Jakarta – Humas BRIN. Gary Fellers, penulis buku “Creativity for Leaders”, pernah mengatakan “Knowing where you’re going helps you get there”.

Kurang lebih sudah satu tahun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berproses menuju cita-cita adiluhung membangun riset dan inovasi mewujudkan Digital, Blue, and Green Economy di Indonesia. Cita-cita bangsa Indonesia yang akan menjadikan teknologi sebagai tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Pastinya, transformasi ini dilandasi oleh energi positif untuk masa depan yang lebih cerah, bukannya membawa energi negatif yang membuat kemunduran iklim riset dan dan inovasi ditanah air. Walaupun, tentunya banyak dinamika yang pasti terjadi seiring proses tersebut. Permasalahannya bukan semata-mata hanya tujuan saja, tetapi bagaimana sivitas BRIN memandang proses transformasi ini, sehingga bisa mewujudkan tujuan mulia tersebut.

Kurang lebih satu dekade yang lalu, ketika pertama kali bergabung dengan salah satu lembaga penelitian pemerintah yang kini melebur menjadi BRIN, tidak pernah terbayangkan kelak akan lahir  institusi BRIN seperti ini. Kehadiran BRIN yang  membawa konsep integrasi, tentunya mengubah paradigma lama proses riset dan inovasi yang telah berjalan sejak sekian lama. Hal ini dapat terlihat dari proses bisnis riset dan inovasi yang terjadi selama kurun waktu satu tahun ke belakang, dimana iklim riset yang sebelumnya telah berjalan secara “business as usual” berganti dengan respon yang tidak kalah tenar “wait and see” untuk menyongsong paradigm baru BRIN.

Sikap kegamangan ini, pastinya tidak bisa dilihat dari satu sudut negatif saja, alih-alih menjadi suatu respon yang cermat dan waspada terhadap suatu perubahan. Suatu respon yang sesuai dengan analytical skills, kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap ilmuwan, yaitu sikap penuh keingintahuan (curiosity), sikap memahami suatu masalah (understanding context) dan kepandaian merancang suatu strategi (strategy). Dengan suatu harapan akan segera bergerak setelah masa transisi ini berakhir. Hanya saja, lembah kenyamanan ini memang harus segera dibakar, agar penghuninya segera berpindah dari zona  ini menuju tempat tujuan yang sudah direncanakan.

Zona Kenyamanan

Zona kenyamanan memang memperlalaikan. Seakan pagar tinggi kawat berduri yang mengelilingi sebuah area tambang, para pekerja terluput bahwa ada jutaan kebun yang tumbuh subur  di tempat  lain,  daripada  area tambang  sendiri  yang  gersang  walaupun  menghasilkan. Kelalaian  ini bisa berlarut-larut  hingga suatu  saat  dimana  hanya  menyisakan kubangan dan kenangan. Dan memang itulah jatidirinya. Di sisi lain, proses riset dan inovasi berlawanan dengan esensi zona kenyamanan.  Riset  dan  inovasi  mempunyai sifat  alamiah  yang  berproses, tidak menetap pada suatu keadaan tertentu, karena merupan proses pencarian, yang membutuhkan pergerakan. Proses menuju suatu peningkatan pemahaman terlepas akan tercapainya pada puncak keberhasilan atau malah terperosok ke dalam jurang kegagalan. Suatu proses yang akan menjauhkan dan memutuskan diri dari zona kenyamanan. Sebagai suatu tamsilan nyata yang menunjukkan betapa bahayanya zona kenyaman adalah pelajaran bagaimana tumbanganya raksasa industri NOKIA dalam kegagalanya merespon proses riset dan innovasi yang terus berkembang.

Setelah mengulas zona kenyamanan yang berpotensi melemahkan semangat riset dan inovasi, ada baiknya mengulas faktor yang harus dimiliki untuk melepaskan diri dari zona kenyamanan, yaitu kesadaran (awareness). Menurut KBBI, kesadaran mempunyai dua makna, yaitu keinsafan, keadaan mengerti, dan hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang. Melihat definisi ini ada setidaknya dua sisi yang bisa dimunculkan yaitu proses kesengajaan, dimana segenap sivitas BRIN secara sadar mengerti akan situasi dan proses perubahan ini, yang kedua adalah kepekaan, yaitu kemampuan sivitas BRIN untuk bereaksi terhadap proses transformasi yang sedang berlangsung ini. Walaupun kemungkinannya kecil, ketidahtahuan sivitas BRIN akan arah transformasi ini akan menghambat laju perbaikan iklim riset dan inovasi. Peran pimpinan sangat penting dalam menanamkan arah, visi, dan misi BRIN ke segenap sivitasnya hingga mengakar. Ketakacuhan elemen BRIN dalam menyongsong perubahan ini, dapat didekati dengan sikap bijak dan persuasif dari seluruh sivitas BRIN terlebih dari para pemangku BRIN.

