(Jakarta, 05/11/2021). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) saat ini tengah melakukan penelitian dengan memanfaatkan teknologi nuklir, untuk mengolah sampah plastik sekali pakai menjadi produk yang bermanfaat. Menurut Data Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia,  pada tahun 2017, jumlah timbulan sampah plastik di Indonesia mencapai 14 persen dari total timbulan sampah sebesar 65,8 juta ton per tahun. Jumlah sampah plastik ini berbanding lurus dengan permintaan plastik itu sendiri.

Permintaan sebagian besar berasal dari kemasan sekali pakai dari industri makanan dan minuman, diantaranya produk plastik polypropylene (PP) dan polyethylene (PE).  Situasi ini meningkat selama pandemi Covid-19, karena layanan pengiriman makanan dengan paket plastik juga meningkat. Di sisi lain, menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2019, Indonesia memproduksi 48,4 juta ton kelapa sawit untuk menghasilkan minyak sawit mentah. Proses ini menghasilkan 30 hingga 40 persen limbah biomassa sebagai sumber selulosa.

“Radiasi gamma dan teknologi radiasi pengion lainnya berperan penting untuk mengubah sampah plastik berbasis PP/PE dan limbah biomassa menjadi Wood Plastics Composite (WPC). Oleh karena itu, pemanfaatan sampah plastik PP/PE dan limbah biomassa sebagai bahan utama WPC dapat berkontribusi untuk mengurangi limbah di lingkungan,” ucap Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, saat memberikan sambutan pada Talkshow Paviliun Indonesia COP 26 UNFCCC, bertajuk Inovasi Pemanfaatan Teknologi Nuklir untuk Mengurangi Pencemaran Sampah Plastik.

Upaya mendaur ulang sampah plastik dengan memanfaatkan teknologi nuklir ini, lanjut Handoko, melibatkan berbagai mitra kerja sama, yakni peneliti dari BRIN dan Universitas Indonesia yang membidangi pengembangan teknologi, kajian ekonomi, dan implementasi industri. Kemudian Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), yang memiliki sistem dan fasilitas mengenai pengolahan daur ulang, serta PT. Latrade, perusahaan swasta yang sudah berpengalaman memproduksi WPC dan akan terlibat dalam pendampingan dan hilirisasi produk.

Sementara KLHK RI akan menyediakan data dan regulasi dari segi lingkungan, Kementerian Perindustrian RI yang menyediakan regulasi dalam hal legalisasi produk, dan Indonesia National Plastic Action Partnership, yang memperluas hubungan dengan kemitraan regional dan global lainnya.

Kepala ORTN (sebelumnya bernama BATAN) periode 2019 – Agustus 2021, Anhar Riza Antariksawan, mengatakan, ORTN – BRIN  bersama mitra kerja lainnya tengah melakukan penelitian terkait pengelolaan sampah plastik dan limbah biomassa yang akan dijadikan komposit. “Selanjutnya, komposit tersebut dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan beberapa produk jadi dengan memanfaatkan teknik iradiasi gamma,” tambahnya.

Di sisi lain, lanjut Anhar, ORTN – BRIN juga tengah meneliti pemanfaatan isotop sebagai perunut penyebaran mikroplastik ke pantai dan lautan.

Ia menjamin bahwa penggunaan teknologi nuklir selalu mengutamakan prinsip 3 S, yaitu safety, security, dan safeguards. “Dalam konteks penelitian ini, kami menjamin bahwa material plastik tidak akan menjadi radioaktif ataupun terkontaminasi zat radioaktif, sehingga aman digunakan untuk pengguna maupun produk itu sendiri,” tegas Anhar.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun – KLHK RI, Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama dalam mengatasi sampah plastik serta memberikan lebih banyak ruang dan kesempatan kepada peneliti, akademisi, pengusaha, dan mitra terkait untuk menemukan solusi terbaik dalam menekan sampah plastik melalui ekonomi sirkular, termasuk penggunaan teknologi nuklir.

“Jika teknologi nuklir bisa memberikan solusi yang terjangkau dan efektif untuk mengatasi polusi plastik, dapat kita manfaatkan sebagai solusi jangka menengah dan panjang,” pungkasnya (tnt).