Surabaya-Humas BRIN. Setelah melewati uji pra klinik 1 dan 2 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kini Vaksin Merah Putih memasuki tahap Uji Klinis Fase 1. Sebanyak 90 relawan menerima Vaksin Merah Putih pada Uji Klinis Fase 1 ini. Relawan tersebut telah lolos syarat administratif dengan rentang usia antara 18 sampai 60 tahun dan belum mendapatkan vaksin dosis pertama.

Vaksin merah putih hasil kolaborasi riset antara Universitas Airlangga dengan PT Biotis Pharmaceuticals ini tergolong cepat. Vaksin ini berbasis pada virus yang dilemahkan, hampir sama seperti Sinovac. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mendukung melalui fasilitasi riset dan inovasi, yaitu pada pengujian produk inovasi kesehatan mulai dari alat kesehatan hingga vaksin.

“Adanya uji klinis ini dapat membuktikan bahwa vaksin Merah Putih ini proven secara ilmiah, tidak diragukan kebenaranya, dan proven secara regulasi. Dengan begitu masyarakat akan merasa aman menggunakan vaksin ini,” ujar Agus Haryono, Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, saat menghadiri Pencanangan Uji Klinis Fase 1 Vaksin Merah Putih, pada Rabu (9/2), di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

RSUD Dr Soetomo merupakan rumah sakit yang akan berperan dalam uji klinis Vaksin Merah Putih. Uji klinis ini akan dilakukan sebanyak 3 fase. “Jika fase pertama mendapatkan hasil yang baik, maka akan dilanjutkan dengan fase kedua yang akan melibatkan 400 orang relawan, kemudian fase ketiga akan melibatkan 5000 orang relawan,” ungkap Joni Wahyudi, Direktur RSUD Dr Soetomo saat memberikan laporanya di depan tamu undangan yang hadir.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur mengajak semua pihak turut mendukung dan mendoakan agar proses uji klinis dapat berhasil dan sukses. “Mari kita doakan bersama atas keberhasilan uji klinis ini hingga produksi secara efektif. We need strong commitment. We need strong partnership,” kata Khofifah pada sambutanya.

Khofifah menambahkan, perlu dilakukan screening kembali untuk menggerakkan relawan dari berbagai kalangan masyarakat yang belum divaksin khususnya di Jawa Timur. Selain itu, penyebaran informasi terkait update Vaksin Merah Putih perlu digalakkan di berbagai negara di dunia.

Tersertifikasi Halal

Vaksin Merah Putih telah menjadi harapan masyarakat Indonesia. “Apalagi Vaksin Merah Putih telah mendapatkan sertifikasi Halal sejak tanggal 7 Februari 2022 sampai 6 Februari 2026. Adanya sertifikasi halal ini, diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang mendapatkan vaksinasi,” tutur Mohammad Nasih, Rektor Universitas Airlangga.

Mengenai pemanfaatan Vaksin Merah Putih ini, Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI. Budi menegaskan bahwa pemanfaatan vaksin ini untuk anak-anak terutama usia 3-6 tahun, karena mereka masih belum tervaksinasi.

“Selain itu, sesuai arahan Bapak Presiden, Vaksin Merah Putih ini juga bisa dijadikan donasi dari pemerintah Republik Indonesia ke negara-negara lain yang membutuhkan vaksin halal, contohnya di Afrika,” ujar Budi. Untuk itu, Budi Gunadi mengingatkan untuk perlu dilakukan secepat mungkin registrasi ke WHO agar dapat dipastikan levelnya di tingkat Internasional.

Vaksin Merah Putih ini juga menjadi bukti kemandirian bangsa untuk tidak hanya bergantung dengan produk luar negeri bahkan Indonesia akan menjadi Donatur Vaksin. “Bertepatan dengan Indonesia sebagai Presidensi G20, Vaksin Merah Putih rasanya tepat digunakan secara internasional sebagai vaksin hibah ke negara-negara lain terutama negara muslim yang membutuhkan vaksin berlabel Halal,” pungkas Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (sao/ ed: drs)

Sebarkan