Pemanasan global adalah pemanasan jangka panjang dari sistem iklim Bumi yang diamati sejak periode pra-industri (antara 1850 dan 1900) karena aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil, yang meningkatkan tingkat gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer bumi.

Sejak periode pra-industri, aktivitas manusia diperkirakan telah meningkatkan suhu rata-rata global bumi sekitar 1 derajat Celcius (1,8 derajat Fahrenheit), angka yang saat ini meningkat sebesar 0,2 derajat Celcius (0,36 derajat Fahrenheit) per dekade.  Dari fakta tersebut tidak diragukan lagi bahwa perbuatan manusia telah menghangatkan atmosfer, lautan, dan daratan.

Untuk itu, negara-negara di dunia melakukan pertemuan di Paris yang menghasilkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang perubahan iklim.  Itu diadopsi oleh 196 Pihak pada COP 21 di Paris, pada 12 Desember 2015 dan mulai berlaku pada 4 November 2016. Tujuannya adalah untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah 2 derajat Celcius, dibandingkan dengan tingkat pra-industri. Terkait hal tersebut, negara-negara di dunia berupaya sesegera mungkin mencapai dunia yang netral iklim pada pertengahan abad.

Komitmen dan Kontribusi Indonesia kembali ditunjukkan dengan meratifikasi Perjanjian Pari di New York pada tanggal 22 April 2016, Indonesia menandatangani Perjanjian Paris di New York. Sebagai negara peratifikasi, Indonesia berkomitmen untuk melakukan upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dan bergera aktif mencegah terjadinya perubahan iklim.

Komitmen yang tertuang dalam Nawa Cita menjadi dasar bagi penyusunan dokumen the First Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia yang telah disampaikan kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada bulan November 2016. First NDC Indonesia menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan yang rendah emisi dan berketahanan iklim.

NDC dipergunakan sebagai salah satu acuan pelaksanaan komitmen mitigasi perubahan iklim dengan rencana penurunan emisi hingga tahun 2030 sebesar 29% sampai dengan 41% bila dengan dukungan internasional, dengan proporsi emisi masing-masing sektor yang meliputi: kehutanan (17.2%), energi (11%), pertanian (0.32%), industri (0.10%), dan limbah (0.38%). Sedangkan untuk adaptasi, komitmen Indonesia meliputi peningkatan ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan sumber penghidupan, serta ketahanan ekosistem dan lansekap.Dalam upaya tersebut, sesuai dengan kewajiban/komitmen negara, telah direncanakan NDC upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sebagai aksi yang terintegrasi untuk membangun ketahanan dalam menjaga sumber daya pangan, air, dan energi.

Saat ini penggunaan energi fossil terbesar ada di sektor Transportasi yang umumnya  menggunakan 99% BBM sebagai bahan bakar dan Kelistrikan yang menggunakan 59% batubara sebagai bahan bakar. Penggunaan batubara dilakukan antara lain karena  biaya produksi listrik murah, sumber energinya tersedia, biaya investasi pembangunan tidak mahal dan teknologinya memungkinkan untuk skala besar. Batubara saat ini berperan untuk menjaga harga listrik murah dan terjangkau. Selain itu, batubara juga berperan sebagai pengaman pasokan untuk listrik atau beban dasar (base load). Batubara saat ini sebagai tulang punggung pengaman penyediaan energi nasional jangka panjang. Namun perlu adanya efisiensi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan, untuk mengatasi perubahan iklim dengan menjaga kenaikan temperatur bumi.

Dalam skenario umum transisi energi di Indonesia, saat ini sebesar 75% emisi yang dihasilkan berasal dari penggunaan energi fosil. Dalam skenario transisi energi menuju net zero emission kedepannya akan bertumpu pada pembangkitan listrik energi terbarukan yang akan membawa perubahan besar dalam ketenagalistrikan, dan listrik akan menjadi pusat daripada transisi tersebut. Beberapa strategi transisi energi rendah karbon dilakukan menerapkan teknologi bersih, percepatan pengembangan energi baru terbarukan dengan kendaraan listrik, termasuk scenario menghentikan pembangunan PLTU batubara di tahun tahun mendatang kecuali yang saat ini sudah siap dibangun.

Dalam kaitan diatas, Kegiatan Webminar ini dilakukan untuk membahas sumber energi baru dan terbarukan secara umum dengan fokus isu yang dititikberatkan pada strategi pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan untuk menggantikan peranan energi fosil dalam mencapai net zero emission. Bagaimana perencanaan diversifikasi energi dilaksanakan dengan memperhatikan potensi sumber energi yang ada untuk menggantikan peranan energi fosil. Substitusi energi fosil oleh energi baru dan terbarukan perlu dilaksanakan secara realistis, serta memperhatikan komposisi sumber energi yang akan digunakan.

Selain itu, penggunaan sumber energi baru dan terbarukan juga harus memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat mengingat energi mempunyai peran utama disamping pangan yang menopang kehidupan. Kesalahan dalam melakukan diversifikasi energi yang tidak cermat akan mengakibatkan terjadinya krisis energi seperti yang akhir-akhir ini terjadi di Eropa, China, India, bahkan menyusul Amerika.

Informasi lebih lanjut hubungi :
Dr. Unggul Priyanto
(Perekayasa Ahli Utama BRIN, Kepala BPPT 2014 – 2018)
HP : 0811-1089-004