Jakarta – Humas BRIN. Pisang merupakan komoditas strategis dalam menunjang ketahanan pangan  dan agribisnis yang banyak dikonsumsi serta memiliki pasar yang luas. Peluang usaha dengan segmentasi industri membiakkan pisang ini sangat potensial di Indonesia.

“Untuk memacu pertumbuhan wirausaha komoditi andalan ini kita dapat menggunakan teknik kultur jaringan yakni teknik memperbanyak bibit tanaman secara cepat,” ujar Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHK) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwinita Wikan Utami menyampaikan hal tersebut pada rangkaian program Berbakti untuk Negeri dalam kegiatan pembukaan “Pelatihan Kultur Jaringan Pisang bagi Kelompok Tani di Kabupaten Tangerang”, Minggu (5/6). Kegiatan ini diselenggarakan BRIN bersama Komisi VII DPR RI di Kantor UPTD Latihan Kerja Disnaker Kabupaten Tangerang.

Pelatihan ini banyak diisi dengan diskusi interaktif serta praktik pentahapan pengembangbiakan pohon pisang. Kebanyakan peserta antusias menanyakan sejauhmana kesulitan dalam melakukan teknik pembiakan pohon pisang, yang ternyata bisa menggunakan buah jantung pisang.

Anggota DPR RI Komisi VII Zulfikar Hamonangan berharap, setelah pelatihan para peserta bisa menindaklanjuti dan memperdalam pelatihan dengan lebih intens lagi. Upaya ini merupakan cara memberikan peluang bagi masyarakat untuk menekan pengangguran. “Banyak keuntungannya.  Selain membuka usaha baru, juga dapat menambah penghasilan,” harapnya.

Buah pisang memiliki banyak kandungan vitamin, mineral, dan kalium yang baik untuk kesehatan serta mengobati atau mencegah berbagai macam penyakit. Pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku membuat berbagai produk makanan, yang bisa dijadikan inovasi berbagai variasi jenis makanan.

Teknik kultur jaringan sendiri merupakan teknik mengisolasi bagian tanaman secara aseptis (steril) dan ditumbuhkan secara in vitro (dalam botol) hingga membentuk planlet (tanaman kecil). “Karena prosesnya seperti itu, maka bibit yang dihasilkan bebas dari penyakit karena steril,” ujar Ika Roostika Tambunan, Peneliti PRHK saat menjelaskan paparannya yang berjudul “Teknologi Kultur Jaringan Aplikatif pada Tanaman Pisang”.

Ia lantas menjelaskan keuntungan menggunakan teknik kultur jaringan yaitu dapat dihasilkan benih yang seragam, bebas hama penyakit tanaman, cepat berkembang, bisa produksi masal, bibit sesuai induknya, dan sebagainya.

Proses yang butuh ketelatenan dan kesabaran ini juga membutuhkan keseriusan di dalam menyediakan bahan baku, peralatan, serta media untuk menempatkan benih-benih yang sesuai dengan tahapannya masing-masing. Untuk membiakkan pohon pisang, sangat memerlukan laboratorium yang steril dan bebas dari berbagai hama tanaman. Beberapa media digunakan seperti botol – botol kecil, plastik wrap, tutup plastik, rumah kaca, dan sebagainya.

Bagaimana selanjutnya jika sudah diperoleh bibit- bibit dari hasil pembiakan melalui kultur jaringan? Jawabannya disampaikan oleh Yati Supriati, Peneliti PRHK dalam presentasi tentang “Kultur Jaringan Pisang Skala Rumah Tangga dan Budidaya Pisang”. Yati menjelaskan berbagai hal yang harus dilakukan untuk memulai suatu wirausaha penyediaan bibit tanaman buah yang berkualitas.

Ia juga membagi segmentasi usaha pengembangan pohon pisang mulai dari menentukan produksi bibit untuk skala rumah tangga atau industri, penangkaran bibit, budidaya dan produksi buah, serta pengolahan hasil.

Bagaimana dengan kebutuhan modal? Yati menjelaskan, laboratorium skala rumah tangga tidak harus diinvestasikan dalam jumlah besar tapi bisa dengan dana yang seminimum mungkin. Pemilihan komoditi pun sebaiknya bibit yang mempunyai nilai komersial  tinggi. Misalnya, jenis tanaman hias anggrek, pisang, jati, atau jenis tanaman buah yang khusus kualitasnya, dll. 

Yati juga menyarankan, bibit pisang berasal dari tanaman induk yang sehat dari kebun yang dikelola dengan baik. “Bibit pisang harus bermutu baik, sehat, bebas dari hama dan penyakit, serta bervarietas unggul,” tegasnya. (and/ ed : aps)

Sebarkan