Porang merupakan jenis umbi-umbian yang dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia. Umbi porang mengandung zat glukomanan yang baik untuk metabolisme tubuh. Bahan baku porang dapat digunakan untuk industri makanan seperti mi dan camilan sehat. Selain itu, bahan baku porang bisa digunakan untuk industri kosmestik seperti lipstik dan masker, serta pasta gigi.

Euforia umbi porang baru muncul di Indonesia setelah Presiden Jokowi menyatakan bahwa porang merupakan bahan pangan baru untuk Indonesia dan dunia. Banyak petani-petani porang baru bermunculan, diantaranya petani di Subang Jawa Barat. Ada sekitar 10 kelompok tani porang baru disana. Satu kelompok tani bahkan bisa menghasilkan umbi porang mencapai 10 ton per tahun.

Sayangnya, ketersediaan porang yang melimpah tidak diimbangi dengan permintaan pasar dalam negeri, yang menyebabkan harga porang cenderung murah. Permintaan bahan baku porang malah datang dari luar negeri. Hampir 90 persen produk porang yang dikemas dalam bentuk chip kering diekspor ke negara-negara yang membutuhkan porang sebagai bahan baku pangan mi, seperti Jepang dan Cina. Industri pabrik pengolahan porang dalam negeri saat ini terdapat di Madiun, Pasuruan, Semarang, Surabaya, dan Puwokerto. Itupun masih menggunakan teknologi luar negeri.

Potensi pengolahan umbi porang ini menjadi fokus Achmat Sarifudin, Peneliti Pusat Riset dan Teknologi Tepat Guna (PRTTG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak tahun 2021. Ia dan timnya mengembangkan teknologi peralatan sistem untuk mengekstraksi glukomanan dan menghilangkan asam oksalat.

“Asam oksalat jika dikonsumsi menimbulkan rasa gatal serta menimbulkan gangguan pada ginjal jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Karena itu, fokus kami adalah bagaimana mendeteksi kandungan asam oksalat pada porang, karena ini menjadi “titik kunci” bahan pangan porang agar aman untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Riset pengolahan umbi porang ini kemudian menjadi ide penelitian bersama antara BRIN dengan Thailand Institute of Scientific and Technological Research (TISTR), yang mengangkat tema penguatan ketahanan pangan di Asia Tenggara dengan menggunakan umbi lokal Porang.

Dalam penelitian bersama ini, BRIN melakukan riset teknologi pengolahan tepung porang dengan metode produksi hijau (green production method). “Kami mengupayakan penggunaan bahan kimia yang tidak berbahaya atau basisnya air, dan kami tidak membuang bahan pelarut yang digunakan untuk mengekstrak glukomanan tersebut ke lingkungan, tetapi dengan sistem recovery, sehingga bahan kimia bisa kami gunakan kembali untuk ekstraksi selanjutnya,” tutur Achmat.

Sementara, tim TISTR melakukan penelitian pengembangan produk. Pengembangan produk berasal dari 3 bahan, yaitu porang, daun kelor, dan lidah buaya. Serangkaian tes yang akan dilakukan adalah karakteristik kimia, fisik, sensorik, kandungan gizi, masa simpan, dan efek glikemic index, serta respon enzim yang bereaksi terhadap penderita diabetes.

“Di akhir, kami berharap hasil penelitian ini dapat memproduksi pangan pokok yang sehat seperti mie, beras, dan camilan yang sehat. Produk ini nantinya cocok dikonsumsi untuk program diet sehat dengan rasa yang enak,” jelasnya.

Penelitian BRIN dan TISTR terkait umbi porang sebagai bahan pangan juga menambahkan bahan dari ekstrak daun kelor dan lidah buaya. Penambahan bahan ini bertujuan untuk melengkapi kandungan gizi. Daun kelor sebagai superfood mengandung asam amino esensial, mineral kalsium, ferrum, magnesium, dan zinc, serta antioksidan. Lidah buaya juga mengandung antioksidan tinggi.

“Untuk itu, kami ingin menghasilkan produk pangan pokok dan camilan yang kandungan glikemiknya rendah, kalori rendah, tinggi serat, dan mengandung prebiotik,” jelas Achmat. 

Penelitian bersama ini yang kemudian mengantarkan tim kolaboratif ini memenangkan WAITRO Innovation Award (WIA) 2021.

PRTTG BRIN menargetkan pengembangan teknologi pengolahan porang hingga teknologi produk turunannya secara keseluruhan dapat rampung pada tahun 2024. “Saat ini skala penelitian masih skala lab. Target terdekat kami, di tahun 2022, kami mengembangkan teknologi pengolahan tepung porang sampai skala pilot (pilot plant),” ucap Achmat. 

Pangan Sehat untuk Usia Empat Puluhan dan Penderita Penyakit Degeneratif

Porang digadang-gadang menjadi bahan pangan pokok namun tidak mengandung karbohidrat tinggi, sehingga baik untuk usia 40 tahunan keatas yang rentan terhadap penyakit degeneratif, seperti obesitas, diabetes melitus, kanker, dan sebagainya.

Achmat mencontohkan, dalam satu bungkus mi shirataki 76-84 gram. Dalam formulasi pembuatannya dapat menggunakan tepung porang 3-5 persen. Tepung porang mengandung glukomanan yang bisa menyerap air sampai 10 kali lipat.

“Jadi semakin lama tepung semakin mengembang, itu yang membuat kenyang. Sehingga mengonsumsi bahan pangan porang, dapat kenyangnya, dengan karbohidrat yang rendah,” katanya. 

Untuk usia 40 tahun ke atas, ujar Achmat, sebaiknya tidak mengonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi yang memicu peningkatan gula darah. Karena itu, produk turunan dari porang ini yang diharapkan adalah makanan pokok seperti mi, beras, dan camilan ringan.

Setelah melakukan penelitian, Achmat pun melihat potensi umbi porang menjadi produk makanan pokok yang sehat. Dia ingin agar umbi porang tidak hanya dilihat dari potensi pangsa pasar ekspor yang tinggi. Akan tetapi juga dari sisi manfaat yang selama ini belum banyak diketahui.

“Kami melihat ini bukan hanya pangsa pasar ekspor semata. Tetapi juga bagus untuk kesehatan. Kita jangan sampai mengekspor, sementara bangsa kita sendiri tidak merasakan manfaatnya. Maka kita mendorong dan mempopulerkan produk olahan makanan dari porang,” katanya.

Maka dari itu, dia berharap agar penelitian ini bisa berlanjut dan menghasilkan produk. Impiannya porang bisa menjadi umbi lokal yang dapat memperkuat ketahanan pangan di Asia Tenggara.

Sebagai informasi, dalam penelitian teknologi pengolahan porang ini, PRTTG BRIN bekerja sama dengan kelompok tani Subang dan juga dukungan untuk scalling up kedepannya oleh perusahaan lokal di bidang agroindustri. Pusat Teknologi Agroindustri BRIN juga tengah melakukan pengembangan produk turunan porang berupa mie sihirataki dan minuman kesehatan. (drs, tnt, jml).

Sebarkan