Jakarta – Humas BRIN. Indonesia-India memiliki kerjasama yang berkembang dalam kegiatan sains dan teknologi. Sehingga perlu untuk meningkatkan intensitas dan mempererat kerja sama ini. Oleh karena itu, Duta Besar India untuk Indonesia, Manoj Kumar Bharti berkunjung untuk bertemu dengan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko di Gedung BJ Habibie Jakarta, Rabu (28/4).

Manoj mengaku senang dapat berkunjung ke kantor BRIN untuk pertama kalinya. “Selamat kepada BRIN yang telah mengkonsolidasikan semua kegiatan riset di bawah satu lembaga. Bisa dibayangkan betapa besar organisasi itu,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Manoj mengajak Indonesia untuk mengadakan Joint Committee Meeting mengenai sains dan teknologi. Dimana kegiatan tersebut seharusnya sudah dilakukan sebagai tindak lanjut MoU yang sudah disepakati sejak tahun 2018. Namun hal ini tertunda karena pandemi Covid-19.

“Saya ingin mengajak untuk kembali mengadakan Joint Committee Meeting. Ini akan menjadi langkah maju yang sangat baik dan saya ingin berhubungan langsung untuk mempercepat progres pelaksanaan pertemuan tersebut,” ucapnya.

Seperti yang sudah diketahui, lanjut Manoj, pada presidensi G20 ini, Indonesia telah memutuskan tiga pilar ini. Ketiganya berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yakni mengenai teknologi digital, energi baru terbarukan dan perawatan kesehatan. Dia pun berharap Joint Committee Meeting dapat terlaksana sebelum puncak KTT G20 pada bulan November.

“Kami juga mengharapkan Perdana Menteri kami untuk berkunjung dalam pertemuan puncak KTT G 20 pada November. Jadi saya yakin ketika ia datang ke sini, kita akan memiliki lebih banyak interaksi secara bilateral juga,” katanya.

Lebih jauh, Manoj menyebutkan terdapat sekitar 15 MoU antara Indonesia-India. Memang tidak semua kesepakatan ini relevan dengan BRIN. Salah satu kerjasama yang sedang berjalan yaitu di bidang antariksa atau luar angkasa, khususnya tentang peningkatan peralatan baru untuk stasiun luar angkasa.

Tak hanya itu, Manoj juga menanyakan mengenai progres pembangunan dan pengembangan Bandar Antariksa di Biak. India melalui Indian Space Research Organisation (ISRO) berharap dapat berdiskusi, dan juga dapat membantu BRIN dalam program peluncuran satelit di Indonesia ke depan.

“Ini akan menjadi langkah yang sangat penting dan akan sangat membantu kami dalam mengkoordinasikan kegiatan dan pelacakan satelit, pengunduhan informasi, pengunggahan informasi,” ujarnya.

Selanjutnya, Manoj juga mengusulkan untuk melakukan interaksi penelitian ilmiah tentang oseanografi di kawasan Indo Pasifik. Dia berharap BRIN, dapat mengadakan lokakarya, tentang aliran arus laut di wilayah Indo Pasifik ini.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menyampaikan pihaknya setuju untuk segera membentuk Joint Committee Meeting, sebagai tindak lanjut kesepakatan antarpemerintah. Dia pun mengusulkan agar pertemuan itu dapat diselenggaran pada bulan Oktober. Di mana pada bulan tersebut juga ada rangkaian acara Presidensi Indonesia dalam KTT G20, yaitu pertemuan pemimpin ekonomi antariksa. “Kami mengharapkan Menteri Sains dan Teknologi India untuk menghadiri pertemuan itu,” ucapnya.

Di lain sisi, terkait kerjasama dengan ISRO, BRIN sangat menghargai untuk membantu kerjasama dengan ISRO. Handoko ingin kerjasama lebih diperluas. Menurutnya, BRIN tahun ini berencana memiliki program yang lebih besar dan lebih terintegrasi untuk program luar angkasa.

Salah satu rencana BRIN adalah mengembangkan fasilitas peluncuran satelit di bandar antariksa dan salah satu kandidat lokasi yang kuat ada di Biak. Tak hanya itu, di sana juga melibatkan pengembangan teknologi roket untuk peluncuran yang lebih kecil atau semacamnya. 

“Kami sangat senang mengundang beberapa calon mitra dari India untuk bergabung dalam inisiatif ini, maka tentu saja salah satu bagian yang paling potensial adalah ISRO,” sebutnya.

Selanjutnya tentang penelitian ilmiah arus laut di kawasan asia pasifik. Handoko menyebutkan sebenarnya saat ini pihaknya sedang memperkuat riset kelautan. Hal itu dilakukan BRIN dengan mengintegrasikan banyak kapal riset. “Jadi sekarang kami memiliki setidaknya lima armada kapal riset. Mungkin kami akan memiliki satu lagi yang baru datang dalam waktu dua tahun dari sekarang,” katanya.

Handoko menjelaskan BRIN membuka semua kapal riset sebagai platform global yang dapat diakses oleh seluruh periset. “Saya pikir ini peluang yang sangat menarik untuk semua orang termasuk mitra dari India yang saya yakini untuk bergabung dengan kami dan bekerja sama,” ucapnya. (jml)

Sebarkan