Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dibentuk pada tanggal 28 April 2021 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021. Di usianya yang baru satu tahun, BRIN berkomitmen membangun riset dan inovasi untuk negeri. BRIN dibentuk sebagai lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden yang menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Ekosistem riset dan inovasi nasional membutuhkan badan yang berperan khusus untuk mendukung kolaborasi antar pihak dan multipihak (pentahelix) agar dapat menghasilkan nilai tambah dari penelitian yang dikembangkan, baik untuk tujuan komersialisasi dan produksi maupun untuk penyusunan kebijakan.

Melalui kanal instagram live PPID BRIN yang bertema “Setahun BRINteraksi Membangun Riset dan Inovasi, Mewujudkan Digital, Blue, & Green Economy”, Minggu (24/04), Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan, BRIN merupakan representasi riset Indonesia di internasional, maka dari itu kualifikasi perisetnya harus memenuhi standar global.

“BRIN hadir untuk memfasilitasi periset ini untuk memenuhi standar tersebut, oleh karena itu juga BRIN kemarin membuka posisi dengan kualifikasi S3. Keberadaan BRIN ini juga untuk memfasilitasi diaspora yang banyak belajar di luar negeri. Karena mereka seringkali ketika ingin kembali ke Indonesia bingung belum ada tempat yang memadahi,” ujar Handoko.

Karena kualifikasi yang dibutuhkan adalah S3, lanjut Handoko, pihaknya mendorong civitas BRIN yang belum memenuhi kualifikasi tersebut untuk belajar kembali untuk meningkatkan kualifikasinya.

Menurut Handoko, BRIN hadir tidak hanya untuk periset BRIN, namun untuk seluruh periset di Indonesia seperti kalangan perguruan tinggi maupun industri. Oleh karenanya, Handoko meminta periset BRIN juga harus berkompetisi untuk mendapatkan berbagai skema yang ada di BRIN.

“Aktivitas riset sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang, bermula dari kepekaan seseorang untuk menemukan masalah apa saja di sekitar kita dan secara kreatif menemukan solusinya. Dan jika solusi tersebut jadi, dan bisa dipatenkan meski sederhana, hal inilah menjadi inovasi. Sehingga setiap orang bisa menjadi periset dan innovator,” terang Handoko.

Dijelaskan Handoko, yang dimaksud dengan BRIN hadir untuk seluruh periset ini adalah hadir untuk seluruh rakyat Indonesia, karena semua orang bisa jadi periset. BRIN berkeinginan untuk membuat masyarakat lebih peka terhadap permasalahan di sekitarnya dan berupaya secara kreatif untuk mencari solusi mengatasinya. “BRIN juga akan menjaring Inovasi akar rumput untuk menjangkau inovasi-inovasi di semua lini terutama untuk memfasilitasi inovasi-inovasi di kelas masyarakat umum. Akan kita damping supaya bisa dipatenkan dan perjelas mekanismenya,” terang Handoko. (AKB)

Sebarkan