Jakarta Sejak 1 September 2021, empat lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sudah terintegrasi ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Radio Elshinta melalu program dialog Power Breakfast, mewawancarai secara virtual Agus Haryono dalam jabatan yang barunya sebagai Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) BRIN, Senin (20/9). Agus sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Harian Kepala LIPI.

Pada kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa LIPI telah berintegrasi ke BRIN. “Kita dapat melihat Perpres Nomor 78 Tahun 2021 yang ditandatangani oleh Presiden dan diundangkan pada 24 Agustus 2021 lalu, dan serta 1 September 2021 seluruh jabatan struktural di empat LPNK tadi secara resmi diberhentikan dan dilantik kembali menjadi pejabat fungsional sesuai dengan fungsionalnya maisng-masing,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan pentingnya proses pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dalam BRIN. “Di masa peralihan, yang perlu diperhatikan adalah sumber daya manusia (SDM), karena lebih dari 11.000 orang dari LPNK harus dilebur menjadi satu. Kemudian proses redistribusi pegawai untuk memilih unit kerja dan lokasi yang diinginkan dan kebutuhan, serta infrastruktur, yaitu perlu menyamakan gerak di dalam pengelolaan infrastruktur,” kata Agus.

Menurutnya, apabila masing-masing LPNK masih menggunakan keegoan logo masing-masing, maka integrasikannya akan sulit. “Saya mendorong untuk kita ‘melepaskan baju’ kita masing-masing, kita ‘pakai baju yang baru’ dengan logo BRIN, maka kita akan mudah melebur menjadi satu dengan lainnya. Hal itu sudah kita mulai, kita mencoba mensosialisasikan bahwa semua yang ada di kita ini adalah entitas dari BRIN, peneliti BRIN, pejabat BRIN, dan semuanya bekerja sebagai sivitas BRIN,” ucapya.

Saat ini terjadi permasalahan tumpang tindihnya kegiatan riset diantara unit-unit litbang yang tidak hanya pada empat LPNK ini. “Nanti 44 litbang yang ada di kementerian dan lembaga akan digabungkan juga ke dalam BRIN, tumpang tindih akan mudah dihilangkan dengan menjadi satu ke dalam BRIN,” terang Agus. “Dengan menjadi ‘satu baju’ BRIN, maka pelaksanaan risetnya akan mudah dimonitor. Apabila ada tumpang tindih bisa diketahui dan dihilangkan, serta SDM dapat dengan mudah melakukan riset bersama,” sambungnya.

Menghadapi kekhawatiran para peneliti atau inovator yang berasal dari empat LPNK, Agus berpesan bahwa tidak perlu khawatir bagaimana nasib penelitian dan bagaimana cara kerjanya nanti di BRIN. “Sekarang hanya perlu ‘berganti baju’ saja menjadi BRIN, akselerasi dan kecepatan terutama dalam hal penelitian bisa dilakukan dengan cepat, karena para peneliti dan para ahli bergabung dalam BRIN. Sehingga ada kemudahan untuk berinovasi dan melakukan riset akan semakin cepat di kemudian hari,” urainya.

Selaku Kepala OR IPT BRIN, Agus menceritakan strategi OR Teknik yang melingkupi riset-riset di bidang keteknikan dasar pada 11 unit litbang pusat riset. “Yang perlu dilakukan di dalam OR Teknik adalah mendorong kualitas SDM berpendidikan S3, minimal 50% dari total SDM yang kita miliki. Kemudian mendorong agar infrastruktur riset yang ada di lokasi riset kami ini betul-betul meningkat sesuai dengan kebutuhan riset masa kini, dan tentu berjuang dengan anggaran yang ada di OR Teknik itu bisa mencukupi riset di tempat kami,” pungkasnya. (hrd, ed. adl, drs)