Serpong – Humas BRIN. Direktorat Repositori, Multimedia dan Penerbitan Ilmiah (DRMPI) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) selaku International Nuclear Information System (INIS) Liaison Officer di Indonesia melakukan kegiatan literasi informasi iptek nuklir dan basis data INIS secara daring pada Rabu (6/4). Plt. Direktur RMPI, Dwi Wiratno Prasetijo dalam sambutannya menyampaikan tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan literasi Ilmiah terhadap iptek nuklir dan pemanfaatannya di Indonesia, khususnya di lingkungan DRMPI-BRIN.

“Kami ingin mengetahui literasi nuklir agar semua teman-teman di RMPI bisa mengetahui dan memahami tentang iptek nuklir. Kami di RMPI banyak bergerak di bidang literasi dan repositori, tetapi khusus masalah informasi nuklir hanya beberapa teman saja yang paham, terutama yang sebelumnya berasal dari ex BATAN,” ungkap Dwi Wiratno.

“INIS adalah sebuah Sistem Informasi dengan cakupan
internasional yang mengorganisasikan data dan informasi iptek nuklir untuk maksud dengan jumlah naggota 132 dari perwakilan negara, dan 24 dari organisasi internasional,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini Noer’aida selaku Alternate INIS Liaison Officer di Indonesia menjelaskan bahwa Indonesia menjadi anggota INIS tidak lepas karena keanggotaan Indonesia di International Atomic Energy Agency (IAEA) sejak tahun 1958, dimana IAEA sendiri merupakan salah satu lembaga internasional dibawah koordinasi PBB. “INIS sendiri merupakan sistem informasi dengan cakupan internasional yang mengorganisasikan data dan informasi iptek nuklir untuk maksud damai,” ujar Noer’aida.

Lebih lanjut Noer’aida menyampaikan tentang pengelolaan dan pemanfaatan INIS di Indonesia, dimana kita diminta untuk menyeleksi dokumen hasil-hasil penelitian tentang iptek nuklir untuk dibuatkan katalog dengan aplikasi yang sudah disediakan. “Kemudian data yang mencakup indexing dan abstrak tersebut kita kirimkan ke IAEA untuk dicek oleh IAEA dan melalui proses komputer sampai akhirnya menghasilkan suatu produk yang bisa dilihat di website INIS,” paparnya.

“Kita berkewajiban untuk mendesiminasikannya ke pengguna di Indonesia, tujuannya tentu agar iptek nuklir dikenal diseluruh dunia termasuk Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu Peneliti Ahli Utama Organinasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN)-BRIN, Hendig Winarno menyampaikan paparan tentang iptek nuklir terutama terkait pemanfaatanya dan tujuan aplikasi teknologi nuklir bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. “Kita perlu memahami nuklir dan memanfaatkannya dalam kehidupan, karena kalau kita tidak paham, maka kita hanya akan mendengar hal-hal yang negatif saja,” ujar Hendig.

Menurut Hendig kita harus melihat nuklir dengan pandangan yang tepat agar tidak hanya terpaku pada stigma bahayanya. “Nuklir tentu saja berbahaya tetapi tidak perlu jauh-jauh ke nuklir yang mungkin masih abstrak, misalnya seperti api dari kompor gas, aliran listrik, atau pisau itu juga semua ada bahayanya. Tergantung bagaimana kita memandang, seperti apa kita melihatnya. Ketika kita butuh untuk keperluan sehari-hari, misalnya butuh gas untuk memasak, meskipun gas ada bahayanya, meskipun harga gas saat ini sedang naik, mahal, tetap saja diburu,” jelas Hendig.

Hendig menjelaskan bahwa nuklir memiliki banyak manfaat sehingga baik dari segi bahaya maupun manfaat harus dipelajari. “Berbicara tentang nuklir dan aplikasi teknologi nuklir sangat luas, diantaranya untuk kesehatan, energi, material maju, purbakala, pangan dan pertanian, peternakan, industri, tambang, dan masih banyak lagi,” tambahnya. (yrt,la/ed.my)

Sebarkan