Jakarta – Humas BRIN. Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) Tahun 2022 akan melibatkan mahasiswa dan juga akademisi. Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Boediastoeti Ontowirjo menjelaskan melalui jaringan kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi pihaknya telah mempersiapkan mekanisme pelibatan mahasiswa atau akademisi lainnya pada 34 perguruan tinggi yang tersebar di 34 provinsi yang akan menjadi petugas pewawancara.

“Kami telah melakukan serangkaian workshop dan pelatihan yang akan terus dilakukan sampai akhir Juni. Lalu di akhir bulan, akan dilakukan pelatihan petugas lapangan uji coba. Pelaksanaan uji coba akan kami laksanakan 4 Juli – 5 Agustus, di tiga provinsi yaitu Jabar, Jateng dan Kalimantan Selatan dengan menggandeng perguruan tinggi yaitu, Universitas Padjajaran, Undip danUniversitas Lambung Mangkurat,” jelasnya saat “Kick Off Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2022” di Jakarta, Kamis (16/6).

Boediastoeti berharap dalam waktu satu bulan pelaksanaan workshop dan pelatihan ini, akan dapat memberikan informasi kehandalan design survei dan sistem aplikasi yang kami bangun. Sehingga selanjutnya, pada bulan September, akan melaksanakan latihan petugas lapangan di 34 provinsi.

Sebagai panduan pihakanya juga menyiapkan 10 buku, yang bertujuan menjaga kualitas data dan efektifitas survei. Buku panduan tersebut meliputi teknis kegiatan SDKI 2022, pedoman koordinator tim dan pemeriksa, pedoman petunjuk wawancara, pewawancara rumah tangga, pewawancara wanita subur, pewawancara pria kawin dan remaja pria, pedoman KEPI pemutakhiran, aplikasi KEPI, dan aturan validasi.

Direktur Riset Teknologi dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek, Teuku Faisal Fathani menyebutkan secara prinsip Kemendikbudristek menyambut baik adanya survei ini. Menurutnya, survei ini bisa melibatkan mahasiswa yang dibimbing oleh dosen dan para peneliti dari BRIN, BPS dan BKKBN.

“Dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) kita harapkan nanti program ini bisa melibatkan mahasiswa kita dalam melaksanakan kegiatan magang di BRIN dan BPS, dalam bentuk studi independen dan juga berbagai macam program MBKM yang terkait di sini,” jelasnya.

Pada tahun ini, pihaknya berharap ada 100ribu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan MBKM, seperti pengiriman pertukaran mahasiswa ke luar negeri, kegiatan kampus mengajar, kewirausahaan, kegiatan kemanusiaan membangun desa, dan sebagainya. Sehingga banyak interaksi yang bisa dilakukan antara kegiatan survei demografi dan kesehatan ini, dengan program MBKM.

Fathani menyebutkan Kemendikbudriset siap untuk mendukung kegiatan survei SDKI. Sebelumnya pihaknya juga sudah melakukan kerjasama dengan BKKBN melalui mahasiswa peduli stunting (penting), untuk penanganan kekurangan gizi di seluruh daerah di Indonesia terutama wilayah 3 T, yakni Terdepan, Terpencil dan Tertinggal.

“Dengan kegiatan ini, saya kira mahasiswa akan sangat baik dalam melakukan survei, pengolahan data, melihat bagaimana kebijakan-kebijakan di negara ini bisa disusun berdasarkan evidence based, yang didapat hasil survei yang akurat dan akuntable dan nantinya bermanfaat meningkatkan daya saing bangsa, dan human development index dan juga menunjang SDGs,” pungkasnya. (jml)

Sebarkan