Cibinong, Humas BRIN – Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong dan menyukseskan program vaksinasi nasional demi kesehatan warga bangsa dengan melibatkan berbagai pihak. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menegaskan, saat ini BRIN sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di Cibinong Science Center (CSC) untuk produksi vaksin skala terbatas berstandar good manufacturing practice (GMP) berbasis platform protein rekombinan, dan fasilitas animal-BSL-3 primata untuk mendukung uji pre-klinis menggunakan hewan macaca (monyet), yang akan memegang peranan krusial dalam proses pengujian di tahap uji pra-klinis. “Seluruh infrastruktur tersebut akan siap sebelum semester kedua tahun depan. Infrastruktur ini akan menjadi infrastruktur terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh industri terkait dalam kolaborasi pengembangan berbagai vaksin dan produk farmasi lainnya, termasuk untuk hewan, dalam jangka panjang,” terangnya.

Pada kesempatan terpisah, mewakili Kedeputian Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, Plt. Deputi bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mego Pinandito menyampaikan perkembangan riset Vaksin Merah Putih kepada Wamenkes RI, sebagai tugas dan amanah yang telah diamanahkan Kemenristek BRIN sebelumnya. “Sesuai dengan perubahan-perubahan saat ini, BRIN telah melakukan konsolidasi dan integrasi terkait dengan SDM, anggaran dan infrastruktur dari lima lembaga (Kemenristek BRIN, LIPI, BPPT, LAPAN dan BATAN). Termasuk dengan berbagai kegiatan pengembangan vaksin yang ada di Eijkman, LIPI dan BPPT saat ini bergabung menjadi satu di BRIN,” ungkapnya dalam sebuah pertemuan pembahasan progres rencana uji klinik kandidat Vaksin COVID-19 yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono (15/10).

“Tentunya ini membuat satu kekuatan baru, dengan bergabungnya tim-tim yang sudah ada, fasilitas, peralatan, laboratorium yang berada di bawah koordinasi BRIN. Selain itu BRIN sendiri akan membuka berbagai fasilitas laboratorium untuk digunakan bersama-sama, selain fasilitas yang sudah ada, fasilitas tambahan, dan anggarannya. Memang ada sedikit perubahan pengelolaan anggaran, yang tadinya terpisah-pisah di Eijkman, LIPI, dan Kemenristek BRIN pada saat itu, sekarang telah menjadi satu dalam BRIN,“ jelas Mego. 

“Selain itu untuk konsorsium sendiri, terus dilakukan koodinasi bersama dengan tim lanjutan. Satu atau dua personil memang berganti karena perubahan dalam struktur. Tetapi kami tetap menggunakan konsep dua konsorsium, yaitu yang pertama konsorsium riset dan inovasi untuk penanganan Covid-19, yang terkait dengan pengembangan beragam imunomodulator, peralatan screening dan sebagainya yang terus berjalan, dan yang kedua konsorsium vaksin merah putih,“ imbuh Mego.

Mego menjelaskan bahwa urgensi pengembangan vaksin yang memanfaatkan isolat virus Covid-19 yang bersirkulasi di Indonesia merupakan upaya pemenuhan kebutuhan vaksin masyarakat, percepatan pemulihan ekonomi nasional, dan simbol kemajuan dan kemandirian bangsa. “Dengan komitmen dan persiapan industri dalam negeri, diharapkan kebutuhan vaksin di Indonesia bisa dipenuhi oleh Vaksin Merah Putih bahkan dapat diekspor. Pengembangan vaksin di Indonesia terdiri dari pengembangan vaksin dalam negeri Vaksin Merah Putih, dan pengembangan vaksin melalui kerja sama luar negeri,“ jelasnya di hadapan perwakilan perguruan tinggi terkait dan mitra industri yang hadir.

“Pada intinya platform Covid-19 yang sedang dikembangkan bersama mulai dari yang berbasis Viral Vector, mRNA, Protein Rekombinan dan Inactivated Virus. Tapi ini sebetulnya bagian-bagian yang kita jadikan satu akumulasi kemampuan atau knowledge dari proses ini sendiri untuk kita kembangkan,“ terang Mego.

