Jakarta – Humas BRIN. Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkeinginan kuat untuk mendapat tempat terhormat di kancah akademik global. Upaya itu diwujudkan dengan menghasilkan berbagai karya yang diterbitkan oleh jurnal internasional atau penerbit buku internasional yang bereputasi, authoritative, dan credible.

“Kita ingin memproduksi pengetahuan yang diakui dan menjadi referensi bagi masyarakat akademik di dunia. Kita tidak ingin melakukan penelitian, kemudian menerbitkan sendiri, dan pada ujungnya hanya kita sendiri yang membaca karya tersebut. Kita berharap cerita seperti itu cepat berlalu,” ungkap Kepala OR IPSH Prof Ahmad Najib Burhani.

Menurutnya, saat ini sudah ada sejumlah buku karya para peneliti OR IPSH yang diterbitkan oleh Routledge, Springer, ISEAS, NUS Press, dan sejenisnya. Namun jumlahnya perlu ditingkatkan. Najib berharap berbagai Pusat Riset (PR) yang berada di bawah Organisasi Riset (OR) IPSH bisa bersaing dengan berbagai lembaga riset internasional seperti ISEAS Yusof Ishak Institute, RSIS NTU, CSEAS Kyoto, Max Planck Institutes, dan sebagainya dalam memproduksi ilmu pengetahuan.

Dikatakan Najib, dengan terbentuknya BRIN sebagai satu-satunya lembaga riset pemerintah di tanah air, maka secara otomatis tidak ada pesaing lagi di dalam negeri. Sehingga, persaingannya saat ini bukan dengan lembaga riset independen di dalam negeri, tapi bersaing dengan lembaga-lembara riset di luar negeri. “Frame berkompetisinya hendak dialihkan ke ranah global,” ucapnya.

Untuk menggapai target itu, OR IPSH berusaha memanfaatkan berbagai skema yang disediakan oleh BRIN. Di antaranya dengan menggunakan skema research fellow dan visiting professor dari luar negeri untuk meningkatkan environment akademik di IPSH dan meningkatkan interaksi akademik yang lebih intensif antara peneliti IPSH dengan akademisi yang authoritative, credible, dan produktif.

“Salah satu yang diundang ke IPSH adalah Max Lane dari Monash University dan ISEAS Yusof Ishak Institute. Bersama-sama dengan peneliti IPSH, Max Lane akan menyusun edited-volume yang akan diterbitkan oleh penerbit internasional yang credible,” ungkap penulis buku Dilema minoritas di Indonesia: ragam, dinamika, dan kontroversi tersebut.

Selain skema yang ditawarkan oleh BRIN, OR IPSH mencoba menerapkan lima strategi lain, yaitu: Pertama, melalui Global Collaboration. Saat ini IPSH telah menjalin kerjasama dengan Leiden University, KITLV Belanda, CSEAS Kyoto University Jepang, Leeds University Inggris, ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura, Vrije Universiteit Amsterdam, Goethe Institute, dan 14 institusi akademik di Asia yang tergabung dalam konsorsium SEASIA.

Empat program direncanakan pada 2022 ini, yaitu: SEASIA conference (9-11 Juni 2022), ISEAS-BRIN Conference on Millennial Disruptions (15-16 Agustus 2022), ISEAS-BRIN Conference on New Capital Nusantara (11-12 Oktober 2022), Leiden-BRIN Writing Academy (7-10 November 2022). Setiap kegiatan ini diharapkan menjadi forum yang mempertemukan para peneliti IPSH dengan peneliti-peneliti asing yang kuat secara akademik.

“Hasil yang diharapkan dari setiap kegiatan itu adalah berbentuk edited-volume, artikel yang diterbitkan jurnal bereputasi, proceeding, dan proposal bersama untuk kegiatan tahun 2023,” ucapnya.

Kedua, melalui pembuatan desain proses penelitian di Rumah Program yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Proses ini disesuaikan agar peneliti terbiasa untuk menghasilkan artikel dalam setiap tahun penelitian. Prosesnya dimulai dengan Seminar Riset Desain yang dilakukan bulan Maret. Dengan Riset Desain yang kokoh maka peneliti bisa lebih efektif dan efisien dalam melakukan penelitian, tidak membuang waktu dan dana dalam penelitian lapangan.

Ketiga, strategi selanjutnya adalah mengadopsi sistem yang selama ini sudah dilakukan kampus tertentu, seperti FIB Universitas Indonesia (UI). Yaitu mengajukan proposal buku atau edited-volume ke penerbit internasional bereputasi seperti Springer. Proposal yang diajukan adalah berdasarkan tema-tema riset yang dilakukan para peneliti itu sendiri. Ini dilakukan agar proses penerbitan tidak hanya disupervisi oleh Pusat Riset, tapi oleh penerbit secara langsung sejak awal dari penelitian dilakukan. “Saat ini sudah ada Sembilan proposal edited-volume yang diajukan IPSH ke Springer untuk di-review,” kata Najib.

Strategi edited-volume ini juga sebagai upaya menghindari keterjebakan peneliti pada predatory journals. Dalam beberapa kasus, ketika dorong menerbitkan di jurnal dilakukan oleh beberapa lembaga pendidikan atau lembaga riset, yang terjadi justru para peneliti menerbitkan karyanya di jurnal abal-abal yang membayar sejumlah uang.

“Sesuai dengan arahan Kepala BRIN, Kita TIDAK dan TIDAK AKAN PERNAH mau membayar yang namanya Article Processing Charge (APC). Jurnal yang meminta APC, apalagi yang sampai puluhan juta, adalah salah satu indikator dari predatory journal atau jurnal abal-abal. Ada ratusan jurnal kredibel yang free of charge atau gratis,” jelas pria yang pernah mengenyam pendidikan magister dalam bidang Kajian Islam di Universitas Leiden itu. 

Keempat, perubahan frame pemahaman tentang Tunjangan Kinerja (Tukin) sebagai bentuk apresiasi dan insentif kepada peneliti yang berkarya baik. Menurutnya, tukin tidaklah sama dengan gaji yang diberikan sama jumlahnya kepada para pegawai. Tukin didasarkan pada kinerja dan seberapa baik memproduksi pengetahuan. Karena itu, yang paling berhak mendapatkan Tukin penuh adalah mereka yang berkinerja baik. “Penerapan sistem ini bisa menghindari suasana negatif bahwa berkarya atau pun tidak semua peneliti akan mendapat tukin yang sama,” ulasnya.

Kelima, mengubah website OR IPSH menjadi sepenuhnya berbahasa Inggris. Website itu diharapkan menjadi etalase bagai produksi pengetahuan yang dilakukan di IPSH dan menjadi jendela bagi para akademisi asing untuk memulai bekerjasama dengan para peneliti di IPSH. Proses perubahan website ipsh.bri.go.id menjadi berbahasa Inggris ini masih dalam proses dan diharapkan akan segera selesai. (jml/ed:drs)

Sebarkan