Bandung – Humas BRIN. Ketersediaan air di Indonesia semakin berkurang seiring dengan meningkatknya populasi, berkurangnya sumber-sumber air baku, hingga pencemaran yang terjadi di lingkungan. Salah satu wilayah yang tengah mengalami krisis air bersih saat ini adalah Jakarta Utara. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. rer. nat. Neni Sintawardani menawarkan solusi alternatif krisis air bersih berupa toilet pengompos. Hal itu disampaikannya saat wawancara untuk Program OMG Trans7, Selasa (8/3).

Dijelaskan Neni krisis air bersih yang melanda sebagian wilayah di Jakarta Utara memerlukan penanganan yang cepat dan berkelanjutan. Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah menjalankan program-program penyediaan air salah satunya melalui layanan perpipaan PDAM atau perusahaan air minum yang ditunjuk. Namun krisis air bersih yang terjadi di Jakarta Utara seperti Penjaringan, membutuhkan terobosan-terobosan solusi karena sudah berlangsung cukup lama.

“Program instalasi pengolahan air berbasis sea water reverse osmosis (SWRO) mungkin saja bisa atau sudah diterapkan di wilayah Jakarta Utara. Itu berjalan baik di wilayah Kepulauan Seribu dan bisa memenuhi kebutuhan harian masyarakat,” tuturnya.

Neni juga mengamati kemungkinan terjadinya perubahan pola penggunaan air di masyarakat akibat krisis yang terjadi. Ia mengingat betul pada sekitar Tahun 1985, tatkala kesulitan air masih melanda daerah Gunung Kidul. Masyarakat di sana terbiasa untuk memanen air hujan. Mereka menampung air hujan dan memanfaatkannya sebagai salah satu sumber air bersih.

“Mengebor air tanah bisa jadi solusi jangka pendek memang, tapi menurut aturan pemda sudah dilarang,” kata Neni seraya menjelaskan Pemprov DKI Jakarta telah mengumumkan Peraturan Gubernur Nomor 93 Tahun 2021 tentang penggunaan air tanah.

Secara umum masyarakat Indonesia, kata Neni, memang amat tergantung dengan air bahkan terkadang cenderung boros. Berdasarkan studinya di Kiaracondong, Kota Bandung, rata-rata kebutuhan air yang digunakan hanya untuk BAB dan BAK mencapai 40%, di luar untuk minum. “Jika tidak dikelola dengan baik air akan menjadi masalah dunia,” sebut Neni.

Solusi Pengolahan Air
Toilet Pengompos mampu mengolah limbah kotoran manusia menjadi pupuk maupun pupuk cair. Neni menjelaskan alat ini didesain sebagai toilet duduk agar arah pembuangan dan kebersihannya dapat terjaga. Sistem pemisah memungkinkan urin dipisahkan dari tinja. Dan penggunaannya tidak memerlukan banyak air. Jika toilet konvensional bisa membutuhkan sekitar 40 liter per hari untuk bilas dan siram, toilet pengompos hanya memerlukan 5 liter air per hari.

“Di satu sisi secara teknologi sangat menjanjikan, lingkungan bisa mengatasi permasalahan kotoran, dan mengurangi penggunaan air bersih. Teknologi toilet pengompos yang diusung BRIN bisa menjadi solusi menarik untuk mengatasi krisis air bersih yang terjadi tidak hanya di Jakarta Utara tapi juga di wilayah lainnya,” ungkapnya.

Terkait dampak krisis air; dimana kualitas air yang ada berbusa dan berbau, Neni mengatakan kemungkinan air tersebut telah terkontaminasi. Bau adalah indikasi adanya kontaminan yang bisa berupa kotoran yang masuk atau merembes ke dalam saluran air. Hal ini membahayakan jika dikonsumsi masyarakat. “Saat ini paling memungkinkan adalah Reverse Osmosis,” katanya.

Pemerintah sendiri sudah menetapkan standar baku mutu air dalam PP No. 82 Tahun 2001. Standar baku mutu ini terdiri dari kelas 1 hingga kelas 4. Ada 3 parameter utama untuk menentukan kualitas air yakni: parameter fisik seperti warna, rasa, bau, suhu; parameter kimia seperti pH, kesadahan, logam terlarut; dan parameter biologi seperti total coliform dan Escherichia coli.

Menurut Neni air laut daerah sekitar Penjaringan cukup kotor sehingga perlu penanggulangan yang komprehensif. Neni berharap krisis air yang terjadi saat ini bisa segera teratasi. Ia mendorong pihak penyedia layanan air terkait untuk bisa menuntaskan permasalahan tersebut. “Ini harusnya dilindungi oleh pemerintah,” pungkasnya. (AS/ ed. KG)

Sebarkan