Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai satu-satunya lembaga riset di Indonesia akan menjadi enabler dan fasilitator bagi kegiatan riset untuk mewujudkan ekosistem riset dan inovasi yang lebih baik. Salah satu upaya mewujudkan hal tersebut, BRIN mengeluarkan program skema kolaborasi bernama Pusat Kolaborasi Riset, dengan turut serta melibatkan unsur dari pemerintah, akademisi, dan industri (swasta).

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menerangkan bahwa tujuan skema ini adalah untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kelembagaan riset, yang mengikuti dinamika riset (global) secara efisien tanpa berpotensi menjadi beban berkepanjangan. Selain itu untuk meningkatkan critical mass sumber daya yang ada, terutama di BRIN, Perguruan Tinggi, dan Industri. Serta saling melengkapi unit riset yang ada dengan memanfaatkan semua skema fasilitasi dan pendanaan yang ada di BRIN.

“Prinsip dasarnya adalah berbasis kontrak dengan periode tertentu, dengan dilakukan evaluasi tahunan dan di akhir periode. Lembaga pelaksana adalah Perguruan Tinggi lokal yang memiliki SDM dengan kuantitas dan kualitas tertentu di bidang riset spesifik. Di mana harus berkolaborasi dengan Pusat Riset BRIN di bidang terkait. Nantinya semua proses seleksi murni berbasis rekam jejak dan evaluasi berbasis keluaran (output), dan seluruh personil wajib afiliasi ganda terkait output yang dihasilkan misal paten sebagainya,” jelas Handoko dalam Webinar Pembentukan Pusat Kolaborasi Riset dan Inovasi, Kamis (23/12).

Handoko melanjutkan ketentuan terkait skema Pusat Kolaborasi Riset ini adalah harus fokus ke tema unggulan spesifik dengan target tertentu, baik sains atau industri. Pengusul yang mengajukan adalah kelompok riset di Perguran Tinggi sebagai Principal Investigator (PI) bersama Pusat Riset BRIN. “Kalau Pusat Kolaborasi Risetnya itu sains murni, cukup Perguruan Tinggi dan Pusat Riset yang terkait di BRIN. Namun jika Pusat Kolaborasi Riset Industri maka wajib juga melibatkan mitra industri. Secara lokasi, nantinya Pusat Kolaborasi Riset akan berada di dalam wilayah kampus (Perguruan Tinggi),” terangnya.

“BRIN memberikan pendanaan untuk biaya SDM, SDM Manajemen RIset, bahan riset, dan penyediaan infrastrukturnya. Perguruan Tinggi berkontribusi menyiapkan alokasi periset dari unsur dosen dan mahasiswa pasca sarjana, ruang kerja, operasional perkantoran, untuk mitra industri tentunya problem riset, bahan dan fasilitas produksi, bahkan percobaan implementasi. Aplikasi pembukaan pendaftaran skema ini akan dibuka sepanjang tahun, untuk proses seleksi dilakukan secara berkala,” papar Kepala BRIN.

Adapun para pengusul dapat mengunjungi laman https://pendanaan-risnov.brin.go.id/ untuk mengetahui lebih lanjut terkait persyaratan, mekanisme, dan jadwal pendaftaran Program Skema Pusat Kolaborasi Riset. (ap)

Sebarkan