Sesuatu yang besar isinya akan bermacam-macam. Proses tranformasi institusi sebesar BRIN, yang menggabungkan empat besar institusi sebelumnya dan beberapa badan-badan riset yang lain, pun beserta entitas didalamnya, bukan sesuatu yang mudah untuk menyelaraskannya. Butuh suatu usaha yang besar dan berkesinambungan agar frekuensi resonansi akan semakin tercapai. Keterikatan emosional masa lalu bukan sebagai faktor penghambat, hal yang sangat jelas terlihat pada awal-awal proses transformasi ini, yang sangat bersebrangan dengan cita-cita penggabungan yang sedang diusung. Hendaknya setiap sivitas BRIN mulai mempunyai sebuah rasa memiliki (sense of belonging) BRIN sebagai suatu bangunan rumah baru yang lebih megah. Rumah yang di dalamnya terdapat berbagai macam perbendaharaan yang sebelumnya tidak ditemui, yang dapat digunakan untuk memperbesar, menghias, dan memperkokoh bangunanya, bukan malah untuk menghancurkannya. Kalaupun tidak demikian seperti yang seharusnya, yang akan terjadi adalah integrasi semu. Integrasi yang akan membawa proses riset dan inovasi ke paradigm lama yang sejak awal hendak ditinggalkan. Boleh jadi keberhasilan bukan karena tidak ada proses perbaikan, hanya saja laju perbaikan lebih lambat daripada laju perusakan. Laju perbaikan berjalan sesuai dengan deret aritmatika, sedangkan laju kerusakan mengikuti deret geometri!

Salah satu hal lain yang bisa memunculkan sikap antipati terhadap proses perbaikan adalah ketidakadilan. Keadilan adalah suatu harga berharga yang akan dicari semua orang. Boleh jadi riak-riak perlawanan yang muncul adalah ekses dari ketidakadilan. Proses penting transformasi ini harus membawa ruh keadilan bagi semuanya. Tidak ada kompromi terhadap usaha-usaha yang akan menguntungkan golongan tertentu. Sistem meritokrasi yang menjamin setiap sitivitas BRIN untuk dapat memaksimalkan potensinya, sistem reward and punishment yang dijalankan untuk memompa semangat iklim riset dan inovasi.

Terakhir  salah  satu  hal yang  penting  juga di mata  individu  sivitas BRIN adalah sikap keteladanan. Siapakah role model yang bisa dianut? Adakah sosok tersebut? Atas dasar apa justifikasinya? Sekilas pertanyaan-pertanyaan sepele tersebut akan membuat sivitas BRIN mengernyitkan dahi. Siapakah yang memang layak untuk dijadikan panutan. Keteladan butuh suatu kematangan. Sudah selayaknya senior adalah yang paling pantas dijadikan panutan. Bukan hanya kesenioritasan dalam umur saja, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah kesenioritasan dalam pengalaman, ilmu, usaha dan sikap. Kesenioritasan tidak bisa diklaim, akan hanya bisa didapat  dari pengakuan, pun tidak bisa diobral bebas. Salah satu poin yang  menarik adalah kesuksesan senior dapat diukur apabila mampu menghasilkan junior yang lebih baik darinya dan keberhasilan junior akan dinilai apabila mampu memberikan penghargaan yang layak bagi seniornya.

Akhirnya dilihat dari sudat pandang proses transformasi, sangat sesuai apabila perjalanan BRIN ini kita pandang sebagai rombongan besar yang akan melakukan perjalanan jauh. Kalaulah melihat umur satu tahun, belumlah terlambat untuk menjelaskan kemana rombongan akan menuju, bekal apa yang akan dibawa, jalan mana yang akan ditempuh, dan bahaya apa yang akan dihadapi. Satu tahun perjalanan bisa dikatakan masih berada di tiitk awal keberangkatan. Persamaan visi dan misi menjadi sangat penting untuk sampainya tujuan besar dan mulia BRIN. Keikutsertaan seluruh sivitas BRIN menjadi syarat yang mutlak. Kecemasan akan ketidakpastian masa depan harus diredam. Kepedulian yang tinggi juga harus dipunyai oleh setiap komponen BRIN, terlebih lagi para seniornya. Kepercayaan harus menjadi tali yang kuat untuk menyatukan seluruh elemen, Sehingga pada akhirnya akan terdapat  lima kemungkinan kelompok dalam merespon proses transformasi ini: Yes, No, Maybe, I do not know, and I do not care. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Penulis:

Hana Arisesa, Peneliti pada Pusat Riset Telekomunikasi BRIN (Juara Favorit III Essay Writing Competition #SetahunBRINTeraksi)

Artikel ini juga telah ditayangkan di kompas.com: https://www.kompas.com/sains/read/2022/06/20/203000723/riset-dan-inovasi-sebagai-sebuah-perjalanan-bukan-suatu-tujuan?page=1

Sebarkan