Jakarta – Humas BRIN. Sampah telah menjadi masalah besar di negara kita yang seringkali sulit diatasi. Deputi Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mego Pinandito menyebutkan, perlu bagi kita untuk melihat lagi lebih mendalam. “Mungkin saja ada peluang untuk menjadikan sampah sebagai produk yang bisa dicarikan alternatifnya menjadi produk lain yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi,” tuturnya.


“Secara sadar atau tidak setiap harinya kita memproduksi sampah, walaupun kita tahu sampah sebetulnya bagian yang tidak kita perlukan. Namun tiap hari volume dari sampah terus saja bertambah, bagaimana upaya kita agar sampah tersebut menjadi satu wujud yang punya nilai.” terang Mego.

Menurutnya, sampah kalau dikelola dengan baik jadi sebuah barang yang menjadi sebuah produk nilai tambah dan memiliki potensi sebagai produk yang bisa dijual bisa disebut sebagai produk ekonomi,” ungkapnya ketika memberikan sambutan sekaligus membuka Webinar Sains bertema Waste Management Maggot BSF Solusi Alternatif Pengolahan Sampah Organik yang diselenggarakan oleh Indonesia Science Center – BRIN, Sabtu (28/5).


Direktur Utama Indonesia Science Center, Ery Subada, mengatakan bahwa sampah – sampah organik tiap harinya mencapai hampir 175 ton per hari. “Kalau kita kalikan, kita bayangkan dari satu bulan bisa hampir 5,2 juta ton per bulan ini sesuatu yang sangat luar biasa. Permasalahan sampah ini tidak hanya dialami oleh negara kita, tapi hampir di semua negara juga memiliki permasalahan sampah yang sangat luar biasa ini,” ujarnya.
“Ke depan mudah – mudahan ada penemuan teknologi khususnya untuk sampah – sampah organik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga mempunyai nilai tepat guna dan nilai yang bermanfaat bagi lingkungan dan kita semua,” harapnya.


Peneliti BRIN Wahyu Purwanta dalam paparannya yang berjudul ‘Pengelolaan Sampah di Indonesia, Tantangan dan Harapan,’ mengemukakan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia saat ini masih memiliki banyak tantangan, Wahyu menyampaikan dari 41 juta ton timbunan sampah yang terkumpul dari 149 kota/kabupaten dalam satu tahun, sampah yang berhasil terkelola sebesar 43 persen, maka porsi sampah yang tidak terkelola masih lebih besar daripada sampah yang berhasil dikelola.


“Masih sedikit masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran untuk memilah sampah mulai dari rumahnya masing – masing. Sebesar 80% masyarakat Indonesia tidak memilah sampah mereka. Hal ini salah satu yang membuat sulit pengelolaan sampah di Indonesia,” ujar Wahyu.
“Pemerintah sudah membuat undang – undang mengenai pengelolaan sampah, undang – undang turunannya pun sudah banyak dibuat. Namun, sampah seringkali tidak menjadi prioritas, anggarannya untuk pengelolaannya pun tidak memadai hal ini juga mempengaruhi kemampuan kita untuk mengurangi ataupun mengelola sampah,” tutupnya.


Mengolah Sampah dengan Maggot
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Timur, Wahyudi Rudiyanto, mengungkap bahwa sampah organik mendominasi tempat pembuangan akhir sebesar 43 persen dari total jumlah sampah saat ini.

“Dalam Kebijakan strategis daerah DKI Jakarta, kita diamanatkan untuk mengurangi sampah sebesar 24 persen. Ini merupakan tantangan yang berat makanya kami butuh stakeholder yaitu masyarakat yang mempunyai keinginan untuk mengelola sampah dari sumbernya salah satunya rumah tangga,” jelasnya.


Jumlah sampah terbesar DKI Jakarta yang ditampung TPA Bantar Gebang mencapai 7.000 – 8000 ton per hari. Tinggi gunung sampah di TPA Bantar Gebang saat ini sudah mencapai 47 – 50 meter. Jakarta hanya memiliki satu TPA dan volume sampah di Bantar Gebang sudah hampir memenuhi kapasitas maksimal.


Pemkot DKI Jakarta telah mengubah pola system proses sampah yang semula, kumpul – angkut – buang telah kami ubah menjadi kumpul – pilah – olah. “Kami mulai mencoba masyarakat semua kalangan di DKI Jakarta supaya mengikuti system yang baru, ini salah satu upaya kami untuk mengatasi penumpukan yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Bantar Gebang,” ungkap Wahyudi.


Pemerintah Kota DKI Jakarta sedang mengembangkan budidaya Maggot untuk membantu mengurai sampah, Maggot merupakan larva yang dapat mengurai sampah dengan memakan material organik Larva maggot tidak menjadi media penyakit, siklus hidupnya hanya 40 hari. Larva ini dapat bernilai ekonomis karena dapat dijual sebagai pakan ternak.

Hewan ternak yang mengkonsumsi maggot hasil dagingnya akan lebih enak dan empuk. Dalam satu hari satu kilogram larva maggot bisa menghabiskan hingga tiga kilogram sampah organik setiap harinya, jika kita bisa memperbanyak penggunaan maggot akan membantu menambah jumlah sampah yang terurai setiap harinya.


“Sampah merupakan masalah kita bersama, tidak mungkin jika hanya satu pihak yang berusaha tidak akan mampu menangani masalah sampah ini,” tutup Wahyudi. (set/ ed: drs)

#ReformasiBirokrasiBRIN #ASNBerAKHLAK #ProfesionalOptimisProduktif

Sebarkan