Dengan bahagia dan kerendahan hati, Widjajanti, Peneliti bidang sosiologi gender Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan gagasan tentang sosiologi, gender dan media, dalam gelaran Orasi Pengukuhan Profesor Riset, Kamis (10/3) di Jakarta. “Pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan orasi ilmiah dengan judul Sumbangan Perspektif Sosiologi Feminis: Representasi Perempuan Indonesia,” tuturnya mengawali orasi ilmiah.

Secara tegas melalui orasinya, Widjajanti menunjukkan adanya kontribusi sosiologi feminis dalam melihat perubahan dan kesinambungan. “Perempuan hadir dalam konteks lokal, nasional, dan global, sebagai karakter subjek yang bertanggungjawab. Sosiologi feminis menunjukkan upaya mengcounter tiga representasi, yaitu pengetahuan perempuan, politik, dan ruang publik,” paparnya.

Perempuan yang telah menerima tanda penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI ini mengatakan, berbekal “personal is political”, representasi mengangkat realitas sederhana dan remeh, seperti sinetron yang menjadi bukti marginalisasi berbasis gender. “Media seperti televisi adalah medium feminitas yang membelenggu perempuan, kecuali pegiatnya memiliki pengetahuan gender dan menggelitiknya,” ungkapnya.

Tayangan sinetron yang ada di televisi, menurutnya, telah memperkeruh konstruksi perempuan, walaupun memiliki potensi bernegosiasi terhadap peran tradisional. Ia menyebutkan, sebagai ilustrasi melakukan negosisasi, terhadap peran laki-laki dan perempuan bisa dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh Drakor (Drama Korea). Caranya mensubversif, mengubah peran tradisional dalam kemasan moderen.

Pencerahan kemudian terjadi melalui pengamatan terhadap dampak pandemi Covid-19. Internet telah memberikan ruang ekspresi. Widjajanti menyebutkan, salah satunya adalah perubahan aktivitas gerakan perempuan dari protes, pawai, menjadi kegiatan di media sosial yang bervariasi. “Mobilitas beku untuk menghentikan penularan Covid-19, membuat digital sebagai medium koordinasi, resistansi, maupun kegiatan, baik individual maupun kelompok,” sebutnya.

Peneliti yang telah menghasilkan publikasi sebanyak 62 karya tulis ilmiah ini menyatakan, pendekatan gender tidak gagal. Representasi, diskriminasi, dan segregasi justru menghasilkan inovasi. Perkembangan digital menghasilkan pertanyaan dan mekanisme dalam ruang publik alternatif. “Pengetahuan g/f di Indonesia tidak gagal, namun menghadapi backlash yang memilin dan memojokkan g/f,” terang Widjajanti yang memulai karirnya sebagai calon peneliti pada 1989.

Skenario Negatif dan Positif

Perempuan yang aktif dalam pembinaan kader ilmiah itu menutup orasi dengan memandang ke depan melalui skenario negatif dan positif pengarusutamaan gender di ruang publik. “Skenario negatif Indonesia Emas tidak menyertakan isu gender, yang artinya PUG sebagai amanat undang-undang tidak diperhatikan. Hal ini semakin menunjukkan paradoks perempuan dalam organisasi, aturan negara, dan imaginasi pembangunan,” tegasnya.

Berdasarkan fenomena posisi hukum dan UU yang membutuhkan penguatan dan pendampingan, anak ke dua dari empat bersaudara itu memandang kebijakan affirmative action tidak terbatas untuk isu parlemen perempuan, bahkan perlu diperluas. Menurutnya, Critical mass, keterwakilan dalam organisasi, pendidikan model ghetto, maupun integrasi, penting dalam mengangkat konteks Indonesia dalam menakar patriarkhi. “Menakar patriarkhi menjadi penting dalam imaginasi Indonesia Emas dari sisi gender,” ungkapnya.

Belajar dari negara lain, sosiologi feminis memberi gambaran tentang lemahnya representasi perempuan di Indonesia. “Pembangunan (di Indonesia) masih dilihat dari sisi ekonomi dan teknologi, pandangan positivistik-rational, dan menutup potensi lainnya,” ulasnya. “Skenario positifnya adalah, gerakan perempuan akan terus berkembang, sesuai dengan ontologinya. Selain itu sejarah, dan karakter individu seperti passion, dan enigma tetap menggarap kerja-kerja pendampingan untuk menangani kasus dan mengiringi kebijakan pro gender,” tambahnya.

Produksi teks keilmuan perlu dukungan untuk penerbitan dan diseminasinya, sebagai bahan negosiasi  konstruksi feminitas, melalui gaya subversif terhadap pekatnya konstruksi heterogender. Teks adalah upaya rekonstruksi  peran perempuan yang penting. Selain itu teks ini merupakan pengembangan kreatifitas dan juga kecenderungan prosumer dari budaya digital. Membuat imaginasi Indonesia Emas 2045 dengan memasukkan elemen gender akan menyemarakkan dan memberikan gambaran yang lebih rinci tentang masa depan Indonesia. (drs)

Sebarkan