SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 180/SP/HM/BKPUK/XI/2021

Pandemi Covid-19 menciptakan fenomena meningkatnya penghobi tanaman hias dan menciptakan peluang bisnis baru. Meningkatnya hobi tanaman hias sebagai imbas dari pembatasan kegiatan di luar rumah menjadi salah satu peluang bisnis rumahan yang menjanjikan. Hal ini mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menciptakan potensi ekonomi penelitian hayati dari sisi kewirausahaan melalui riset teknologi inovasi tanaman hias. Peran riset teknologi inovasi tanaman hias ini akan dibahas secara mendalam di Webinar Talk to Scientists:
Tanaman Hias dan Peluang Inovasi di Masa Pandemi pada Selasa, 2 Oktober 2021 pukul 08.30.

JAKARTA – Dalam rangka mengurangi penyebaran pandemi Covid-19 yang sudah merebak di Indonesia sejak 2020, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan aktivitas sosial di luar rumah sebagai upaya memutus mata rantai penularan virus. Kebijakan ini tentu memiliki dampak negatif pada banyak sektor, termasuk ekonomi. Di sisi lain, pembatasan aktivitas sosial juga melahirkan banyak penghobi baru yang menekuni hobinya untuk mengatasi rasa bosan dan stres.

Sebagai dampak penerapan kegiatan pembatasan aktivitas sosial di luar rumah, kini muncul hobi yang marak di masa pandemi, salah satunya adalah hobi koleksi tanaman hias. Banyaknya masyarakat yang melirik tanaman hias sebagai hobi baru ini justru membuka peluang bisnis rumahan yang menjanjikan di masa pandemi. Hal ini semakin menjadikan sektor pertanian sebagai penyelamat kondisi ekonomi di tengah pandemi.

Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan bahwa tanaman hias memiliki pesona yang tidak pernah redup dengan selalu adanya jenis tanaman hias yang menjadi primadona setiap waktu. “Ibarat tren adibusana, jenis tanaman baru atau lama selalu mencuri perhatian para florist maupun masyarakat. Tanaman hias merupakan salah satu komoditas pertanian yang akan selalu dibutuhkan manusia baik untuk menyalurkan hobi maupun mendukung perdagangan komoditas pertanian,” ujar Nur.

Selama masa pandemi, banyak tanaman hias tropis yang masih asli diekspor melalui jalur UMKM, terutama untuk jenis-jenis herba seperti anggrek liar, Nepenthes, kelompok tumbuhan araceae, Piperaceae, Begoniaceae, Impatiens, Hoya dan Aeschynanthus dan Gesneriaceae lainnya. Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Sri Rahayu menjelaskan bahwa tren ini memang menjadi peluang mengangkat ekonomi masyarakat di masa pandemi, namun di sisi lain juga terdapat ancaman akan penurunan populasi dan larinya keuntungan tertinggi ke luar negeri, karena masyarakat melakukan perburuan langsung di hutan dan masih jarang yang melakukan budidaya dan perbanyakan.

“Titik tolak tren tanaman hias ini seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar dengan meningkatkan budidaya tanaman hias asli Indonesia, yang perlu dikelola dengan baik dan benar,agar pemanfaatan sumberdaya tanaman hias Indonesia dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat namun tetap terjaga kelestariannya,” tambah Sri.

Senada dengan Sri, Perekayasa Madya Balai Bioteknologi BRIN, Irni Furnawanthi menyampaikan bahwa pengembangan tanaman hias dengan memperhatikan potensi lokal masing-masing daerah dan meningkatnya peran digital dalam bisnis tanaman hias, memerlukan peran dari Lembaga riset untuk memberikan hasil riset dan kajian inovasinya melakukan pengembangan komoditas tanaman ini mulai dari hulu sampai hilir. “Tren ini perlu dibarengi dengan kegiatan di hulu mulai dari riset dan kajian tentang aturan kegiatan pengelolaan tanaman hias, pelestarian plasma nutfah, domestikasi, pemuliaan tanaman, budidaya, hingga kegiatan di hilir terkait dengan pembinaan startup dengan aplikasi hasil riset dari Lembaga litbang,” tutur Irni.

Peneliti Aplikasi Isotop dan Radiasi BRIN, Sasanti Widiarsih mengutarakan pendorong utama selera pasar tanaman hias adalah kebaruan (novelty). Sementara itu, mutasi spontan terjadi di alam dalam frekuensi sangat rendah. Untuk mempercepat pembaruan jenis tanaman hias, dapat dilakukan pemuliaan mutasi untuk mereplikasi kejadian di alam dengan frekuensi dan laju yang lebih tinggi, untuk menghasilkan variasi genetik yang kadang belum atau sulit diperoleh di alam.

“Teknik mutasi, terutama dengan radiasi sinar gamma telah digunakan secara luas di dunia, dan populer pada tanaman hias. Menurut database IAEA, komoditas tanaman hias menyumbang 20 % varietas mutan dunia,” jelas Sasanti.

Proses perawatan tanaman hias juga menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk mendukung hobi atau tren tanaman hias ini. Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersin BRIN, Desak Gede Sri Andayani menyampaikan bahwa Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dapat menganggu keberlangsungan pertumbuhan tanaman hias, sehingga diperlukan pemberian pestisida dari tanaman. Biopestisida merupakan agen pengendali hayati berupa metabolit sekunder yang memiliki mekanisme penghambatan terhadap patogen melalui antibiotik atau senyawa kimia yang dihasilkannya. “Biopestisida merupakan pestisida ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku hayati dan proses pembuatan yang tidak membutuhkan biaya, tekanan dan suhu yang tinggi serta produk samping yang dihasilkan dapat didaur ulang kembali menjadi produk bernilai.” ujar Desak.

Untuk mengupas potensi ekonomi riset hayati ini, BRIN akan menghadirkan narasumber ahli pada Webinar Talk to Scientist: Tanaman Hias dan Peluang Inovasi di Masa Pandemi; Dr. Sri Rahayu (Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor), Sasanti Widiarsih (Peneliti Aplikasi Isotop dan Radiasi), Dr. Desak Gede Sri Andayani (Loka Penelitian Teknologi Bersih), dan Irni Furnawanthi Hindaningrum, SP., M.Si. (Perekayasa Madya Balai Bioteknologi).

Keterangan Lebih Lanjut:
Purnomo (Hubungan Media BRIN):
Dyah R. Sugiyanto (Koordinator Komunikasi Publik BRIN): 0813-1649-2142
Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional