Jakarta – Humas BRIN. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) saat ini berfokus pada pengembangan sumber daya manusia iptek.

BRIDA adalah unit baru di daerah yang menangani riset dan inovasi. Pembentukan BRIDA diinisiasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Salah satu upaya yang dilakukan BRIDA NTB ialah mengirim seribu mahasiswa untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri melalui program 1000 Cendikia NTB.

“Karena pentingnya inovasi buat kami di NTB, kami mengirimkan 1000 beasiswa ke luar negeri, 80 persennya di bidang sains dan teknologi, kami kirim untuk belajar ke Eropa Timur,” ungkap Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, saat berbagi pengalaman mengenai BRIDA di NTB, pada Talkshow Pembentukan BRIDA, di Kantor BRIN, Jakarta, Rabu (20/04).

Pada kesempatan ini, Zulkieflimansyah juga menyampaikan bahwa pemahaman mengenai riset dan inovasi, terutama di daerah, tidak melulu mesti berangkat dari invensi. Menurutnya, inovasi dapat dilakukan melalui ATM, yaitu singkatan dari Amati, Tiru dan Modifikasi.

Menurut teori, terang Bang Zul, panggilan akrabnya, harus dibedakan pendekatan model inovasi yang dapat diimplementasikan di negara maju dan negara berkembang. Di negara maju, Research and Development (R&D) berangkat dari invensi, lalu prototipe teknologi, dan komersialisasi.

“Tapi di negara berkembang, technological learning is not only R&D. Technological learning bisa dilakukan dengan learning by doing, by operating the machine, baru kita lakukan duplikasi, dan melangkah ke inovasi, atau istilah yang kita sering sebut dengan ATM atau reverse engineering. Ini lebih cocok diterapkan di daerah-daerah,” terangnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya inkubator bisnis dalam hilirisasi hasil riset dan inovasi. Menurut Zulkieflimansyah, di dalam sebuah sistem inovasi regional, sektor industri memegang peranan besar dalam pertumbuhan ekonomi.

“Kami di NTB memaknai BRIDA sebagai institusi yang memformulasi dan mengeksekusi, sehingga sistem inovasi itu dapat berjalan di daerah kami. Karena yang penting dari sistem inovasi bukan di universitas, bukan institusi riset, tapi dunia usaha. Karena akumulasi teknologi adanya di dunia usaha, kalau kita bicara soal ATM,” pungkas Zulkieflimansyah (tnt).

Sebarkan