Jakarta-Humas BRIN. “Di Indonesia tercatat 11,2% kasus pernikahan di bawah umur 17 tahun. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara ke tujuh, dengan kasus perkawinan anak terbanyak di dunia,” kata Siti Komsiah, pada BRIN Talent Scouting: Post-doctoral & Visiting Researcher Seminar (seri 5), Kamis (17/03). Dalam seminar riset yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut, ia menegaskan, jika mengacu pada data ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke dua.

“Akibat dari kasus tersebut, muncul permasalahan dengan balita stunting. Stunting dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, ketika berada pada usia produktif,” ungkap peneliti dari Universitas Padjadjaran tersebut.

Hal buruk lainnya, ia melanjutkan, perkembangan otak bayi akan terganggu. “Kecerdasan, gangguan fisik, dan metabolise tubuh menjadi tidak sempurna,” sebutnya. “Berdasarkan hasil penelitian dari ilmu kesehatan kasus tersebut tidak terlihat dalam waktu dekat, tapi terlihat setelah jangka panjang, yaitu di saat usia produktif,” paparnya.

Dikatakan Komsiah, akibat hal tersebut bonus demografi tidak termanfaatkan dengan baik, dan akan berdampak pada perekonomian negara. “Berdasarkan data Bank Dunia, dampak stunting berpotensi memberikan kerugian ekonomi sekitar 2-3% dari GDP setiap tahunnya,” jelasnya.

Salah satu tujuan dari penelitian ini, terang Komsiah, memberikan rekomendasi pendekatan intervensi dalam pencegahan perkawinan anak sesuai dengan kondisi wilayah. “Penelitian ini menitikberatkan pada aspek kesehatan, psikososial, budaya dan peran dari keluarga, serta masyarakat,” imbuhnya.

Komsiah berharap, kasus stunting ini teratasi dengan pencegahan perkawinan anak, sosialisasi terencana tentang stunting, dan terintegrasinya stakeholder, di antaranya pemerintah daerah, kelompok masyarakat, kelompok remaja, dan LSM. (ns/ ed: drs)  

Sebarkan