Jakarta – Humas BRIN, Pertengahan Desember 2021, Presiden RI, Joko Widodo telah menandatangani Kepres Nomor 21 Tahun 2021 tentang Gugus Tugas Manajemen Talenta Nasional (MTN). Pembentukan gugus tugas MTN ini bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia bertalenta dan berdaya saing secara global. Dalam organisasi Gugus Tugas tersebut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ditunjuk sebagai koordinator yang membidangi riset dan inovasi nasional.

MTN mempunyai tiga fokus bidang yakni riset dan inovasi, seni budaya, dan olahraga. Terkait bidang riset dan inovasi, pemerintah menargetkan adanya peningkatan rasio sumber daya manusia per satu juta penduduk yang mendapat pengakuan dari dunia internasional di bidang riset dan inovasi.

Plt. Deputi SDM Iptek – BRIN, Edy Giri Rachman Putera mengatakan, untuk menjadikan Indonesia Maju tahun 2045, dibutuhkan SDM yang berkualitas. “Agar visi Indonesia Maju 2045 yang menjadikan Indonesia sebagai negara maju, berpendapatan tinggi dengan tingkat ekonomi terbesar ke-5 dunia, maka dibutuhkan SDM yang berkualitas, produktif, dan menguasai teknologi,” kata Edy.

Untuk mengimplementasikan hal tersebut, lanjut Edy, pemerintah menyiapkan empat pilar pembangunan Indonesia 2045. Keempat pilar tersebut adalah pembangunan manusia dan penguasaan iptek, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Sebagai salah satu koordinator MTN yang bidang riset dan inovasi, dijelaskan Edy, BRIN perlu menyiapkan berbagai program yang dapat mentransformasi bakat atau minat SDM muda untuk menjadi talenta yang unggul di bidang riset dan inovasi. 

“Sebagai satu-satunya badan riset dan inovasi di Indonesia, maka BRIN bekerjasama dan bersinergi dengan stakeholder terkait perlu menyiapkan beberapa program sebagai wadah pengembangan talenta di bidang riset & inovasi,” tutur Edy.

Beberapa skema yang ditawarkan antara lain,  bersama Kemdikbud Ristek, BRIN melakukan scouting, identifikasi dan pembinaan talenta riset dan inovasi muda melalui berbagai kegiatan kompetisi ilmiah. Melalui skema ini diharapkan dapat  menumbuhkembangkan minat riset di kalangan talenta muda sejak Pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

“Untuk kalangan perguruan tinggi dan mahasiswa, program mentoring kegiatan riset dilakukan melalui skema magang riset dan magang tugas akhir bersama kelompok riset di BRIN di dua semester akhir mereka.  Skema ini dapat dilanjutkan dengan kegiatan peningkatan kritikal mass SDM periset melalui program degree by riset untuk jenjang master dan doktor,” tambahnya.

Dalam upayanya membangun ekosistem riset guna mendukung manajemen talenta, BRIN menyiapkan program mobilitas periset dalam bentuk postdoctoral maupun research fellow. Skema ini dilakukan dengan mengundang tenaga ahli dalam dan luar negeri untuk terlibat di dalam kegiatan riset di Indonesia.

Berbicara soal target, dalam jangka pendek, jelas Edy, BRIN memberikan kesempatan seluas- luasnya kepada masyarakat untuk mengikuti berbagai program yang telah ditawarkan. “Meningkatkan kualifikasi periset dan meningkatkan atau menguatkan ekosistem riset dan inovasi nasional juga menjadi target jangka pendek,” tuturnya.

“Kita menargetkan hingga tahun 2024 sesuai dengan RPJMN, bahwa SDM riset di Indonesia sebanyak 20% sudah memiliki jenjang Pendidikan S3, saat ini  hingga tahun 2022 berada di angka sekitar 15%,” lanjutnya.

Sedangkan untuk jangka menengah, target BRIN adalah mendapatkan talenta-talenta di bidang riset dan inovasi yang unggul di tingkat nasional dan mulai menguatkan jejaring/kolaborasi secara internasional. 

“Kami menargetkan bahwa ekosistem riset yang terbangun akan menaikkan kontribusi swasta dalam keterlibatan dalam dunia riset baik dari segi anggaran, maupun SDMnya berbasis kolaborasi,” jelasnya.

Target jangka panjangnya, BRIN mendapatkan talenta – talenta yang unggul di bidang riset dan inovasi yang mampu bersaing secara nasional. Mendapatkan penghargaan internasional bergengsi di bidang riset dan inovasi, seperti hadiah Nobel atau Prize lainnya

“Bonus demografi yang dimiliki Indonesia ditopang oleh SDM yang unggul yang telah disiapkan melalui skema skema manajemen talenta nasional, dapat mewujudkan masa Indonesia emas di tahun 2045,” harapnya.

Hingga saat ini program degree by research telah dinikmati oleh ASN di luar BRIN, sekitar 100 ASN.  Mereka mendapatkan bantuan studi dalam program Degree By Research dari total sekitar 457 peserta untuk jenjang S2 maupun S3.

Sejak pertengahan 2021 program ini sudah memberikan kesempatan bagi 13 orang non ASN untuk meningkatkan kapasitasnya melalui jalur Pendidikan formal S2 maupun S3 melalui kolaborasi riset. Tahun 2021 BRIN melalui program talenta riset dan inovasi, memberikan support untuk riset mahasiswa tingkat akhir sebanyak 1400 orang dari berbagai universitas di Indonesia.

“Di tahun 2022 ini dibuka lebih banyak lagi kesempatannya kepada masyarakat untuk memanfaatkan berbagai skema tersebut,” ujarnya.

Sebagai program nasional, Edy berharap, MTN  didukung secara luas, dari sisi pengelolaannya dan sinergi dengan beberapa stakeholdernya, seperti  Kemenko PMK, Bappenas, Kemendikbud Ristek, BRIN, dan mitra kerjasama lainnya baik pemerintah maupun swasta. “Diperlukan kerjasama dan sinergi yang kuat antara BRIN dengan stakeholder lainnya untuk sama-sama mengimplementasikan program manajemen talenta nasional ini khususnya di bidang riset dan inovasi ini,” harapnya. (pur)

Sebarkan