Serpong – Humas BRIN. Saat ini, kebutuhan untuk memahami sifat pengetahuan dalam konteks kegiatan riset dan inovasi sangat dibutuhkan. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Pengembangan Kompetensi – Deputi Sumber Daya Manusia dan Iptek (SDMI) membahasnya dalam Webinar Series: Knowledge Management for Research and Innovation pada Kamis (28/4).

“Kami sangat bangga BRIN telah mengkonsolidasikan sumber daya sains dan teknologi seperti periset, unit riset, fasilitas laboratorium, kapal riset, dan infrastruktur. Dengan banyaknya yang harus dikonsolidasikan, diperlukan manajemen yang baik untuk menjaga dan merawat, serta mengorganisasikan, agar BRIN terus menjadi lebih baik ke depannya,” terang Edy Giri Rachman Putra, Plt. Deputi SDMI BRIN dalam sambutannya.

Ia berharap akan tercipta kolaborasi dalam transfer knowledge atau transfer pengetahuan dari jumlah periset dan fasilitas riset, serta aktivitas dan manajemen riset yang sangat besar jumlahnya.

“Sangat penting bagi kita untuk saling berbagi pengetahuan. Adanya transfer pengetahuan tacit dari yang personel berkompeten agar bisa menjadi eksplisit. Selain untuk meningkatkan SDM profesional khususnya SDM BRIN, juga dapat menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.

Penting juga agar institusi dapat meningkatkan pemahaman agar kegiatan operasional berjalan baik dan efisien. “Kita bisa belajar knowledge management atau manajemen pengetahuan dari para pakar dari subyek nuklir atau lainnya yang dapat diaplikasikan,” pesan Edy.

Senada dengan hal tersebut, Plt. Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Sudi Ariyanto mengungkapkan pentingnya pengelolaan atau manajemen ilmu pengetahuan bagi BRIN, sebagai suatu lembaga riset.

“Pengetahuan adalah elemen yang sangat penting bagi kesuksesan suatu organisasi. Di BRIN ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang diteliti dan dikembangkan oleh aktivitas riset di BRIN, maupun di institusi yang baru bergabung ke BRIN. Kita harus menata dan mengkonsolidasikan hal tersebut dengan manajemen ilmu pengetahuan agar dapat memberikan sumbangsih yang maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, pembicara dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Ashok Ganesan, Spesialis Manajemen Pengetahuan, menjelaskan mengenai bagaimana cara untuk memunculkan dan mengembangkan program manajemen ilmu pengetahuan dan teknologi di BRIN.

“Ada empat hal yang menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam manajemen pengetahuan. Keempat hal tersebut yaitu data, informasi, ilmu pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan itu berasal dari data dan informasi. Data masih harus diolah untuk menjadi informasi, yang akhirnya pengetahuan merupakan pemahaman informasi melalui pendidikan, pengalaman dan lain-lain,” jelas Ashok.

Menurut Ashok, manajemen pengetahuan tidak dapat terlepas dari peran Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi. Ilmuwan yang berasal dari Jepang ini mengenalkan model SECI (Sosialisasi-Eksternalisasi-Kombinasi-Internalisasi). Formulasi SECI ini menggambarkan proses berkelanjutan dari pengetahuan tacit dan eksplisit. Proses ini akan menghasilkan pengetahuan baru.

“SECI model yang populer ini adalah kunci teknik pengelolaan pengetahuan. Tahapan yang pertama dimulai dengan sosialisasi, transfer pengetahuan tacit ke tacit melalui interaksi sosial,” jelas Ashok.

Pengetahuan tacit merupakan pengetahuan yang belum didokumentasikan atau pengetahuan yang masih berada di dalam diri seseorang. Pengetahuan ini berisikan pandangan, pengalaman, pemikiran, atau pembelajaran yang diterima dari pengalaman sehari-hari.

“Tahapan berikutnya adalah eksternalisasi, transfer pengetahuan tacit menjadi eksplisit melalui dokumen. Selanjutnya adalah internalisasi pengetahuan eksplisit dan kombinasi,” imbuhnya.

Sementara Jann Hidajat Tjakraatmadja, pakar sistem manajemen pengetahuan dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menyampaikan materi tentang manajemen pengetahuan 4.0 untuk riset dan inovasi, karena saat ini adalah era digital.

Menurutnya, di Indonesia inovasi belum didukung oleh manjemen pengetahuan. “Tantangan kita adalah bagaimana memadukan sumber daya alam dan kembangkan pengetahuan berbasis ekonomi. Sehingga kesejahteraan Indonesia meningkat seperti negara lain, jadi negara produsen bukan negara konsumen,” urai Guru Besar SBM ITB.

Ada kalanya muncul kegagalan dalam proyek inovasi. Permasalahan inovasi adalah permasalahan pengetahuan. “Dulu para periset tidak didukung dalam pengembangan manajemen pengetahuan. Kalau BRIN saat ini mendukung manajemen pengetahuan, itu sangat tepat karena mendukung proses inovasi,” terangnya.

Jann berpendapat bahwa inovasi lahir karena pengayaan inovasi yang baru. Inovasi pun harus sesuai dengan sasaran organisasi. “Mengutip pernyataan Kepala BRIN, bahwa budaya inovasi dapat memberikan solusi bagi umat dan memberikan ladang pahala bagi pelakunya,” sebutnya. (adl, yrt, fa, ade/ ed: adl, drs)

Sebarkan