Cibinong – Humas BRIN. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengintegrasian unit kerja yang melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan Iptek di lingkungan Kementerian/Lembaga (K/L), diikuti dengan pengalihan pegawai negeri sipil K/L ke lingkungan BRIN. Sejalan dengan keluarnya peraturan tersebut, BRIN membentuk 12 Organisasi Riset (OR) baru, salah satunya OR Kesehatan.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, mengatakan, ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan penyusunan program komprehensif OR Kesehatan menjadi prioritas utama sebagai OR baru di BRIN, dan sebagai bahan rencana kinerja 2023.

Menurut Handoko, ASN harus berani bermimpi dan berusaha untuk merealisasikan mimpi tersebut dengan sebuah pola. Pola ini tidak harus selalu sama dengan yang lain, tergantung kebutuhan setiap pusat riset.

“Tugas saya dan para Deputi untuk memfasilitasi dan membantu merealisasikan mimpi itu, dan segera dibentuk dalam sebuah perencanaan yang komprehensif,” ungkap Handoko, saat membuka forum Bincang-Bincang Sivitas OR Kesehatan, secara hybrid, di Kampus Cibinong Science Center BRIN, Senin (21/3).

Kepala OR Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti, memperkenalkan 7 Kepala Pusat Riset (PR) di OR Kesehatan.

“Fokus kami membuat rumah sakit dan proses pengembangan ke depannya akan bekerja sama dengan mitra,” tutur Indi.

Ketujuh Kepala PR tersebut, yaitu Plt. Kepala PR Biomedis, Sunarno, Plt. Kepala PR Kedokteran Preklinis dan Klinis, Harimat Hendarwan, Plt. Kepala PR Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Dwi Hapsari Tjandrarini, Plt. Kepala PR Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Yuli Widiyastuti, Plt. Kepala PR Vaksin dan Obat, Masteria Yunovilsa Putra, Plt. Kepala PR Biologi Molekuler Eijkman, Sandi Sufiandi, dan Plt. Kepala PR Veteriner, Harimurti Nuradji.

Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Yan Rianto, mengatakan, tujuan utama Kedeputiannya bukan mencari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), tetapi memberikan pelayanan dan melakukan efisiensi, berkolaborasi dengan mitra dalam penyediaan alat penelitian yang canggih.

“Kami membuka mekanisme pencatatan dalam bentuk E-Layanan Sains (ELSA) poin dan top up. BRIN dalam riset dapat setara dengan negara lain dengan pembelian alat sesuai dengan tujuannya, dan kami tidak ragu untuk mengeluarkan biaya besar untuk hal ini,” kata Yan Rianto.

“Kami akan memfasilitasi kebutuhan OR Kesehatan seiring dengan integrasi sivitas ke BRIN dan alih aset,” tambah Yan Rianto.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan BRIN, Prakoso Bhairawa Putera, menjelaskan, OR Kesehatan mempunyai 8 rencana aksi nasional yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah dan wajib melaksanakannya.

“Sudah saatnya melakukan perencanaan secara komprehensif dengan basis kebutuhan dan justifikasi,” pungkasnya.

Acara yang berlangsung hingga tengah hari tersebut, diakhiri dengan dialog interaktif dan konstruktif, antara para pimpinan BRIN dengan peserta yang hadir secara tatap muka maupun daring, untuk perkembangan dan kemajuan OR Kesehatan dan BRIN ke depan. (yl ed sl/ ed: tnt)

Sebarkan