Serpong – Humas BRIN. Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORNM BRIN) menyelenggarakan webinar ORNAMAT seri ketiga pada Selasa (31/5). Acara ini menghadirkan dua narasumber pusat riset (PR) ORNM, yakni Hilmi El Hafidz Fatahillah dari PR Teknologi Pertambangan dan Agus Budi Prasetyo dari PR Metalurgi.

Kepala ORNM BRIN, Ratno Nuryadi, menyampaikan bahwa ORNAMAT ini merupakan forum presentasi ilmiah hasil riset dan inovasi dari OR Nanoteknologi dan Material.  “Webinar ini untuk menguatkan iklim riset kita, menambah pengetahuan, dan wawasan. Sehingga akumulasi ilmu pengetahuan kita semakin bertambah, dan juga sebagai sarana untuk membuka peluang kerja sama, kolaborasi dengan mitra, baik internal BRIN maupun eksternal,” ujar Ratno.

Lebih lanjut Ratno dalam sambutannya menerangkan sekilas agenda ORNAMAT. “Kami sudah mengeluarkan agenda untuk seri kegiatan ORNAMAT untuk semua kelompok riset sampai Februari 2023, sehingga semua kelompok riset memperoleh bagian dalam agenda ini,” jelasnya.

ORNAMAT seri 3 yang dimoderatori oleh Hubby Izzudin dari PR Material Maju, Hilmi El Hafidz Fatahilah dari Kelompok Riset Eksplorasi Pertambangan, mempresentasikan ‘Identifikasi Persebaran Formasi Breksi Vulkanik untuk Mengetahui Potensi Air Tanah di Sekitar Area Pertambangan Menggunakan Pemodelan 3D Data Resivitas’. Sementara Agus Budi Prasetyo dari Kelompok Rset Ekstraksi Metalurgi, memaparkan ‘Terak Feronikel sebagai Secondary Resources Mineral Berharga melalui Ekstraksi Piro-Hidrometalurgi’.

Menurut Ratno, masing-masing tema dari dua pusat riset itu merupakan hal yang menarik. Masih saling berdekatan temanya dan terkait isu tentang pertambangan metalurgi yang menjadi isu nasional.

“Tentunya ini dalam rangka mendukung isu agenda nasional dan rencana aksi BRIN, khususnya ketika dikaitkan dalam mendukung Undang-undang Minerba Nomor 3 tahun 2020, yang menjawab pemurnian mineral dalam negeri dan ini sangat dekat dengan pusat riset kita, teknologi pertambangan dan juga metalurgi,” ucapnya.

“Dengan sumber daya kita yang sangat melimpah, perlu kita maksimalkan dan menjadi perhatian kita semua. Juga material strategis, yang dibutuhkan di dalam program nasional yang lain seperti material baterai, untuk kendaraan listrik, kemudian isu-isu tentang pengolahan nikel,” imbuh Kepala ORNM.

“Mudah-mudah webinar ini memberikan wawasan baru wawasan yang lebih luas kepada kita semua,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, pemateri pertama, Hilmi El Hafidz Fatahillah, menjabarkan tentang proses identifikasi formasi batuan breksia vulkanik, dalam kaitannya terhadap potensinya sebagai aquifer air tanah di area pertambangan. Riset ini menggunakan pemodelan tiga dimensi dari data resitifitas bawah permukaan.

Menurutnya, riset yang ia dan timnya lakukan ini berdasarkan kebutuhan untuk menemukan potensi akuifer dalam area pertambangan, untuk kegiatan pendukung dari pertambangan dan kegiatan pemrosesan dari hasil-hasil tambang.

“Penelitian ini dilakukan dengan cara mengindetifikasi geometri, mengestimasi volume potensi akuifer di area studi, mengimplementasikan permodelan tiga dimensi, serta inversi metode robust untuk studi hidrogeologi,” kata Hilmi.

Pada pemaparan berikutnya, Agus Budi Prasetyo membagikan pengalaman risetnya di bidang ekstraksi metalurgi khusus untuk sumber daya sekunder terak feronikel. “Terak feronikel merupakan limbah buangan dari pengolahan feronikel, baik badan usaha negara maupun perusahaan swasta yang ada di Indonesia, dengan jumlah yang cukup banyak. Kami menggunakan ekstrasi piro-hidrometalurgi dengan harapan masih dapat memanfaatkan bahan atau unsur-unsur berharga dari feronikel ini,” ungkap Agus.

Dirinya menjabarkan kandungan dari terak feronikel yang dapat dimanfaatkan seperti silika, magnesium, serta logam berharga lainnya seperti nikel, kobalt, besi, dan logam tanah jarang (LTJ) yang memiliki nilai jual tinggi. “Silika dapat digunakan untuk industri keramik, cat, ban, gelas, konstruksi, kosmetik, aspal, dan lain-lain. Sementara magnesium dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pasta gigi, industri cat, farmasi, kosmetik, pupuk, dan lainnya,” tuturnya.

Agus juga menginformasikan bahwa Indonesia memiliki potensi LTJ, yang saat ini pangsa pasarnya didominasi Tiongkok. “Ada beberapa unsur yang dapat dimanfaatkan untuk baterai, katalis, dengan harga tinggi sekali. Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba untuk melakukan penelitian melalui ekstraksi piro-hidrometalurgi agar bisa dimanfaatkan untuk industri-industri yang membutuhkan,” tandasnya. (esw, har/ ed: adl)

Sebarkan