Jakarta, Humas BRIN. Tantangan Manajemen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Masa Transisi, di ungkapkan oleh Plt. Sekretaris Utama BRIN, Nur Tri Aries Suestiningtyas yang hadir di “Di Atas Meja Makan”. Acara yang disuguhkan dalam platform podcast di kanal youtube Seleb VDVC ini di pandu oleh Indy Barends.

Nur mengungkapkan, membangun ekosistem riset perlu disertai inovasi yang kondusif di tanah air. “Bagaimana riset inovasi itu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan tentunya dengan perubahan dimulai dari permasalahan-permasalahan,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, permasalahan yang disampaikan oleh Kepala BRIN, antara lain sumber daya manusia (SDM). Di mana pada saat itu seperti di LIPI, SDM Manajemen terbebani dengan urusan administrasi. “Di dalam lembaga riset kita tidak berpikir ternyata SDM manajemen yang melayani jauh lebih banyak dari pada SDM peneliti dan itu juga terbebani dengan kerjaan administrasi. Dari situ perlu diubah tata kelola manajemen yan harus kita lakukan,” tegasnya.

“Perubahan tata kelola perlu  kita lakukan, kita jalani kemudian kita bergerak dan pergerakan itu yang paling penting adalah mengubah budaya kerja, mengubah pola pikir dan itu yang paling sulit tapi kita lakukan,” imbuh Nur.

Nur selaku Plt. Sekretaris Utama BRIN sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Utama LIPI sejak 31 Januari 2019. Ia meraih gelar Master of Arts in Internasional Studies dari Griffith University, Australia pada 1998 ini. Dirinya menceritakan dari awal bercita cita jadi PNS di lembaga riset, karena profesi zaman dulu itu menurutnya, pas untuk perempuan. Ia mengaku dirinya pun ingin menjadi peneliti. “Bergabung di lembaga riset itu menarik, nikmatnya bekerja di LIPI atau lembaga riset lain kita bekerja dengan para cendikia, ilmuwan, professor. doktor, jadi kita bisa langsung belajar,” ujarnya.

Menurut Nur, hal yang paling berkesan waktu menjadi PNS yaitu Pertama, bergabung dengan lembaga riset. Kedua, ikut menjalani suatu perubahan besar untuk lembaga riset, yaitu membangun ekosistem inovasi yang kondusif.

Perempuan berhijab itu juga menjelaskan bahwa salah satu fungsi dari Sekretaris Utama BRIN, yaitu mengkoordinasikan perencanaan program untuk membantu perencanaan Kepala BRIN. “Seperti di Kementerian membantu Menteri, sama seperti saya. Saya juga mengkoordinasikan dan memberi dukungan administratif ke seluruh lingkup di Kementerian,” bebernya.

Nur mengisahkan, LIPI juga pernah melakukan transformasi pada 2019 dilakukan perubahan struktur organisasi, karena perlu dilakukan perubahan dari permasalahan, seperti tata kelola manajamen, SDM, infrastruktur maupun anggarannya. Hal tersebut merupakan tugas dari Sekretaris Utama untuk menterjemahkan dan melakukan apa yang menjadi program perubahan. Di dalam perubahan tersebut, Kepala LIPI waktu itu, Laksana Tri Handoko juga ikut turun langsung ke lokasi dan dibantu oleh tim, seperti Kepala Biro dan lainnya.

Saat ini di BRIN sendiri memiliki kesamaan seperti halnya di LIPI, jadi semua dilakukan perubahan, seperti SDM-nya di tata ulang. “Salah satu contohnya seorang Pranata Humas, tetapi juga melakukan keuangan, hal ini harusnya tidak boleh. Sama seperti halnya seorang arsiparis mengerjakan keuangan, menjadi MC (Master of Ceremony),” ulasnya. “Karena kita mengikuti peraturan dari Kemenpan RB bahwa ASN berbasis fungsional dan professional sesuai dengan bidangnya,” tambahnya.

Nur juga memberikan tips bahwa di dalam memimpin SDM yang begitu banyak adalah kita harus berpikir, bertindak positif, dan membuka diri serta melakukan kolaborasi,” terangnya.

“Kita berharap proses transisi ini sesuai mandat pemerintah bisa selesai Agustus 2022. Kita dukung proses ini dan dibutuhkan kerja sama semua pihak,” ungkapnya. Ia juga berharap agar semua yang sudah di rencanakan di seluruh kedeputian layanan eksternal berjalan bersama dan ujungnya ekosistem semakin baik, swasta bisa terlibat, tentunya produktifitas, makin professional dan layanan semakin baik. “Tentunya produktivitas meriset itu diharapkan bisa lebih produktif, semakin professional dan pelayanannya semakin membaik,” pungkasnya.

Di akhir sesi perbincangan dengan Indy Barends, Nur berpesan untuk generasi muda bahwa dunia riset dan inovasi itu, dunia masa depan dengan kekuatan luar biasa yang dimiliki Indonesia, kekayaan alam Indonesia, dan kekayaan SDM Indonesia tidak mungkin tercapai tanpa adanya tujuan untuk itu, diperlukan riset dan inovasi. (dr/ ed: drs)

Sebarkan