Cibinong, Humas BRIN. Belakangan ini viral berita tentang sengatan lebah yang menimbulkan korban jiwa di Indonesia. Dikabarkan media, beberapa waktu lalu, seorang supir diserang lebah di jalan lintas Sei Hanyu – Puruk Cahu, Desa Jekatan Pari, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, saat memeriksa kendaraannya yang terhenti akibat jalan berlumpur.

Sih Kahono Peneliti Pusat Riset Biologi – Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) menjelaskan bahwa hewan yang menyengat supir tersebut bukanlah lebah melainkan tawon.

Menurutnya, dari informasi yang berkembang di media seolah-olah sudah diketahui dengan pasti jenis serangga yang menyerang korban yaitu lebah naning (Apis dorsata). “Apis dorsata adalah lebah madu dengan habitat di hutan, bersarang di cabang bagian atas pohon atau ranting bawah jika tidak ada tumbuhan besar. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa yang menyengat tawon bukan lebah, dari grup tawon vespa,” urainya.

“Untuk melihat korban disengat oleh lebah atau tawon perlu juga dilihat bekas sengatannya. Jika bekas sengatan berupa lubang tanpa ada sengat yang tertinggal maka serangga yang menyengat tersebut adalah tawon vespa. Tetapi jika ada bekas sengatan yang tertinggal serangga tersebut adalah lebah madu,” terang Kahono. Dari perkembangan informasi yang ada hingga saat ini bisa disimpulkan bahwa serangga yang menyengat tersebut adalah tawon vespa,” ungkap Kahono pada Senin (17/01).

“Kekuatan racun tawon vespa lebih kuat dari lebah. Tapi frekuensi penyengatan juga penting. Semakin sering menyengat akan semakin kuat sengatannya,” imbuhnya.

Perbedaan Tawon dan Lebah

Terdapat perbedaan antara tawon dan lebah meskipun keduanya merupakan serangga yang sekilas sama. Salah satu kesamaannya adalah sama-sama memiliki alat sengat sebagai senjata untuk mempertahankan diri.

“Berdasarkan cara hidupnya tawon dibedakan menjadi dua macam, yaitu tawon soliter dan tawon sosial. Tawon soliter merupakan tawon yang hidup sendirian hampir di sepanjang hidupnya, sedangkan tawon sosial cenderung hidup bersama-sama atau berkoloni dalam suatu kelompok besar dan mempunyai banyak anakan. Sehingga jika ada ancaman mereka akan mempertahankan koloninya dengan cara menyerang,” terang Kahono.

Tawon merupakan hewan teritorial yaitu hewan yang memiliki wilayah sendiri. Sehingga jika kita masuk ke dalam wilayahnya bisa menjadi ancaman bagi tawon. “Umumnya kita tidak merasa aktivitas kita mengganggu tawon, tetapi tawon mungkin terganggu dengan kedatangan manusia. Sehingga tawon akan mengeluarkan zat feromon sebagai tanda bahwa ada bahaya datang. Akhirnya karena untuk mempertahankan diri maka tawon menyerang kita,” jelas Kahono.

Perlu diingat, tidak semua orang yang disengat tawon akan meninggal. Kematian yang disebabkan oleh sengatan tawon jarang terjadi. Beberapa orang akan mengalami kemerahan, bengkak, dan gatal pada kulit. Efek dari sengatan serangga ini juga meninggalkan rasa yang sangat perih bahkan bisa mengalami alergi berat karena racun dalam tawon sehingga memerlukan bantuan darurat.

“Serangga seperti tawon dapat melepaskan racun melalui sengatannya. Racun tawon masuk ke dalam kelompok histamin. Racun serangga yang masuk ke dalam tubuh dapat  menyebabkan reaksi keracunan yang beragam pada setiap orang. Tingkat ketahanan  atau alergi setiap orang yang disengat berbeda-beda. Lima sengatan sudah dapat membunuh jika memiliki alergi yang tinggi,” terang Kahono

Kahono menambahkan, sifat agresif setiap jenis tawon berbeda-beda tergantung bagaimana intensitas gangguan yang terjadi pada koloni pada saat sebelumnya. Semakin sering mendapat gangguan,  tawon akan semakin agresif.

“Semakin kita melakukan perlawanan akan semakin membahayakan diri kita sendiri. Karena itu cara terbaik saat diserang oleh tawon adalah melarikan diri sejauh mungkin atau dengan membuang pakaian yang dipakai untuk menghilangkan feromon yang sudah menempel di baju,” terangnya. (ew/ ed: sl, drs)

Sebarkan