Cibinong- Humas BRIN. Obesitas merupakan ketidakseimbangan asupan energi (energi intake) dengan energi yang digunakan (energi expenditure), ditandai dengan adanya penumpukan lemak yang abnormal. Hal ini dapat memicu terjadinya penyakit-penyakit kronis seperti serangan jantung koroner, stroke, diabetes mellitus (kencing manis), dan darah tinggi (hipertensi).
Obesitas terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan dan minuman tinggi kalori dalam jangka panjang tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik serta penyebab lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan obesitas sebagai penumpukan lemak yang tidak normal atau berlebihan yang menimbulkan risiko bagi kesehatan.
Kegemukan dan obesitas pada anak dan remaja dapat menyebabkan timbulnya penyakit degeneratif pada usia dini seperti diabetes dan hipertensi. Kini, obesitas telah menjadi wabah global, meresahkan banyak negara, termasuk Indonesia. Dari yang sebelumnya dianggap sebagai masalah orang dewasa, obesitas kini juga menyerang populasi remaja dan anak-anak dengan laju yang mengkhawatirkan.
Terkait dengan permasalahan tersebut Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Obesitas pada Anak dan Remaja di Indonesia: Kondisi dan Tantangan Terkini” yang diselenggarakan secara online pada Rabu (29/05).
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti dalam sambutannya menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami transisi gizi yang ditandai dengan prevalensi kekurangan gizi yang masih tinggi, namun di sisi lain kejadian gizi berlebih berupa kegemukan dan obesitas juga memperlihatkan tren yang meningkat. Keadaan ini dikenal dengan masalah “gizi ganda”.
“Upaya penanganan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia cenderung stagnan. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas hingga obesitas sekitar 19,7% pada anak usia anak usia 5-12 tahun dan 16% pada anak usia 13-15 tahun. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 yang berturut-turut sekitar 19,8% dan 16,2% pada kelompok usia yang sama. Dengan adanya kondisi tersebut, serta tantangan yang harus di hadapi pada masa kini, maka dipandang perlu untuk menyelenggarakan webinar ini,” kata Indi.
“Melalui webinar ini, kita diskusikan bersama mengenai informasi terupdate tentang kondisi obisitas pada anak dan remaja di Indonesia, faktor-faktor risikonya, peranan Ultra Processed Food (UPF) dan kaitannya dgn food labelling/obesitas pada anak dan remaja, implikasi obesitas pada anak dan remaja, serta program-program dan kebijakan dalam penangan obisitas pada anak dan remaja di Indonesia,” sambungnya.
Selaras dengan Indi, Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni menyampaikan bahwa Indonesia sampai saat ini masih mengalami masalah gizi triple burden yaitu kurang gizi (malnutrisi), gizi lebih (obesitas) dan kurang zat gizi mikro. Masalah gizi tersebut yang terjadi pada anak dan remaja dapat mengancam terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Dikatakan Wahyu, jika penanganannya berjalan lambat, maka faktor resiko dominan terjadi kegemukan dan obesitas pada anak dan remaja adalah karena faktor lingkungan, seperti asupan makanan tinggi energi dan aktivitas fisik yang rendah.
Donny K. Mulyantoro, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, BRIN, yang merupakan salah satu narasumber pada webinar tersebut memberikan paparannya dengan judul “Tren, sebaran, dan faktor risiko obesitas pada anak dan remaja di Indonesia”.
Dirinya menjelaskan bahwa overweight (kegemukan) dan obesitas telah mencapai proporsi epidemi secara global. Dulunya obesitas dikaitkan dengan masalah yang timbul pada negara-negara yang berpendapatan tinggi (HIC), tetapi sekarang banyak juga terjadi di negara-negara yang berpendapatan rendah dan menengah (LMIC).
Dijelaskan pula bahwa obesitas merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas karena merupakan faktor risiko utama pada banyak penyakit tidak menular (PTM). Pada tahun 2019, obesitas menyumbang sekitar 15 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, ganguan neurologis, penyakit pernapasan kronis, dan gangguan pencernaan.
“Secara global sejak tahun 1990 sudah terjadi peningkatan dengan cukup drastis, obesitas orang dewasa meningkat dua kali lipat, dan obesitas remaja meningkat empat kali lipat, bahkan lebih dari 390 juta anak-anak dan remaja 5-19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, termasuk 160 juta yang hidup dengan obesitas. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi kita terkait dengan masa depan anak-anak kita dan generasi emas di tahun 2024,” jelas Donny.
Federasi Obesitas Dunia memperkirakan bahwa Indonesia salah satu bahkan menjadi peringkat keempat dari jumlah penderita terbanyak di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Diperkirakan akan terdapat 206 juta anak dan remaja berusia 5-19 tahun yang hidup dengan obesitas pada tahun 2025, dan 254 juta pada tahun 2030.
“Secara umum, selama 10 tahun terakhir (1 dekade) terjadi peningkatan prevalensi overweight, tetapi terjadi juga penurunan obesitas pada usia 5 - 12 tahun. Prevalensi overweight anak usia 5 - 12 tahun di tahun 2023 terdiri atas: Kategori tertinggi berada pada Jawa, Bali, Kalimantan, dan Papua. Kategori sedang berapa pada Nusa Tenggara Barat, Sulawesi (kecuali Sulut), dan Maluku (tahun berikutnya masuk dalam kategori tinggi). Sementara untuk kategori rendah berada pada Nusa Tenggara Timur.” imbuh Donny.
