IDEN

Detail Ulasan

Profesor Riset BRIN Teliti Siklus Karbon Laut untuk Mitigasi Perubahan Iklim dan Pembangunan Ekonomi Biru

Diterbitkan pada 18 Juli 2024

Jakarta - Humas BRIN. A'an Johan Wahyudi, pria kelahiran Bojonegoro 20 Januari 1983 dikukuhkan menjadi profesor riset kepakaran biogeokimi laut dalam acara orasi pengukuhan profesor riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (17/7). Dia berhasil meneliti Signifikansi Siklus Biogeokimia Karbon Laut bagi Sistem Biosfer dan Pembangunan Ekonomi Biru Indonesia.

"Manfaat dari riset dan pemahaman mendalam mengenai siklus biogeokimia karbon laut ini sangat besar, terutama dalam mengembangkan strategi mitigasi perubahan iklim yang lebih efektif, mendukung kesehatan ekosistem laut, dan meningkatkan ketahanan pangan melalui pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, sehingga dapat mendukung pembangunan ekonomi biru," terang A'an. 

Pria yang meraih gelar Doktor bidang Sustainable Environmental Studies dari University of Tsukuba Jepang itu, menyebutkan bahwa penelitian ini memberikan state of the art mengenai siklus karbon di perairan laut Indonesia yang melibatkan berbagai reservoar dan proses aliran karbon. Menurutnya, prakiraan variabilitas karbon laut memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi biru karena karbon laut memainkan peran kunci dalam mengatur iklim global dan menyediakan layanan ekosistem yang vital. 

"Dengan memahami variasi karbon laut, termasuk penyerapan dan pelepasannya ke atmosfer, kita dapat mengembangkan strategi adaptasi dan mitigasi yang lebih efektif terhadap perubahan iklim. Tentunya, kontribusi ini bermanfaat pada upaya pemerintah Indonesia dalam menekan laju emisi karbon serta meningkatkan pemanfaatan potensi ekonomi biru laut Indonesia," ucapnya.

Apalagi, lanjut A'an, saat ini peningkatan ketidakpastian iklim global dan perubahan variabel lautan yang cepat menuntut pendekatan yang lebih holistik dan terpadu dalam memahami dan mengelola dinamika karbon pada sistem laut. Salah satu tantangan utama adalah meningkatkan resolusi dan cakupan data observasi in-situ, mengingat kompleksitas spasial dan temporal siklus biogeokimia karbon. 

Selain itu, proses akuisisi data laut juga memiliki tantangan saat peralatan untuk analisis laboratorium dan teknologi akuisisi data lapangan masih terbatas. Integrasi data dari berbagai sumber, termasuk model dan produk satelit, perlu diperkuat untuk meningkatkan akurasi dan pemahaman kita terhadap variabilitas karbon laut.

"Perjalanan riset ini membuka pintu menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang peran laut Indonesia dalam dinamika karbon global. Tantangan dan peluang di masa depan menuntut kerjasama yang erat dan tindakan kolektif untuk menjaga kelangsungan hidup ekosistem laut Indonesia yang sangat berharga ini," katanya.

Dengan demikian, A'an menyebutkan siklus biogeokimia karbon perlu dikaji secara komprehensif melibatkan observasi in-situ, pemanfaatan data model dan produk satelit, serta pemantauan yang terencana dan kontinyu. Sejauh ini, hasil kajian komprehensif ini dapat menghasilkan perkiraan valid cadangan karbon ekosistem karbon biru di Indonesia, faktor emisi ekosistem padang lamun setiap provinsi di Indonesia, variabilitas karbon organik partikulat di laut Indonesia, periodisasi pengayaan karbon laut, dan proyeksi konsentrasi karbon laut di masa yang akan datang melalui prakiraan deret waktu (time-series forecast). (jml)