Jakarta – Humas BRIN, Riset dan inovasi turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karena itu, budaya riset nasional perlu dikembangkan agar bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan nasional. Untuk itu, potensi para peneliti perlu dioptimalkan, termasuk oleh para peneliti Indonesia yang ada di luar negeri.

Berdasarkan data Sekretariat Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2020, total ilmuwan diaspora di seluruh dunia ada 477 orang. Dari jumlah itu, para ilmuwan tersebar di Asia Tenggara (120 orang), Asia Timur (92 orang), Eropa (43 orang), Inggris (34 orang), Amerika dan Kanada (105 orang), Timur Tengah-Afrika (14 orang), dan Australia (70 orang).

Untuk menarik minat para diaspora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperbaiki ekosistem riset di tanah air. Salah satunya caranya BRIN sedang membangun 10 infrastruktur riset salah satunya observatorium  nasional  di Kupang Nusa Tenggara TImur.

R. Arthur Ario Lelono Plt. Direktur Manajemen Talenta BRIN mengatakan dengan perbaikan ekosistem riset ini diharapkan dapat mengundang ilmuwan berdarah Indonesia ini. “ Tahun 2022 kita akan banyak mendatangkan diaspora untuk kolaborasi riset,” kata Arthur dalam Diskusi Pembahasan dan Review Kesesuaian Pre-Phase Over RISET PRO, di The Opus Grand Ballroom, Jakarta, Senin (29/11).

Arthur juga mengajak para alumni penerima beasiswa gelar dan non gelar RISET-Pro melalui jejaringnya mengajak ilmuwan Indonesia yang berkiprah di Internasional untuk riset di negara asalnya. ”Kami harapkan alumni-alumni tetap membangun jejaring kolaborasi tersebut, dan mengajak diaspora untuk kolaborasi berbasis riset di Indonesia,” tuturnya.

Diaspora yang datang nantinya akan menjadi ketua dalam grup riset yang anggotanya telah diseleksi. Sementara tema riset kolaborasi dengan diaspora mengenai permasalahan yang dialami di dunia industri dan masyarakat.

Selain itu skema kerjasama riset yang disiapkan Manajemen talenta BRIN yaitu untuk menunjang program postdoctoral para peneliti yang telah berijazah S3. “Kegiatan ini untuk meningkatkan kematangan para peneliti dalam negeri,” ucap Arthur.

Rencana mendatangkan diaspora ini didukung Deputi Kepala Kantor Staf Presiden 2014-2019 / Senior Advisor CIPG, Yanuar Nugroho. Menurutnya kegiatan ini bagian dari penguatan kemampuan riset para peneliti dan perekayasa yang ada di Indonesia saat ini.

Yanuar mengusulkan selama lima tahun ke depan fokus pada pengembangan kapasitas para SDM Iptek. “Dalam lima tahun ke depan itu peningkatan kemampuan peneliti pada bidang-bidang strategis,” terangnya. Menurut Yanuar dalam menghasilkan talenta dalam bidang Iptek ini juga diperlukan kerjasama lintas kementerian.  Pembentukan kemampuan riset sudah harus mulai dari hulu yaitu dari bangku sekolah,  dasar hingga perguruan tinggi yang menjadi wewenang Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset Dan Teknologi.

Sebarkan