Subang-Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) menerima audiensi dengan Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali dan UPN Veteran Surabaya, Kamis (10/03) secara daring.

Audiensi ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan dan ketertarikan Institut Teknologi dan Bisnis STIKOM Bali dan mitra (UPN Veteran Surabaya) untuk mendapat informasi terkait mekanisme pengajuan Program Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR) BRIN dan potensi yang mungkin dilakukan.  Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pengembangan  Inovasi, HKI, Inovasi Bisnis dan Teknologi Budaya – STIKOM, Candra Ahmadi.

Candra menngatakan, melalui audiensi ini nantinya akan bisa digali apa saja yang bisa dikerjasamakan, menyangkut potensi dan peluang.  “Pada prinsipnya STIKOM ingin berkolaborasi dengan PRTTG.  Hari ini kami disampaikan empat buah proposal yang diinisiasi STIKOM terkait PPBR tersebut,” ujarnya. 

Keempat proposal tersebut, disebutkannya, terkait budidaya propolis madu trigona (Evi Triandini), aplikasi Software as A Service (Indra Raditya), technology ugmented reality (Bagus Sabda) dan teknologi tepung telur alami (Sugiarto).

Koordinator Layanan Kerja Sama BRIN Kawasan Jabar I, Rutriana Meilisa mengatakan “PPBR merupakan sebuah program baru di Kedeputian Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN dengan pendanaan riset pro. Di dalamnya ada persyaratan, ketentuan dan pembatasan.  PPBR mensyaratkan adanya pemanfaatan hasil riset BRIN oleh start up, industri, perusahaan, atau UMKM.  Kerja Sama pemanfaatan hasil riset oleh start up (mitra), bisa dilakukan dalam dua bentuk kerja sama riset dan kerja sama lisensi,” paparnya.

Rutriana menambahkan, lisensi yang saat ini diberikan adalah ditujukan pada industri/perusahaan dan UMKM untuk memanfatkan hasil riset dan inovasi BRIN.  “Kerja Sama yang dapat dibangun dengan Perguruan Tinggi, misalnya dalam bentuk kerja sama riset, pendanaan bersama, penggunaan fasilitas infrastruktur, publikasi, dan lainnya” terangnya.

Novita Indrianti, periset sekaligus Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Proses TTG terkait pengalamannya ketika memperoleh pendanaan PPBR.  Novita menceritakan bahwa pembiayaan dari BRIN untuk calon start up diberikan kepada UMKM binaan PRTTG atas hasil riset yang telah memanfaarkan hasil riset BRIN melalui kerja sama lisensi.  Tujuannya agar UMKM tersebut tumbuh menjadi UMKM pemula yang menghasilkan keuntungan dan kesinambungan.

Novita juga mengatakan, UMKM yang memperoleh pendanaan Program PPBR adalah produk mi non gandum, yang merupakan produk hasil riset TTG. Melalui kerja sama lisensi, BRIN memfasilitasi pendampingan mulai dari penerapan teknologi prosesnya sampai dengan peralatan pencetak mie (ekstruder).  “Program PPBR mendorong peran para periset BRIN, karena itu harus ada periset di satuan kerja di BRIN yang mendukung melalui pemanfaatan hasil riset perusahaan pemula,” jelasnya. (ecp, da/ ed: drs)

Sebarkan