Perkiraan Uji Pre-Klinik

“Pada Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, progres ekspresi protein SpikeReceptor Binding Domain (RBD) pada yeast sedang dilakukan bersama mitra industri pada skala pilot (percontohan). Fokus pengembangan vaksin pada protein rekombinan berbasis sel mamalia dan sel yeast. “Diperkirakan uji Pre-Klinik untuk vaksin merah putih yang berbasis sel yeast dapat dimulai pada November 2021, dilanjutkan uji klinik tahap 1-3 bulan Januari-Agustus 2022, diperkirakan EUA keluar bulan September 2022,“ ujar Mego.

 “Sedangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sekarang sudah bergabung dalam BRIN, progres pada perolehan beberapa protein rekombinan. Direncanakan, kerja sama dengan mitra industri, diperkirakan pada Januari 2022 akan mulai dilakukan pengolahan data, pelaporan dan draft paten,“ tutur Mego. “Vaksin Merah Putih dapat menjadi alternatif untuk kebutuhan ketersediaan vaksin di masa depan, baik sebagai booster shot atau untuk mengantisipasi varian virus baru SARS-Cov-2,“ tutup Mego mengakhiri paparannya.

Pada kesempatan yang sama, Tedjo Sasmono dari Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN menyampaikan paparan progress pengembangan Vaksin Covid-19 menggunakan isolat virus Indonesia. “Pada intinya Eijkman mengembangkan dua platform yakni mamalia-stable dan yeast. Pada saat ini Eijkman sedang mengembangkan dua seed dengan system ekspresi yeast yang sedang dilakukan peningkatan yield di mitra industri. Secara paralel, Eijkman juga terus mengembangkan system ekspresi yeast yang baru dan salah satu di antaranya mengandung mutasi Varian Delta,” paparnya.

“Usaha memperbaiki yield berhasil dilakukan untuk protein RBD dan berhasil diekspresikan dan dipurifikasi pada skala flask 30 ml. Untuk scale up menggunakan bioreaktor yang diharapkan akan meningkatkan yield lebih baik lagi. Saat ini protein RBD-Delta dari yeast masih dalam skala lab dan belum dalam tahapan GMP. Selanjutnya akan segera dilakukan uji imunogenisitas di hewan coba mencit di skala lab. Sementara untuk pengembangan protein RDB dari sel mamalia juga tetap berlangsung dan ada kemajuan, saat ini dalam tahap scale up di bioreaktor di Eijkman,” terang Tedjo.

Dirinya juga menerangkan rencana selanjutnya adalah uji pre-klinik dan uji klinik. “Apabila protein kandidat vaksin telah berhasil di scale-up di fasilitas GMP, maka akan dilakukan uji pre-klinik di hewan coba. Pendanaan uji pre-klinik bisa dari berbagai pihak namun kami juga sudah mengusulkan  pendanaan uji pre-klinik ke BRIN. Uji klinik bisa dibiayai oleh oleh industri maupun dari pemerintah,” ungkap Tedjo lebih jauh.

“Kendala yang dihadapi adalah peralatan, SDM, dan pendanaan yang terbatas mempengaruhi upaya percepatan pengembangan riset vaksin. Ada pula hambatan teknis di lab yang realitanya juga dihadapi dan dijadikan pelajaran dalam pengembangan vaksin dari nol. Namun lama-lama kami juga mendapat cara mendapat yield yang lebih bagus,” imbuh Tedjo.

Menanggapi pendanaan vaksin merah-putih yang selesai Agustus 2021 lalu, Iman Hidayat selaku Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN menyatakan bahwa saat ini telah dilakukan revisi anggaran DIPA Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN untuk mendukung kebrlanjutan pendanaan Vaksin Merah Putih yang sebelumnya didanai melalui platform LPDP yang selesai di bulan Agustus. “Proses pengajuan revisi DIPA PR BM Eijkman BRIN sudah diusulkan dan tinggal menunggu persetujuan,” pungkas Iman. Memperkuat pernyatan tersebut, Mego turut menyatakan bahwa BRIN tetap terus berupaya mendukung pendanaan riset konsorsium agar dapat tercapai target yang diharapkan.

Sebagai informasi, mulai tahun anggaran 2022 BRIN juga akan membuka hibah dengan sistem kompetisi yang terbuka untuk seluruh pihak termasuk kampus dan industri yang ingin melakukan pengujian kandidat produk kesehatan dan pangan. Produk kesehatan ini mencakup antara lain obat, immunomodulator, vaksin, dan alat kesehatan. (is, sl/ ed: drs)