Jakarta, Humas BRIN, Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbentang luas dari Sabang hingga Merauke sudah selayaknya mempunyai bandar antariksa sendiri. Di sisi lain, Indonesia juga dinilai mempunyai pangsa pasar besar terkait keantariksaan sebagai upaya menciptakan nilai ekonomi dari kegiatan keantariksaan, khususnya terkait peluncuran roket.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) tengah menjajaki wilayah di Biak sebagai kandidat tempat dibangunnya Bandar Antariksa. Kajian terhadap tapak bandar antariksa sudah dilakukan sejak tahun 2007.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum memutuskan Biak sebagai lokasi Bandar Antariksa. “Sampai saat ini kita belum melakukan penetapan, Biak hanya salah satu kandidat lokasi Bandar Antariksa,” kata Handoko, Jumat (10/12).

Untuk menentukan Biak sebagai Bandar Antariksa menurut Handoko, banyak faktor yang harus dipenuhi baik dari sisi teknis maupun non teknis. Secara teknis calon tapak dekat ekuator, menghadap ke laut bebas, dan memiliki struktur tanah yang keras sehingga bisa menjadi fondasi yang kuat untuk peluncuran roket.

Rencana pembangunan bandar antariksa merupakan salah satu amanat yang tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Selanjutnya rencana ini telah masuk dalam Draft Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040.

Dalam peta Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan Tahun 2016-2040, dijelaskan bahwa pada periode tahun 2036 – 2040 teknologi peroketan Indonesia diharapkan sudah memiliki program peluncuran roket pengorbit satelit ke orbit rendah/ low earth orbit (LEO).

Dalam kajian rencana pembangunan Bandar Antariksa disebutkan bahwa bandar antariksa akan dibangun di Biak. Saat ini BRIN telah memiliki aset lahan di Kabupaten Biak Numfor yang berada di Desa Saukobye, Biak Utara, sekitar 40 km dari Kota Biak. Lahan seluas 1 juta meter persegi atau 100 hektar yang dimiliki BRIN nantinya akan menjadi bagian lokasi pembangunan Bandar Antariksa.

Menurut Handoko, dipilihnya Biak Numfor sebagai lokasi pembangunan bandar antariksa bukan tanpa sebab. “Lokasi Biak dekat dengan ekuator dan langsung menghadap ke samudra pasifik,” tambahnya.

Biak Numfor tutur Handoko, bukan satu-satunya kandidat lokasi rencana pembangunan Bandar Antariksa. Lokasi lain yang dapat dijadikan sebagai alternatif yakni Morotai dan Papua Barat.

Terkait penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan Bandar Antariksa, Handoko menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi pemerintah daerah setempat dan para tokoh masyarakat.  Selain itu, mengingat lahan yang akan dijadikan lokasi Bandar Antariksa tersebut merupakan tanah ulayat, maka diperlukan pendekatan yang intensif dengan para pemangku adat. (pur)

Sebarkan