Donny juga menjelaskan bahwa akibat overweight dan obesitas pada anak usia sekolah dan remaja diantaranya resiko lebih besar terkena asma, gangguan kognitif, serta dampak sosial dan ekonomi bagi anak, keluarga, dan masyarakat. Dalam jangka panjang, overweight dan obesitas pada anak bisa meningkatkan risiko terjadianya diabetes, penyakit jantung, beberapa jenis kanker, penyakit pernapasan, kesehatan mental, dan gangguan reproduksi di kemudian hari.
Obesitas dan overweight yang terjadi sepanjang hidup pada remaja puteri, kemungkinan besar akan menjadi wanita yang kelebihan berat badan, sehingga ketika mengalami kehamilan, bayinya kemungkinan besar dan akan memiliki berat lahir lebih besar sehingga akan menyulitkan dan akan memunculkan banyak masalah.
“Faktor risiko overweight dan obesitas dalam kerangka Bio-Sosiologi bersifat multifaktor, bisa terjadi dari berbagai tingkatan (individu, keluarga dan teman bermain, penitipan anak dan sekolah, masyarakat dan lingkungan binaan, masyarakat, dan kebijakan publik). Untuk itu diperlukan upaya pencegahan dan penanggulangan pada usia dini dengan melibatkan berbagai pihak terkait,” pungkas Donny.
Sementara itu Sudikno, peneliti ahli madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, menjelaskan dalam paparannya berjudul “Obesitas dan Hipertensi Pada Remaja di Indonesia” bahwa dalam dua dekade terakhir, hipertensi cenderung menunjukkan peningkatan risiko pada kelompok usia muda dan hampir 7% remaja yang prahipertensi kemudian menderita hipertensi setiap tahun.
“Secara global, faktor risiko metabolik nomor satu untuk kematian Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah peningkatan tekanan darah yang menyebabkan 19% kematian global, diikuti oleh kelebihan berat badan atau obesitas dan peningkatan glukosa darah. Hipertensi pada masa kanak-kanak berkolerasi dengan penyakit kardiovaskular di masa dewasa dan peningkatan obesitas pada anak-anak dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah dan hipertensi,” jelasnya.
Lebih lanjut Sudikno menjelaskan, faktor risiko hipertensi pada remaja disebabkan oleh obesitas, kurangnya mengkonsumsi buah dan sayur, kurangnya aktivitas fisik, kurangnya kualitas tidur (<8 jam), konsumsi natrium dan lemak jenuh yang berlebih, merokok, pendidikan yang kurang, mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi dan jenis kelamin laki-laki yang lebih berisiko dibanding perempuan.
“Beberapa rekomendasi klinik yaitu anak-anak diukur tekanan darah setiap tahun mulai dari usia tiga tahun, semua anak-anak dan remaja dengan hipertensi harus diskrining untuk hiperlipidemia dan penyakit ginjal, anak-anak di bawah enam tahun dengan hipertensi dan anak-anak serta remaja dengan fungsi ginjal abnormal atau hasil urinalisis harus menjalani ultrasonografi ginjal, dan anak-anak obesitas dan remaja dengan hipertensi harus dievaluasi untuk diabetes melitus dan perlemakan hati,” paparnya.
Selain itu, semua anak dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup terapeutik misalnya menurunkan berat badan, melakukan aktivitas fisik, makan makanan sehat rendah garam, menghindari rokok dan mengkonsumsi alkohol juga mengurangi stress. Pemantauan tekanan darah rawat jalan juga diperlukan untuk memastikan hipertensi pada anak-anak dan remaja.
Dirinya menjelaskan, anak-anak dengan gejala hipertensi, hipertensi stadium 2 tanpa faktor yang dapat dimodifikasi seperti obesitas, bukti hipertrofi ventrikel kiri pada ekokardiografi, hipertensi stadium apa pun yang berhubungan dengan penyakit ginjal kronis atau diabetes, atau hipertensi persisten meskipun telah dilakukan uji coba modifikasi gaya hidup memerlukan konsumsi obat antihipertensi.
“Oleh karena itu kita perlu mengendalikan atau membatasi penggunaan ponsel, tablet, video game, dan media sosial, mempromosikan aktivitas fisik seperti GERMAS, pola makan yang seimbang, konsumsi makanan sehat dan pembatasan produk makanan tinggi garam dan perlu mempertimbangkan diet khusus, terutama memberikan Program Makan Bergizi Gratis pada anak dan remaja sekolah,” pungkasnya.
Dua narasumber lain yaitu Uswatun Hasanah dari Kementerian Kesehatan RI memaparkan tentang kebijakan dan strategi penanganan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia, sedangkan Helda Khusun dari SEAMEO RECFON/UHAMKA menjelaskan tentang ultra processed food dan food labelling kaitannya dengan obesitas pada anak dan remaja. (lisna,aa/ ed.sl)