselenggarakan Rabu-Kamis, 22-23 September 2021 pukul 09.00 WIB secara virtual melalui Zoom Meeting

(Registrasi Hari-1: https://bit.ly/P2WJFday1  Registrasi Hari-2: https://bit.ly/P2WJFday2 ).

Jakarta, 21 September 2021. Jepang merupakan negara yang memiliki keterkaitan erat dengan bangsa Indonesia, baik dari kacamata historis, akademis, diplomatik, dan ekonomis. Dalam bidang akademis, Jepang telah menjadi bagian penting dalam kajian riset bidang ilmu sosial-humaniora di Indonesia. “Ada dua faktor utama yang mendorong penelitian tentang Jepang di Indonesia, yaitu perubahan politik luar negeri Jepang yang lebih mementingkan kerjasama internasional di segala bidang, dan pembukaan kantor Japan Foundation di Jakarta pada 1974,” ulas Plt. Kepala Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Ganewati Wuryandari.

Di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Badan Riset dan Inovasi Indonesia (LIPI-BRIN) sendiri, kajian Jepang ‘Japan Circle’ telah berjalan sejak 2011 melalui Pusat Penelitian Kewilayahan. Kajian Jepang tersebut berangkat dari permasalahan konkret yang dikaji secara akademis. “Di antaranya seperti persoalan sosial dan kultural di Indonesia untuk dikaitkan dengan persoalan sejenis di Jepang guna mendapat pemahaman lebih dalam tentang aspek transnasional persoalan sosiokultural tersebut,” terang Ganewati.

Beberapa kajian Jepang Pusat Riset Kewilayahan BRIN antara lain adalah kajian tentang bencana Tohoku dan politik risiko di Jepang pada 2011, dunia industri dan tenaga kerja kreatif di Jepang sejak 2015 hingga sekarang, serta digitalisasi warisan budaya yang masih berjalan sejak dimulai pada 2019.

Peneliti Senior Kajian Jepang BRIN Fadjar Ibnu Thufail menyebut bahwa selama 10 tahun berjalan, kajian Jepang LIPI-BRIN menggarisbawahi tiga hal penting, yaitu (1) kajian Jepang di Indonesia mengalami stagnasi diskursif; (2) kajian Jepang di Indonesia belum mampu memasuki wilayah pendekatan multidisplin; dan (3) kajian Jepang di Indonesia jarang sekali mempelajari sisi lain kehidupan masyarakat Jepang yang bersumber pada persoalan sosial yang ada saat ini atau pada masa lalu. “Selain itu, kajian Jepang di Indonesia seringkali melupakan keragaman etnis, bahasa, kelas sosial, atau sejarah politik yang ada di Jepang, seolah-olah Jepang dianggap sebagai negara yang monokultur dan memiliki pengalaman historis yang seragam,” terangnya.

Bermula dari beberapa ranah refleksi kritis tentang situasi krisis kajian Jepang di Indonesia tersebut, Pusat Riset Kewilayahan BRIN bekerja sama dengan the Japan Foundation menyelenggarakan Seminar Internasional “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reorientation”. Seminar ini menghadirkan beberapa pembicara kunci dan pakar kajian Jepang yang bukan hanya dari BRIN namun juga dari Amerika, Asia Tenggara, dan Jepang, mengingat kajian Jepang tidak harus semata-mata tentang Jepang di Jepang, melainkan Jepang di negara lain atau tentang cara masyarakat lain memandang Jepang.

Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN Ahmad Najib Burhani menyatakan Seminar “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reorientation” ini merupakan salah satu upaya reflektif untuk meletakkan kajian Jepang di Indonesia dalam konteks perkembangan kajian Jepang secara internasional. “Salah satu hal penting yang akan dibahas yaitu meletakkan Jepang bukan sebagai obyek penelitian yang dilihat semata-mata sebagai kesatuan politik, masyarakat, atau budaya yang unik, tetapi sebagai sebuah tema penelitian yang memiliki relevansi erat dengan situasi di negara lain,” ujarnya.

Najib pun menekankan seminar internasional ini diharapkan akan dapat memperkuat kajian Jepang di Indonesia dan menjadikan kajian Jepang sebagai cara untuk melihat peran Indonesia di ranah internasional. “Sebab, pengarusutamaan kajian wilayah dalam penelitian ilmu sosial dan humaniora adalah hal penting untuk meletakkan ilmu sosial dan humaniora di Indonesia sebagai pelaku aktif dalam perkembangan dunia riset global,” pungkas Najib.

Keterangan lebih lanjut:

Dr. Fadjar I. Thufail (Koordinator Tim Kajian Jepang – BRIN), HP: 0812-1964-1955

Minta Rachmawati (Humas –BRIN), HP: 0812-8129-7622

[Undangan]

Siaran pers ini sekaligus undangan bagi rekan media untuk menghadiri dan meliput Seminar Internasional “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reorientation yang digelar pada Rabu hingga Kamis, 22-23 September 2021 melalui Zoom Meeting  (Registrasi Hari-1: https://bit.ly/P2WJFday1  Registrasi Hari-2: https://bit.ly/P2WJFday2 ).Berikut terlampir agenda acara dan narasumber Seminar Internasional “Japanese Studies in Indonesia: Crisis and Reorientation.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)