Bandung, Humas BRIN. Konsep ekonomi sirkular sangat penting dalam konteks realisasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah didengungkan beberapa tahun ini. Salah satu upaya mewujudkan konsep tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih – Organisasi Riset dan Lingkungan bekerja sama dengan Korea Green-Up menggelar seminar dengan mengusung tema “Integrated Municipal Solid Waste Management To Support Circular Economy”, Kamis (16/06).

Kepala Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRLTB), Sasa Sofyan Munawar, menyampaikan urgensi dari pengelolaan sampah. “Pengelolaan sampah kota telah menjadi perhatian global karena memiliki implikasi yang luas bagi masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan penduduk dan kemakmuran ekonomi membuat tantangan pengelolaan sampah perkotaan semakin sulit,” jelasnya.   

Didorong oleh keterbatasan sumber daya, Sasa merasa perlu adanya dukungan kerjasama dengan negara-negara yang lebih maju dalam pengelolaan sampah, salah satunya negara Korea. Korea telah dikenal dengan inovasi dan teknologi dalam Integrated Municipal Solid Waste (MSW) Management selama beberapa dekade. Indonesia sedang mencari peluang untuk mengambil langkah strategis untuk meningkatkan pendekatan ekonomi sirkular dalam Pengelolaan MSW. Ekonomi sirkular dipandang sebagai cara yang lebih menonjol untuk mengelola MSW.

“Ini memiliki spektrum yang luas yang mencakup lingkungan, sosial, kebijakan, serta ekonomi. Sehingga, seminar ini akan menjadi jembatan untuk menghubungkan ide, pengetahuan, dan tindakan tentang Pengolahan Sampah Kota untuk mendukung ekonomi sirkular,” harap Sasa.

Pada kesempatan terpisah, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Imam Hidayat mengatakan, seminar ini dijadikan ajang saling memberikan pandangan untuk kemajuan riset dalam pengembangan lingkungan. “Seminar ini memberikan pandangan-pandangan yang menginspirasi sehingga diharapkan dapat memunculkan riset-riset kolaboratif dan menjadi satu langkah kemajuan untuk pengembangan lingkungan berkelanjutan,” ungkap Iman.

Dalam webinar Indonesia – Korea Green Up ini, Byung-Ki Cheong menyampaikan bahwa terdapat tiga poin penting diselenggarakannya seminar ini, yaitu; pertama, Pengidentifikasian aturan dan isu teknologi dalam limbah padat perkotaan dalam pendekatan ekonomi sirkular dengan cara membagi informasi dan ilmu pengetahuan terkait implementasi limbah padat perkotaan di Korea yang berkelanjutan. Kedua, Mengeksplorasi kesempatan dan kolaborasi dalam penanganan limbah padat perkotaan. Ketiga, Menemukan strategi dan praktik baru dalam pengembangan green technology. Diharapkan seminar ini dapat mendatangkan rencana baru untuk mengimplementasikan permasalahan lingkungan yang semakin produktif dan berkelanjutan.

Peneliti dari PRLTB, Wahyu Purwanta menguraikan paparannya mengenai isu-isu teknis yang terkait dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia. Isu yang diangkatnya mencakup isu potensi energi sampah, pre-processing sampah, dioksin dan polutan udara, serta isu gas rumah kaca dan ekonomi sirkular.

“MSW di Indonesia memiliki potensi energi yang dapat dinyatakan dengan nilai kalori tertentu. Dalam prakteknya, diperlukan kehati-hatian dalam menghitung tingkat konversi energi. Sedangkan dalam proses pre-treatment, ada nilai optimal input dalam MSW yang akan memperbaiki kualitas bahan bakar sampah. Persoalannya adalah terdapat perbedaan antara bobot terangkut dengan bobot dalam waste burner karena proses evaporasi, bulky waste, dan leachate, sehingga diperlukan win-win solution yang menjembatani kebutuhan pemerintah daerah maupun developer,” tutur Wahyu.

Pada dasarnya, setiap kegiatan menghasilkan emisi, termasuk pengolahan sampah, terutama pengolahan sampah plastik. Beberapa plastik dapat dibakar sampai 850 derajat calcius, seperti polyehylene terephtalate yang dijadikan bahan kemasan botol dan kemasan kaca, ataupun polypropylene yang sering dijadikan sebagai bahan tupperware dan botol minuman lainnya. Dalam proses pembakaran jenis plastik seperti itu, dapat menghasilkan dioksin yang efeknya dapat menyebabkan kanker dan sistem reproduksi.

 “Isu dioksi dan polutan lainnya dapat dikendalikan oleh flue gas treatment agar dapat memenuji standar kualitas emisi. Selain itu, WTE pada umumnya memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan dengan sanitary landfills, sehingga implementasi WTE dapat dijadikan bagian dari konsep ekonomi sirkular,” ungkap Wahyu.

Berbeda dengan paparan Wahyu, peneliti lainnya dari PRLTB, Sri Wahyono yang juga menguraikan biological-based municipal solid waste treatment. Menurut Wahyoni, teknologi pengolahan sampah secara biologis, memiliki posisi penting dalam manajemen persampahan, mengingat komposisi sampah organik dari rumah tangga sangat mendominasi prosentasenya dari keseluruhan sampah di Indonesia.

“Pada intinya, setiap teknologi pengolahan sampah, membutuhkan input sampah tertentu, baik itu teknologi pengolahan sampah organik maupun sampah anorganik, baik itu yang bersifat aerobik seperti composting dan biodrying, maupun yang anaerob seperti anaerobic digestion. Dan dalam setiap proses pengolahan sampah, pemilahan merupakan jantung semua teknologi yang digunakan, terutama dalam teknologi pengolahan sampah berbasis biologis.  Teknologi pemroses sampah berbasis biologis, yang termasuk composting technology, biogas, BSF cultivation, dan biodrying, telah diterapkan di beberapa kota di Indonesia, baik untuk skala rumah tangga, regional, maupun skala kota,” jelas Wahyono.

Seminar yang diselenggarakan hybrid di Hotel Santika, ini menghadirkan pembicara dari Korea, PUPR, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, dan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. (IS/Ed:kg,pur)

Sebarkan